
"Paspor?"
"Checked."
"Boarding pass?"
"Checked."
"Kindle buat baca novel selama perjalanan?"
"Checked."
"Rasa kangen yang guedeeee buat Elraka Aditya?"
Davina tertawa mendengar pertanyaan Raka, lalu menyahut, "Checked."
"Janji setia kepada Elraka Aditya yang gak bakal bikin kamu kesengsem sama bule Perancis?"
Davina tertawa semakin kencang.
"Checked."
Raka tersenyum puas, lalu berkata, "And you're ready to go."
(Dan sekarang kamu siap untuk pergi.)
Davina hanya tersenyum-senyum, sambil geleng-geleng kepala. Sementara keluarganya yang lain cuma bisa pura-pura muntah melihat tingkah norak Raka.
"Asli, jijik banget lihat sikap Raka yang norak banget sekarang-sekarang ini." Dave mengeluh.
"Lo baru sekarang-sekarang ini aja, Dave! Gue harus ketemu dia dari lahir, kebayang gak gimana rasanya?" Nayla menyahut.
Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak. Hari ini, mereka semua memang sengaja berkumpul di Terminal Tiga Soekarno Hatta untuk mengantarkan Davina yang akan berangkat ke Paris. Karena tempat tujuan Davina adalah sesuatu yang sangat familiar untuknya, Dave dan Diana memutuskan tidak ikut mengantarkan Davina sampai ke Paris. Mereka sadar anaknya telah mandiri. Jadi, Davina hanya akan pergi sendiri hari ini.
Mendengar celaan dari Dave dan Nayla, Raka mencibir. Davina –seperti biasa– selalu bertindak sebagai pembela Raka di keluarga ini. Dia merentangkan tangan kepada Raka seperti seorang ibu yang ingin menerima aduan dari anaknya.
Raka pura-pura cemberut, masuk ke dalam pelukan Davina lalu menyandarkan diri di bahunya.
"Mereka jahat!" Raka menunjuk Dave dan Nayla.
"Yang kamu sebut 'mereka, itu Papa aku dan Mama kamu sendiri loh." Davina menyahut, gemas, sambil mengelus-elus kepala Raka.
Raka berdiam diri selama beberapa saat di pelukan Davina. Dave menunggu. Tapi Raka tidak sadar juga.
Dia pun menarik telinga Raka, sambil berkata, "Jangan kelamaan juga meluknya!"
Raka mengaduh, tapi akhirnya, melepas juga pelukannya dari Davina.
"Pelit amat sih! Padahal Raka bentar lagi ditinggal sama pacar sendiri loh!" Raka bermisuh-misuh.
"Ya elah, dua bulan lagi, pas natal, Davina juga pulang lagi." Diana memutar bola matanya.
"Dua bulan itu lama, Ma!" rengek Raka. Pura-pura merentangkan tangan agar Diana mau menyambutnya. Tidak dapat anaknya, pelukan ibunya pun jadi.
"Anak aja gak boleh, apalagi emaknya!" Dave menjewer telinga Raka.
Semua orang langsung tertawa. Raka hanya bisa mengelus-elus telinganya yang memerah.
"Gini nih kalau udah tua, sensitif!" ledek Raka, pada Dave.
"Ejek aja Papa terus. Gak dapet restu baru tau rasa?!"
"He he he. Jangan dong."
Dave mencibir.
Davina mengamati sejenak ledek-ledekan antar keluarga itu. Betapa dia nanti akan kehilangan ini semua selama setahun ke depan!
Dan, diam-diam, Davina juga memperhatikan sikap Raka. Tenang. Kekasihnya itu menghadapi semua ini dengan sangat rileks.
Raka menyadari perhatian Davina.
"Kenapa?" bisik Raka.
"Mau ngomong berdua dulu."
"Oke."
Raka langsung berpaling kepada keluarganya, "Raka sama Davina ngomong berdua sebentar ya."
Semua mengerti. Anak-anak mereka adalah sepasang kekasih yang sedang sangat saling mencintai, namun harus segera menghadapi perpisahan jarak yang cukup lama. Mereka sadar betul kegelisahan Raka dan Davina, yang sebenarnya mereka coba tutupi sejak tadi dengan guyonan receh.
Raka dan Davina pun berjalan menjauh dari keluarga mereka sejenak. Ke sebuah tempat di balik tembok yang lumayan sepi.
"Kamu kenapa?" tanya Raka begitu mereka tak terlihat lagi oleh siapapun.
Davina mengalungkan tangannya di leher Raka, lalu mencium lembut bibir kekasihnya itu.
"Aku bakal kangen..." bisiknya di tengah-tengah ciuman mereka.
Raka tersenyum, menikmati dalam diam ciuman sebelum perpisahan tersebut selama beberapa saat. Lalu, mereka pun saling melepaskan diri dan hanya saling berpelukan dalam keheningan.
"Jangan genit-genit sama cewek selama aku gak ada," kata Davina.
"Mau genit sama cewek mana sih, Devni?" Raka terkekeh.
"Kamu mah dikelilingin banyak cewek cantik. Kamu aja yang gak sadar!" keluh Davina.
Bagaimana mungkin Raka tidak sadar? Dia hanya tidak berpikir ada wanita lain yang menarik selain Davina. Baginya, Davina selalu jadi satu-satunya.
