Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Jangan Main Api



Davina mendengar kalimat Raka. Sejelas-jelasnya. Sebab Davina hanya duduk bersandar di pintu kamarnya.


“Let me love you, Devni.”


Kalimat itu meresap di hati Davina. Bahkan dengan alkohol yang mengalir di darahnya saat ini pun tidak bisa membuat Davina kebal dari pesona Raka.


Tak lama kemudian, dia mendengar Raka berjalan pergi dari kamarnya.


Davina mengutuk kebodohannya. Harusnya dia menikmati waktu-waktunya dengan Raka yang hanya tersisa sedikit lagi.


Dia segera melangkah ke jendela kamarnya yang mengarah ke halaman rumahnya. Terlihat Raka sedang berjalan menuju mobilnya. Ada sebersit penyesalan dan rasa tidak rela di hatinya.


Dia tidak ingin melihat Raka. Namun tidak juga ingin laki-laki itu pergi. Sungguhlah cinta itu bisa begitu rumit dan egois.


Begitu mendengar suara mobil Raka melaju keluar dari rumahnya, Davina langsung menghempaskan diri ke ranjang. Matanya perlahan terpejam.


Hal terakhir yang ingin dia lakukan saat ini adalah merindukan Raka.


***


Saat Davina terbangun di keesokan paginya, dia langsung merasa sial.


"Well done, Dav! Cuti cuma buat tidur!" maki Davina pada diri sendiri.


Davina tidak berlama-lama menghukum diri sendiri, segera melesat menuju kamar mandi. Kali ini, dia tidak boleh melarikan diri lagi. Espoir membutuhkannya. Dia harus merapikan pikirannya yang berantakan dan memfokuskan diri kesana saja.


Lagipula, hari ini jadwal berkunjung Nararya ke Espoir. Mereka ingin menyempurnakan koreografi untuk terakhir kalinya. Jadi, Davina harus datang untuk mengawasi.


Mungkin bertemu Yuni akan sedikit meruncingkan pikirannya yang akhir-akhir ini begitu tumpul hanya karena laki-laki. Seperti dia tidak punya kehidupan lain, di luar mereka saja.


Davina selalu punya balet.


Dia punya Espoir.


Namun, saat sudah mantap-mantapnya, begitu melangkah ke dapur, Davina lagi-lagi menemukan Raka yang sudah duduk bercengkrama dengan Diana dan Dave.


“Davina, yuk sarapan dulu. Ini Raka bawain nasi uduk.” Diana melambai pada Davina.


Wajah Davina berubah kesal. Bagaimana mungkin dua musuh terbesarnya ada di ruang makannya saat ini. Yaitu, perasaannya pada Raka dan karbohidrat kompleks.


“Davina gak lapar, Ma.”


“Icip aja dikit sini. Kamu jangan takut banget gendut dong, Dav.” Diana mengingatkan.


Davina tetap menggeleng. Terkadang dia menyesal kenapa begitu mendengar seluruh kalimat Nikolas dan Angel daridulu. Sekarang, dia jadi terbiasa untuk menolak makanan enak.


Dia menoleh pada Raka.


“Kamu ngapain disini?” tanyanya.


“Nganterin kamu, kan?” Raka tersenyum miring. Setan memang kalau dikasih jantung, jadi minta kikil, paru dan hati!


Karena Davina mengiyakannya satu kali kemarin, Raka jadi ngelunjak.


Dave dan Diana pun menoleh pada Davina, mengamati ekspresi anak perempuan mereka itu. Saat mengira bahwa Raka akan mendapat penolakan yang tegas, Davina malah mengangguk.


“Ya udah, yuk! Aku buru-buru! Pergi ya, Pa, Ma.” Davina segera berjalan keluar dari ruang makan. Raka menurut dan segera berlari mengejar Davina setelah berpamitan pada Dave dan Diana.


