
Sekejap saja airmata Davina mengering.
“Apa sih maksud kamu???” Davina bertanya dengan histeris.
Raka terkekeh.
“Kamu kalau ngomong, jangan aneh-aneh!” Davina memukul bahu Raka.
Raka kini sudah tertawa lepas. Davina cepat-cepat mengusap airmatanya sendiri. Dia benar-benar terlihat seperti wanita gila saat ini. Dengan airmata yang masih menggenang, tapi juga marah-marah pada orang lain.
“Padahal, aku serius loh!” Raka tersenyum tengil, lalu duduk di sebelah Davina. Dia mengambil beberapa potong kentang, lalu menjejalkannya di mulut.
“Kata siapa, aku mau bagi makanan aku?!” Davina memukul punggung tangan Raka.
Raka cemberut, “Pelit sih…”
“Bodo amat!” Davina menjauhkan tray makanannya dari Raka.
Laki-laki itu menoleh pada counter kasir sambil mempertimbangkan apakah dia akan memesan makanan atau tidak. Dia sebenarnya tidak terlalu lapar. Apa tidak usah saja ya?
“Kamu mau mesen apa?” Davina bertanya dengan mata berbinar.
Raka langsung menyembunyikan senyumnya.
“Yang enak apa ya?” Raka pura-pura bingung. Padahal ini hanya merupakan triknya saja, untuk mengetahui kira-kira Davina ingin makan apa lagi.
“Mcflurry?” Nada Davina berharap.
“Hm, boleh sih. Oreo enak kali ya?!”
“Iya!”
Raka pun bangkit dari duduknya, lalu berkata, “Aku pesen dulu ya.”
“Gak nanya,” jawab Davina.
Raka pura-pura mengatakan, “Jangan harap kamu kebagian!”
Davina hanya balas mencibir. Terlalu gengsi untuk memberitahu Raka bahwa dia juga ingin memesan es krim.
Davina menunggu Raka selama beberapa saat, sambil lanjut menonton Titanic. Lalu, laki-laki itu muncul lagi di hadapannya.
“Ngapain sih nonton Titanic?” ledek Raka sambil menikmati es krimnya dengan gerakan dibuat-buat.
“Keberatan?! Pergi sana!”
“Nanti kalau aku pergi, kamu nangis.”
Davina mendengus. Lagi-lagi, tidak menentang, tidak pula mengiyakan.
“Aku gak suka sama Jack,” kata Raka.
Tuh kan. Davina dan Raka memang sehati.
“Kenapa?” tanya Davina, penasaran.
“I’m more of that Cal guy.”
(Aku lebih mirip sama Cal.)
Davina berpikir sejenak. Cal adalah tunangan Rose di film tersebut. Menggebu-gebu, posesif dan rela melakukan segala hal untuk kembali mendapatkan Rose. Davina langsung terkekeh saat menyadari kemiripan tersebut.
“Bener sih,” katanya.
“Hey! Kamu lagi ngehina aku ya!” Raka tidak terima.
“Egois, self centre, rela menghalalkan segala cara. Kamu beneran Cal di kehidupan nyata!”
Raka mau tidak mau setuju dengan pendapat Davina. Dia pun ikut tertawa, “Yang penting kan aku berjuang!”
“Yeah, right…” Davina meremehkan.
“Ingat-ingat yang dulu aja terus… biar gak bisa move on dari aku…” Raka tersenyum.
“Dajjal!”
“Emang!”
Davina mendengus. Raka langsung menyantap lagi es krimnya dengan gerakan dibuat-buat. Menyebalkan sekali. Davina pun segera merebut es krim dari tangan Raka. Dia balas menyantap es krim tersebut dengan gerakan yang sama.
“Enaaaaaak!” kata Davina.
Raka tidak bisa menahan senyumnya. Dia menopangkan dagunya dengan satu tangan sambil menatap Davina yang sedang menyantap es krim. Kebahagiaan Davina adalah kebahagiaannya juga. Sesederhana itu. Perasaannya senyata itu…
“I love you, Devni…”
Gerakan Davina berhenti. Dia menoleh pada Raka. Laki-laki itu hanya terus memandanginya.
“Apaan sih, Ka?” Nada Davina meninggi. Wajahnya merah, tapi bukan karena amarah.
“Kayaknya aku bisa gila kalau kamu jadi nikah sama Nikolas,” lanjut Raka, lagi.
“Ka…”
Raka hanya menggedikkan bahu. Lalu, tiba-tiba bangkit berdiri.
“Mau kemana?” tanya Davina.
“Toilet.”
Davina pun membiarkan Raka pergi.
Namun, bukannya lanjut berjalan, Raka malah berbalik lagi, “Tuh kan, kamu sedih kalau aku pergi.”
Davina terdiam.
“Devni, kata-kataku sebelumnya bohong. Kalau akhirnya kamu milih Nikolas, aku bakal menghormati keputusan kamu.”
Davina tetap membisu.
***
Selagi Raka berada di dalam toilet, Davina hanya bisa merenung. Tangannya tetap menyendokkan es krim ke mulutnya, matanya masih tetap mengarah ke layar ponsel, tapi pikirannya sudah mengembara jauh ntah kemana.
Tiba-tiba sebuah suara menyentaknya dari lamunan. Ponsel Raka yang tertinggal di atas meja, berbunyi.
