
Keesokan harinya, Raka tidak muncul di rumah Davina seperti biasa. Davina pun menyadari bahwa ternyata ada pesan di ponselnya dari Raka tepat pada pukul tujuh pagi.
Raka : Aku lembur semaleman, ini baru mau tidur. Makanya pagi ini gak bisa nganterin. Aku jemput aja ntar sore, boleh? PS : Jangan lupa pasang sabuk pengaman.
Davina menghela nafas. Dia bingung harus menjawab apa, sebab Raka mempelakukannya seperti seorang kekasih.
Dia butuh kespontanan Raka agar bisa mengesampingkan rasa bersalahnya pada Nikolas. Tidak perlulah ada pesan-pesan penjelasan jika dia sedang tidak bisa menjemput. Karena jika Raka bersikap begini malah membuat perasaan bersalah itu menjadi nyata. Makanya, Davina memilih untuk tidak membalas pesan Raka.
“Selingkuhannya gak jemput?” ledek Dave, begitu melihat Davina mengambil kunci mobil.
“Bodo amat, Pa!” Davina menggeruru.
Dave tertawa. Davina mendengus. Sambil berjalan menjauh, dia berkata, “Davina pergi ya, Pa.”
“Tunggu sebentar, Dav.” Dave memanggil.
Davina berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap papanya.
“Papa ada satu nasihat buat kamu.”
Davina bingung. Tumben sepagi ini Papanya sudah memberi petuah. Tapi, dia tetap menyimak.
“Nasihat apa, Pa?”
“Kalau kamu bisa ngasih beberapa kali kesempatan buat Raka, akan adil kalau kamu juga bisa ngasih kesempatan kedua buat Nikolas.”
Davina mengeluh, “Papa tuh sebentar dukung Raka, sebentar dukung Niko. Davina jadi bingung sama sikap Papa.”
Dave tertawa.
“Papa bakal dukung siapapun yang bisa bikin kamu bahagia, Dav.”
Davina terpaku. Kalimat itu meresap di hatinya.
“Bahkan kalaupun kamu gak milih dari antara keduanya…” lanjut Dave, lagi.
Davina akhirnya mengerti. Yang semua orang inginkan adalah dia memilih yang terbaik. Bahkan tidak memilih pun termasuk sebuah pilihan, asalkan dia bahagia.
Davina tersenyum, “Thanks, Pa.”
Dia pun segera beranjak keluar.
***
Davina tidak terlalu banyak kegiatan hari ini. Beberapa murid yang akan tampil di acara NararyaxEspoir sengaja diliburkan agar nantinya dapat tampil dengan fit.
Maka, setelah kelas siangnya bubar, Davina bisa menggunakan kelas untuk menari. Kemarin malam, dia melihat beberapa video tarian kontemporer di Youtube dan ingin mencobanya. Saat di Paris dulu, dia memang beberapa kali belajar menari kontemporer saat jenuh menyerang.
Dia memilih sebuah lagu.
Half a man, dari Dean Lewis.
Davina pun menari. Dia biarkan tubuhnya bergerak mengikuti setiap dentingan piano dan suara Dean Lewis yang dramatis.
But how am I supposed to love you when I don't love who I am?
And how could I give you all of me when I'm only half a man?
(Bagaimana aku bisa mencintaimu saat aku tidak bisa mencintai diriku sendiri?
Bagaimana aku bisa memberikan seluruh diriku ketika aku hanya setengah?)
Davina meresapi setiap lirik dan membiarkan lagu tersebut bernafas di tubuhnya. Dia tidak akan pernah penuh lagi untuk siapapun. Ketika dia bersama Raka, hatinya terbagi kepada Nikolas. Ketika dia bersama Nikolas, hatinya terbagi kepada Raka.
Dan mungkin, memang begitulah nanti seterusnya. Dan mungkin jika dia tidak memilih, dia tidak lagi perlu menjadi setengah untuk dua laki-laki itu.
Di tengah lagu, saat pikirannya begitu disibukkan dengan berbagai kemungkinan, pintu kelasnya diketuk.
Davina langsung berhenti menari. Dia mematikan lagu dan segera beranjak. Begitu pintu terbuka, berdirilah disana Sonia, salah satu muridnya yang harusnya sudah pulang daritadi.
“Hai, Miss Davina,” kata Sonia.
Dahi Davina mengernyit. Apalagi saat Sonia menyerahkan satu tangkai bunga mawar untuknya.
“Wow, thank you.” Davina mencoba tersenyum, meski kebingungan.
“Itu bukan dari Sonia.”
