Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
I’m So Lost



Ini hari terakhir kita flashback.


Besok jangan lupa baca dulu Bab 47 untuk mengingatkan kembali cerita sebelum flashback ya.


Double up lagi ya hari ini. Ditunggu aja 🙂


***


Tidak ada yang lebih menyemarakkan jiwa Davina selain dua hal.


Balet dan Raka.


Dan jika dua hal itu menghilang dari hidupnya, apa lagi yang tersisa untuk Davina?


Raka adalah cinta dalam hidupnya. Meski laki-laki itu brengsek setengah mati, dia tidak bisa menyangkal sama sekali bahwa memang hanya Rakalah yang bisa mencintainya secara luar biasa. Segala keras kepalanya, egonya, sifat mementingkan perasaan sendiri selalu sebanding dengan kebahagiaan yang diberikan Raka untuk Davina. Karena dia sadar betul manusia mana yang tidak punya kekurangan?


Davina juga tidak sempurna. Dia bisa mengurutkan segala kejelekan dalam dirinya sendiri. Maka, begitulah dia ingin memahami Rakanya.


Elraka Aditya.


Laki-laki yang sudah dicintainya sejak umur belasan tahun. Yang sudah bersamanya melalui banyak hal. Yang dulu selalu memegang erat tangannya saat keadaan keluarganya memburuk. Yang mau menungguinya berlama-lama di ruang tunggu Nararya. Yang rela berjam-jam duduk di bangku penerbangan ekonomi hanya untuk memperjuangkan Davina.


Namun, dimana Raka saat semua masalah beruntun ini terjadi? Jika Davina dapat meredam egonya untuk menemui Raka sekali lagi, dan mencoba memberikan pertolongan ketika tahu apa yang sedang dihadapi laki-laki itu, kenapa Raka masih juga menolaknya? Kenapa Raka malah mengusir Davina dari apartemennya?


Davina tidak mengerti. Bahkan sudah lelah mencoba mengerti.


Sebab saat ini dia tidak punya hati sebesar itu untuk menerima penolakan Raka. Dia punya kesedihan dan kemarahannya sendiri. Hidupnya pun sedang tidak baik-baik saja.


Faktanya…


Davina sudah selesai menjalani semua jadwal fisioterapinya. Namun, kakinya masih juga tidak kembali seperti semula.


Dia mencoba berlatih. Bahkan hari ini dia meminjam satu ruangan privat di Nararya khusus untuknya. Namun, baru lima menit menari, kakinya sudah terasa nyeri luar biasa.


Davina frustasi. Dia menatap pantulan dirinya sendiri di depan berbagai cermin di hadapannya.


Matanya memanas seketika.


Dia adalah balerina yang tidak bisa menari…


Seluruh perasaan yang coba dia tahan selama ini perlahan meluruh bersama airmatanya. Davina sudah tidak tahan lagi. Segalanya yang dia miliki, kebahagiaan yang dia punya, kini terasa direnggut paksa dari tangannya.


Davina terduduk di atas lantai dan menangis dalam diam. Dia menenggelamkan wajahnya di dalam lututnya.


Ketika pertama kali dia kehilangan Raka, setidaknya dia masih punya balet untuk membuatnya tetap melangkah maju.


Kalau saja dulu dia tidak sebodoh itu menerima Raka lagi…


Kalau saja dulu dia tidak membuka hati lagi untuk Raka…


Tentu…


Tentu saja…


Hati Davina malah memblokir setiap kalimat lanjutan dalam pikirannya. Hatinya malah memaksanya untuk menjelajah ke setiap kenangan indahnya bersama Raka. Segala hal-hal kecil yang dilakukannya untuk membuat Davina merasa dicintai.


Konyol sekali…


Betapa konyolnya perasaan Davina…


Bahkan setelah dilukai berkali-kali, ditolak dan diabaikan, ternyata Davina masih begitu cintanya…


“Dav…” Suara seseorang mengagetkan Davina.


Wanita itu mengangkat wajah dan menemukan Nikolas sudah berada di hadapannya.


“Ke-kenapa lo disini?” Davina tergagap, segera mengusap airmatanya.


“Tadi Yuni nelepon. Katanya lo butuh temen.”


Davina mengutuk Yuni dalam hati.


Hatinya bahkan belum sembuh! Apa yang sebenarnya Yuni harapkan darinya?


“Gue lagi pengen sendiri, Nik.”


Nikolas hanya membisu. Matanya mengikuti setiap gerakan Davina. Ternyata dia sedang mengumpulkan barang-barangnya, ingin segera pulang dari Nararya.