Nama Jules tertera di layar.
Davina merasa seluruh badannya menjadi kaku. Lagi-lagi nama Julia berhasil membangkitkan beberapa kenangan menyakitkan.
Dia tidak pernah punya masalah dengan Julia, namun kemunculan wanita itulah yang menjadi awal kehancuran hubungan Raka dan Davina dulu. Mungkin hal itulah yang memunculkan kenangan traumatik bagi Davina.
Ingin rasanya dia menolak panggilan tersebut. Namun, siapa Davina? Apakah dia berhak melakukannya?
Dia bahkan masih berharap pada Nikolas. Kenapa saat Julia muncul, Davina malah kacau balau seperti ini?
“Jangan mikir yang berat-berat!” Raka tiba-tiba muncul lagi, sambil mengacak rambut Davina.
Davina kaget. Diam-diam melirik ke arah ponsel Raka. Layarnya sudah mati. Untunglah panggilan Julia sudah terputus!
Raka bukanlah tipe laki-laki yang sering memeriksa ponsel saat bersama orang-orang terkasihnya. Davina hanya bisa berharap bahwa Raka akan menyadari panggilan Julia nanti-nanti saja.
Semoga Julia tidak menelepon lagi…
Pikir Davina.
Pikiran yang langsung dia sesali sesaat kemudian. Memangnya kenapa kalau Julia menelepon lagi? Kenapa kalau Raka menjawab telepon wanita itu?
Davina rasanya ingin menjedotkan kepalanya ke dinding agar dia tidak perlu berpikir secara berlebihan.
“Kamu belum mau pulang?” tanya Raka. Tampaknya dia ingin mengalihkan pembicaraan dari kalimat menye-menye yang dia lontarkan sebelum pergi ke toilet. Dia tidak sadar saja bahwa perhatian Davina sudah teralih pada sebuah panggilan telepon.
Davina cepat-cepat menggeleng. Kalau mereka pulang sekarang, Raka akan segera menyadari ada telepon masuk dari Julia. Mungkin mereka masih punya waktu bertemu malam ini…
Dan Davina tidak suka itu!
“Ada tempat yang mau kamu datengin gak? Daripada di McD terus?”
“Gak ada. Disini aja.”
“Ya udah.”
Davina langsung merasa lega saat Raka kembali mengamati film Titanic di ponselnya.
“Devni, kamu nakal ya?! Nontonnya adegan Rose dilukis sama Jack mulu, diulang-ulang!”
“Enak aja! Mana ada aku ulang-ulang!”
Raka tertawa.
Mereka pun mengamati lagi film tersebut. Saat Leonardo DiCaprio mulai menggambar Rose dan kamera menyorot mata hijau yang tajam itu.
“Gak heran kenapa Leonardo DiCaprio gonta-ganti cewek mulu ya,” gumam Davina.
“Kalau nanti aku gak bisa dapetin kamu, aku mau hidup kayak Leonardo DiCaprio, ah,” celetuk Raka.
“Dih! Emang kamu siapa, hey?”
Raka tertawa. Dia pun menyandarkan punggungnya ke bangku, lalu merenung sejenak, “Kalau ada cewek yang bisa ngeyakinin aku untuk settle down… itu cuma kamu, Devni.”
“Ka…”
“Iya, iya. Aku tahu kamu cuma mau settle down sama Nikolas. Tapi, aku juga cuma mau settle down sama kamu. Dan kamu gak berhak untuk menentang sesuatu yang juga kamu lakukan!”
Davina terdiam.
Di saat-saat hening itulah, ponsel Raka berdering lagi.
Davina sekarang benar-benar kehilangan seluruh kalimatnya ketika melihat lagi nama Julia di ponsel Raka.
“Kenapa lo nelepon-nelepon gue?” tanya Raka, iseng, begitu menjawab telepon Julia.
“Lo di SCBD? Dimananya? Bareng Albert? Ya udah, ntar gue kesana deh.”
Davina mencengkram ujung bajunya sendiri. Sesuatu bergejolak di hatinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Raka membuatnya kehilangan akal.
Dan begitu Raka meletakkan kembali ponselnya, Davina langsung menatap nanar ke Raka.
Raka yang tidak mengerti sama sekali, malah dengan gampangnya berkata pada Davina, “Devni, kamu ingat Julia kan?”
“Ingat,” jawab Davina, datar.
“Kantornya dia bakal jadi investor di Creature. Kocak ya. Dunia sempit banget.”
“Iya, sempit.”
Terlalu sempit sampe datengin masa lalu suram kita…
Pikir Davina.
Raka menyadari perubahan nada suara Davina, “Kamu kenapa?”
“Aku gak suka.”
“Gak suka apa?” Dahi Raka mengernyit.
Davina menghela nafas. Memangnya dia harus menutupi perasaannya lagi? Siapa yang diuntungkan kalau dia masih terus menyimpan perasaannya?
Yang jelas, dia tidak lagi suka menyembunyikan perasaannya sendiri. Masa bodoh dengan dunia, dengan orang lain, dia hanya akan menyatakan sebenar-benarnya perasaannya.
Davina menatap mata Raka dalam-dalam, “Aku gak suka kamu deket lagi sama Julia!”
***
Maaf ya, aku libur beberapa hari 🥺