“Hm? Jadi dari siapa dong?”
“Kalau pengen tahu, Miss Davina harus ambil setiap bunga yang dipegang teman-teman.” Sonia menunjuk beberapa anak yang sudah berbaris di belakang Sonia. Dengan jarak kira-kita satu meter per orangnya.
Davina tersenyum. Ada apa ini?
Dia pun akhirnya memulai perjalanannya.
“Hai, Miss Davina.” Setiap murid menyapanya saat memberikan setangkai mawar yang mereka pegang.
“Ini dari siapa sih?” Davina bertanya, saat melihat beberapa karyawan Espoir yang tersenyum-senyum padanya.
Semua pura-pura menggedikkan bahu.
Mereka tertawa.
Davina terus berjalan.
Bahkan sampai menaiki tangga.
“Awas aja kalau kalian cuma ngerjain Miss ya,” ancam Davina kepada murid-muridnya.
“Enggak dong.” Mereka cekikikan.
Sudah hampir dua puluh tangkai yang Davina kumpulkan. Sampai akhirnya, dia tiba di lantai tiga Espoir.
“This is the last, Miss,” kata Margareth, sambil menunjuk pintu di belakangnya.
(Ini yang terakhir, Miss.)
Davina mengangguk. Dia tahu pintu di belakang Margareth adalah rooftop. Tidak ada apapun disana selain kipas AC beberapa ruangan. Kira-kira siapa yang berada di balik pintu ini sekarang?
Davina punya harapan.
Lalu, dia pun membuka pintu.
Berdirilah disana laki-laki itu.
“Hai, Dav,” sapanya.
Davina tersenyum. Jelas bukan laki-laki yang dia harapkan. Tapi sebelum membuka pintu pun, dia sebenarnya sudah tahu siapa dalang dari semua ini. Hanya saja, hati tidak akan pernah bisa berhenti berharap.
“Kok bisa disini?” Davina berjalan mendekat pada Nikolas.
“Kangen…” kata Nikolas, jujur.
Begitu tiba di hadapan laki-laki itu, Davina tersenyum lalu menggenggam tangan Nikolas hanya dengan satu tangannya.
“Makasih. Bunganya banyak.” Davina mengangkat dua puluh tangkai mawar yang didekap di tangan kanannya.
“Sama-sama.”
Davina tidak tahu harus mengucapkan apapun lagi. Begitu pun Nikolas. Maka, laki-laki itu mengambil inisiatif. Jika tidak bisa dengan kalimat, dia harus menujukkan rasa cinta dan penyesalannya melalui sebuah gesture.
Dia merengkuh tubuh mungil Davina, dan mendekapnya erat. Lama.
“I love you,” bisik Nikolas.
Davina tidak menjawab. Tapi perlahan, satu tangannya memeluk pinggang Nikolas. Dan laki-lali itu langsung merasa lega luar biasa.
Setidaknya, tidak ada lagi penolakan dari Davina untuknya.
“Nik…” Davina mulai menemukan suaranya lagi.
“Hm.”
“Kamu lihat kan sekarang? Untuk meluk kamu aja, aku cuma bisa satu tangan.”
“Iya, tapi kan karena bunga yang aku kasih.”
“Dan hatiku juga cuma bisa aku kasih setengah buat kamu.”
“Karena waktu yang aku kasih buat Raka.” Nikolas menghela nafas.
Davina tidak mengiyakan, tidak menentang.
“Aku… cuma bisa… setengah buat kamu,” kata Davina, sejujur-jujurnya, seada-adanya.
Nikolas melepas pelukannya.
Dia menatap ke dalam mata Davina, memandang wajahnya yang cantik. Dan menyadari kebenaran dari setiap kalimat Davina barusan. Sejak dulu, dia selalu tahu bahwa hanya akan mendapat setengah saja dari hati wanita itu.
Tapi, Nikolas tidak peduli.
“Then, I will give you more of me.”
(Aku bakal memberikan kamu lebih lagi dari aku.)
Davina terenyuh.
“Untuk mengkompensasi kekurangan kamu.” Nikolas tersenyum.
Airmata Davina menggenang.
Nikolas langsung menarik lagi Davina ke dalam pelukannya.
“Jangan nangis! Bukannya semua pernikahan akan seperti ini? Menerima setiap kekurangan pasangannya?” Nikolas mencium puncak kepala Davina.
“Sama kayak…. kamu… bakal nerima semua kekurangan aku.”
Kini airmata Davina tidak tertahankan lagi. Dia sudah memaafkan Nikolas…
***