Dia toh sedang tidak bisa menari, untuk apa lagi dia berlama-lama disini?


“Gue duluan, Nik…” Davina beranjak keluar dari ruangan.


“Dav…”


Langkah Davina terhenti.


Davina mencengkram tali tasnya dengan erat. Airmatanya seakan hampir mengalir lagi.


Davina memilih tidak menjawab kalimat Nikolas, hanya terus berjalan keluar, meninggalkan pria itu sendirian.


Ah… semua orang dapat menawarkan obat apapun pada Davina. Namun, dia tahu pasti siapa yang sebenarnya dapat meredakan setiap sakit di hatinya.


Dan orang itu jelas bukan Nikolas.


***


Seseorang membuka lebar-lebar tirai kamar Davina di sebuah pagi, membiarkan cahaya matahari menelusup di sela-sela kelopak matanya. Membuatnya terbangun seketika.


Saat Davina sudah terbiasa dengan cahaya, dia pun menyadari siapa yang kini sedang berkacak pinggang di hadapannya.


“Mau sampe kapan lo tidur?” Rara mengomel.


“Lo kapan pulangnya, Kak?” tanya Davina, sambil mengucek matanya.


“Baru aja nyampe. Gue cape denger Mama sama Papa Dave ngeluh tentang lo. Jadi gue mutusin untuk pulang.”


“Keysha mana?” Davina berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Sama Mama. Udah, lo gak usah ngalihin pembicaraan. Lo diapain lagi sama Raka?”


“Gak diapa-apain, Kak.”


“Udah dua minggu lo gak kontrol ke dokter, gak ke Nararya juga, cuma makan tidur makan tidur. Gak diapa-apain gimana?”


Davina menggigit bibir.


Rara duduk di sebelah Davina. Hidungnya otomatis mengernyit saat mendekat pada adiknya itu.


“Lo belum cuci rambut berapa lama?” maki Rara.


“Dua minggu.”


“ASLI!” Rara langsung menarik Davina ke kamar mandi. Dia segera mengisi bath tub Davina dengan air hangat, mencampurkannya dengan garam mandi, sabun penuh busa dan oil aroma terapi. Selesai dengan ramuannya, Rara pun menunjuk bath tub, menyuruh Davina masuk.


“Ya udah, lo keluar dong, Kak, kalau nyuruh gue mandi!” Davina protes.


“Lo gak usah malu! Buru!”


Akhirnya Davina memilih menurut karena wajah Rara tampak sangat penuh amarah.


Begitu Davina masuk ke dalam bath tub, Rara segera mengambil tempat ke dekat kepala adiknya itu. Dia mengambil sampo dan mulai memijat kepala Davina.


“Enaaaak banget, Kaaak. Lo kenapa gak jadi tukang pijet sih?” kata Davina.


“Diam lo!”


Davina terkekeh.


Rara diam selama beberapa saat. Sudah lama dia tidak memanjakan Davina seperti ini. Sejak memiliki Keysha, dia memang jadi jarang memperhatikan adik-adiknya. Dia selalu merasa bersalah soal itu. Jarak yang jauh juga jadi salah satu masalahnya. Terkadang kabar apapun jadi terlambat sampai ke telinganya. Dan sekarang keadaan kedua adiknya sangat berantakan. Satu berurusan dengan masalah hukum. Satu berurusan dengan masalah kesehatan.


“Gue tanya sekali lagi, lo kenapa sama Raka?”


Davina menghela nafas, “You will never let this go ya, Kak?”


“Enggak, sampai lo jawab gue!”


“Sekaligus bahu gue dong, Kak. Pake essential oilnya aja,” kata Davina sambil menggerakkan bahunya, kurang ajar.


“Jadi kesempatan lo ya!”


Davina terkekeh. Dan Rara mengabulkan permintaan Davina. Tangannya mulai turun untuk memijat bahu Davina.


“Lo gak usah sok kuat di depan gue, Dav.”


Davina tertawa pelan lagi. Namun, anehnya, airmatanya perlahan meleleh seiring dengan tawa lemah itu.


Pertahanannya runtuh. Sikap pura-pura kuatnya hilang seketika.


“I’m… so… lost… Kak," rintih Davina.


Rara terenyuh mendengar Davina yang mulai terisak. Adiknya itu kini telah menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Gue gak tahu lagi harus pegangan ke siapa. Gue bingung apa yang tersisa buat hidup gue yang sekarang.”


Tubuh Davina berguncang dengan hebat.


***