"Kamu mau aku sadar?"
Davina terkekeh, "Enggak dong."
"Kamu tuh, yang punya track record sama bule Perancis," keluh Raka.
"Dih! Siapa coba–"
Belum sempat Davina meneruskan kalimatnya, Raka sudah mencium Davina lagi. Kali ini sedikit menuntut dan kasar. Well, ini berbeda.
Raka diam saja, malah semakin semangat menyusuri bibir Davina. Dia sampai menekan Davina ke tembok agar semakin tidak berdaya.
"Ra... ka..." Davina tidak lagi bisa berpikir lebih lanjut. Dia tahu ini adalah tempat umum dan siapapun bisa memergoki mereka kapan saja, namun dia tidak bisa menolak. Ntah tidak bisa atau tidak mau...
Namun, Davina hanya pasrah mengikuti kemauan Raka. Dia pasti akan sangat rindu dengan setiap sentuhan Raka ini.
Lalu, perlahan-lahan ciuman tersebut berubah menjadi sangat lembut. Sangat menghanyutkan. Davina sampai tidak sadar telah menjambak sedikit rambut Raka.
Raka sampai tersenyum dalam ciumannya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Raka melepaskan Davina. Dia membiarkan Davina menarik nafas sebanyak-banyaknya.
"Ka-muh keh-napah sih?"
Raka nyengir, "Biar kamu sadar bahkan bule Perancis gak bakal ada yang bisa ngalahin ciuman tadi."
Davina menatap Raka tidak percaya.
"Pacar gue emang sinting," keluh Davina.
"Kamu terjebak denganku, Devni."
"Ya ya ya."
Dan sekonyong-konyong, tangan Raka sudah melingkupi Davina. Laki-laki itu memeluknya erat.
"Makasih ya udah dukung mimpiku, Ka."
Raka hanya mengangguk. Davina pasti tahu bahwa Raka tidak akan mengulang kesalahan apapun lagi.
"Te amo, mi vida..." Raka malah membisikkan hal ini di telinga Davina.
Davina pun terkekeh.
"Aku mau ke Paris loh. Kenapa digombalin pake Bahasa Spanyol?"
"Soalnya nyebutin Bahasa Perancis susah banget."
Davina terkekeh. Mereka pun berpelukan lagi selama beberapa saat lagi. Lalu, akhirnya memutuskan untuk kembali kepada keluarga mereka, sebelum Raka dijadikan buronan oleh Dave.
Dan akhirnya, tibalah saat dimana Davina harus pergi. Seperti yang sudah-sudah, Davina memeluk seluruh keluarga satu per satu dulu. Dan menyisakan Raka di akhir.
Saat melihat wanita kesayangannya berpamitan dengan seluruh keluarga, Raka teringat pada satu waktu dimana dia melepas Davina tepat seperti sekarang. Saat Davina pertama kali ke Paris. Hatinya remuk redam kala itu.
Hatinya juga saat ini terasa remuk redam. Namun, hanya karena rindu yang sudah mengintainya begitu Davina melewati boarding gate. Kali ini dia memilih untuk tetap bersama Davina, mendukung setiap mimpinya.
Dia bahagia dengan keputusannya kali ini.
Sebab dia bukan lagi seorang pengecut yang hanya bisa lari dari long distance relationship, masalah dan semuanya.
Untunglah dia dapat berpikir jernih.
Sebab segalanya jadi tak berarti, asalkan dia tetap menjadi kecintaan Davina.
Lalu, tibalah gilirannya.
Davina sudah mulai berkaca-kaca bahkan hanya dengan berjalan mendekat pada Raka.
"Ya ampun, bakal segitu kangennya ya sama aku?" ledek Raka, sambil menyeka airmata Davina dengan lengan bajunya.
Davina hanya mengangguk, mengiyakan setiap kata-kata narsis Raka, karena memang begitulah yang akan dia rasakan. Belum berpisah saja, dia sudah rindu!
Lalu, Raka merengkuh tubuh mungil Davina.
"Cepat pulang..." bisik Raka.
"Belum juga pergi..."
"Semoga penerbangannya menyenangkan..."
"Makasih."
"Jangan lupa makan..."
"Gak pernah lagi."
"Jangan genit sama bule Perancis. Udah punya yang jauh lebih ganteng di Indonesia."
"Rakaaaa!" Davina protes. Dia tidak suka saat-saat seperti ini malah dipergunakan Raka untuk bercanda.
Raka terkekeh, lalu mencium pipi Davina.
"Jaga hati ya," bisiknya.
"Kamu juga."
"À bientôt, Devni."
"À bientôt, mon amour."
Raka mengangguk, lalu melepas Davina. Dia mengusap sekali lagi mata dan hidung Davina yang sudah berair. Lalu, dia pun membiarkan Davina melangkah menuju boarding gate. Dia melepaskan Davina kali ini.
Tapi, hanya untuk sementara.
Sampai dia kembali lagi ke pelukan Raka.
***
Te amo, mi vida \= Aku cinta kamu, sayangku (Bahasa Spanyol)
A bièntôt \= Sampai ketemu lagi (Bahasa Perancis)
***
Udah siap untuk bab terakhir? 🥲
IG : @ingrid.nadya