Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Sampai Hari Berganti… (2)



Hari penentuan pun tiba…


Raka menunggu kedatangan Nayla dan Azel tepat di depan Gedung Kesenian Jakarta. Dia tidak bisa menjemput orangtuanya dari Bogor karena tadinya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Seseorang menepuk bahunya sambil berkata, “Raka?”


Dia pun menoleh pada asal suara. Berdirilah di hadapannya sekarang, Jihan beserta Glenys.


“Lo datang juga?” tanya Jihan.


“Iya.” Raka nyengir. Lalu dia pun menunduk, menyamakan tinggi dengan Glenys, “Hai, Glenys!”


“Hai, Om Raka!” Glenys tersenyum malu-malu.


“Glenys hari ini nampil ya?” tanya Raka.


“Enggak, Om.” Glenys menggeleng.


Jihan mengelus kepala anaknya, “Kita datang cuma buat nonton. Siapa tahu, tahun depan Glenys bisa ikutan.”


“Pasti ikutan dong. Kan Glenys jago.” Raka mengelus kepala anak kecil itu.


Glenys langsung tersenyum sumringah.


“Jangan bilang lo udah balikan sama Davina…” Jihan tersenyum.


Raka terkekeh, “Doain aja.”


“Hah? Serius? Beneran? Waaaaah, kok lo gak bilang sih?”


“Belum. Kan gue bilang doain aja. Bisa iya, bisa enggak.”


“Kemungkinan berapa persen?”


Raka menggedikkan bahu.


“Ah, lo gak asyik!”


Raka terkekeh lagi. Tidak bisa diragukan lagi bahwa laki-laki itu sedang merasa sangat optimis.


“Eh, suami gue udah balik dari toilet. Cabut dulu ya.” Jihan menggandeng tangan Glenys, lalu berjalan menjauh. Suami Jihan tersenyum lembut kepada anak dan istrinya.


Raka memandangi keluarga kecil itu. Apakah menikah memang tidak seburuk pikirannya?


Raka cepat-cepat menggelengkan kepala. Belum diberi jawaban saja oleh Davina, dia mulai berpikiran untuk menikah. Konyol sekali!


Raka mengalihkan pikirannya dengan mengamati beberapa orang di sekitarnya.


Saat itulah… dia melihat Nikolas dan orangtuanya sedang berjalan melewati parkiran. Raka menghela nafas.


Raka tidak lagi sempat melipir karena dia berdiri di dekat pintu masuk dan Nikolas sudah bertemu mata dengannya. Dan Angel juga telah mengamati Raka sejak awal keluar dari mobilnya.


“Kamu diundang juga?” Suara sinis Angel terdengar begitu mereka tiba di hadapan Raka.


“Iya, Tan.” Raka tersenyum hanya demi kesopnanan. Tanpa dia sadari, sikapnya justru seperti menjadi bensin untuk ladang emosi Angel.


Wajah Angel langsung merah padam.


“Davina gimana sih, Nik? Kok malah ngundang orang yang udah ngancurin pernikahan kalian?” Angel memarahi Nikolas, dengan suara pelan, namun masih dapat didengar oleh Raka.


“Ma, udahlah.” Nikolas mencoba menenangkan.


“Mama gak suka kita diginiin! Maksud Davina apa? Gimana kalau ada orang yang tahu tentang ini semua?” Angel menggeram.


Raka tidak tahan lagi. Dia paling membenci jika seseorang mulai berusaha menjadi korban, ketika sebenarnya seluruh pihak memiliki kesalahan.


“Maaf, Tan. Mau sampai kapanpun juga, saya adalah keluarga Davina. Kehadiran saya disini karena saya ingin mendukung dia. Tidak ada hubungannya tentang perasaan saya.” Raka menjelaskan panjang lebar.


“Saya tidak butuh penjelasan dari kamu!”


Raka menghela nafas. Mungkin bagi Angel, orang tanpa nama keluarga yang besar tidak layak berbicara satu kata pun padanya. Namun, Raka tidak peduli. Azel memang tidak menurunkan nama keluarga yang besar untuknya, namun ayahnya selalu mengajarkan untuk selalu memperlakukan orang lain sebaik mungkin. Dia ingin mengajarkan hal itu kepada Angel.


“Saya memang salah telah menggagalkan pernikahan Nikolas dan Davina, tapi hal itu sama sekali bukan salah Davina. Dan satu lagi yang perlu Tante ingat, juga bukan salah Davina kalau calon suaminya malah memperbolehkannya dan memberi waktu kepada laki-laki lain untuk merebutnya.”


Wajah Angel semakin memerah.


Raka tersenyum. Seiblis biasanya. Sesetan yang sudah-sudah.


“Ma, udah. Ayo, masuk!” Nikolas kini sudah menarik ibunya.


***


Nayla dan Azel muncul lima belas menit setelah Nikolas dan keluarganya menghilang.


“Muka kamu kenapa kusut banget, Ka?” tanya Nayla, begitu tiba di hadapan anaknya.


“Gak apa-apa, Ma.” Raka berusaha tersenyum. Mana mungkin dia cerita pada mamanya itu bahwa dia baru saja bertemu malaikat… Tapi tipe yang bisa mencabut nyawa.


“Rara udah datang?” tanya Azel.


“Udah kok. Udah di dalam daritadi sama Abang, Papa Dave dan Mama Dee.”


“Kita mau masuk?”


“Raka nyusul.”


“Oke deh.”


Raka membiarkan kedua orangtuanya masuk duluan. Dia mengambil ponsel untuk mengetikkan pesan singkat.


Raka : 20 menit lagi, deg-deg-an?


Tidak menunggu waktu lama, pesannya sudah dibalas.


Davina : Parah. Lebih deg-deg-an dibandingin kalau nampil sendiri. Wish us luck!


Raka : Of course!


Davina : Anyway, thank you bunganya.


Raka tersenyum, seperti bocah ABG labil yang baru akil balig, saat Davina memfoto bunga pemberiannya. Dia memang sengaja memesan bunga mawar merah dari Rumah Bunga untuk dikirimkan ke backstage.


Padahal bukan Davina lagi yang tampil disini, tapi dia hanya ingin memberikan isyarat bahwa apapun yang akan Davina lakukan kelak akan selalu mendapat dukungannya.


Dukungan yang dulu lupa dia berikan, karena terlalu sibuk dengan masalahnya…


Tapi kalau Davina memilihnya, dia berjanji akan selalu memberikan yang terbaik pada wanita kesayangannya itu, apapun yang terjadi.


***


Pagelaran balet Espoir x Nararya terbilang sangat sukses. Terbukti dengan beberapa menit standing ovation yang diberikan para penonton begitu pertunjukan selesai. Davina serta Ilana sebagai pemilik dua sanggar tari yang bekerja sama, bahkan sedikit menitikkan airmata karena teramat bangga dengan murid-murid didikan mereka.


Hati Raka terenyuh saat melihat Davina yang hanya muncul di atas panggung hanya beberapa menit saja. Dulu panggung ini milik Davina.


Tapi Raka segera menghempaskan pikiran tersebut. Ini mimpi baru Davina, kebahagiaan barunya. Raka… tidak perlu merasa bersalah lagi.


Melihat wanita kesayangannya itu berdiri di atas sana. Dia bukan hanya sadar bahwa dia mencintai wanita itu dengan sepenuh hatinya, namun juga membuatnya belajar memaafkan diri sendiri.


Hanya Davina yang bisa membuatnya seperti ini. Hanya Davina yang bisa mengajarinya banyak hal seperti ini.


Ntah bagaimana dia dulu berpikir dapat melalui hidup tanpa Davina.


Begitu acara selesai, seluruh keluarganya segera menghampiri Davina. Bahkan tidak ketinggalan keluarga Nikolas.


Hanya Raka yang tetap berdiri di tempatnya, memandang Davina dari kejauhan.


Di tengah keramaian itu, mata Davina mencari seseorang. Raka sadar bahwa dialah yang dicari oleh Davina. Tapi dia menunggu. Sampai akhirnya, mata mereka bertemu.


Raka tersenyum, penuh haru.


Begitu pun Davina.


Raka tahu dia akan menang.


Raka tahu seluruh isi hati Davina masih menjadi miliknya.


Dia pulang ke apartemennya malam itu dengan perasaan optimis luar biasa. Bukan saja dia akan mendapatkan Davina kembali, dia juga sudah memaafkan diri sendiri.


Perasaan yang sungguh luar biasa.


Tanpa Raka ketahui…


Sampai hari berganti, Davina tidak juga datang padanya…


***


IG : @ingrid.nadya