Begitu Raka dan Davina menghilang sepenuhnya, Dave dan Diana saling berpandangan.


“Anak kamu kenapa, Dave?” tanya Diana.


Dave menggedikkan bahu.


“Gimana kita ngadepin keluarga Tedjakusuma kalau pernikahan Davina dan Nikolas benar-benar batal?” Diana kebingungan.


Bukannya membantu istrinya berpikir, Dave malah mengangkat sendok dan makan lagi.


“Kebahagiaan Davina lebih penting dari apapun, Diana.”


Diana menghela nafas, “Aku tahu. Tapi aku yakin nanti Mamanya Nikolas pasti ngejelek-jelekin Davina.”


“Makanya, mendingan besanan sama Azel kan?” Dave menggoda.


Diana melotot, memukul suaminya, “Kamu mau tidur di sofa malam ini?”


Dave tertawa, “Tega amat nyuruh kakek-kakek tidur di sofa butut.”


***


Di sepanjang perjalanan, lagi-lagi Davina hanya diam. Dia tidak tahu juga harus mengobrol apa dengan Raka. Yang dia inginkan hanyalah berada di sisi Raka selama mungkin.


Begitu mobil sudah hampir mencapai Espoir, Raka bertanya, “Nanti pulang jam berapa?”


“Lima.”


“Aku jemput ya.”


“Emang gak kerja?”


“Bisa diatur.”


“Oke.”


Dan segampang itu, mereka membuat janji bertemu lagi.


Mobil pun berhenti tepat di depan Espoir.


Sebelum Davina melangkah keluar dari mobil, Raka memanggilnya.


“Apa?” tanya Davina.


Davina mengangguk. Lalu dengan terburu-buru keluar dari mobil Raka.


Davina berjalan cepat-cepat, sebab dia tidak bisa mengontrol ekspresi dan irama jantungnya. Dia mengutuk dirinya sendiri. Apakah sebenarnya saat ini dia sedang menggali kuburannya sendiri?


***


Anak didik Espoir dan Nararya berkumpul di satu ruangan. Penampilan pertama dan kedua masih ada beberapa catatan baik dari Davina dan Yuni. Namun begitu penampilan ketiga, anak-anak didik mereka sudah semakin matang.


“Good job, guys! Kita ulang dua kali lagi ya biar perfect!” Yuni menyemangati semua anak didik mereka.


Musik kembali diputar. Mereka mulai menari lagi. Tiara, anak murid kebanggaan Davina, mulai meliuk-liuk dengan anggun.


“Gila! Tiara sih anak didik lo banget! Teknik mantep, feelnya dapet banget!” Yuni terpukau.


“Gurunya siapa dulu.” Davina menyombong.


Yuni mencibir.


Lalu Ivan, anak didik Yuni pun ikut menari.


“Ivan juga jadi jago banget ya, Yun.” Davina memuji dengan tulis.


“Gurunya siapa dulu.” Yuni mengulang kalimat Davina.


Davina melirik Yuni dengan tatapan meremehkan. Tak lama kemudian, mereka pun tertawa.


“Berasa tua gak sih, Dav? Padahal yang perform bukan kita lagi ya, tapi rasa senang dan bangganya itu dua kali lipat kayaknya.” Yuni merenung.


“Iya, gue juga ngerasanya gitu.” Davina mengiyakan.


Mereka mengamati lagi penampilan murid-murid di hadapan mereka untuk sejenak.


“Pernah kangen Paris gak sih, Dav?” tanya Yuni, tiba-tiba.


Davina terkekeh. Lalu menggeleng pelan.


“Gak pernah,” katanya.


Yuni menoleh, mencoba meneliti ekspresi Davina. Tapi dia tidak menemukan kebohongan disana.


Sebab…


Bagi Davina, Paris adalah segala bentuk mimpi dan cita-citanya yang gagal, serta jadi tempat yang paling mengingatkannya tentang betapa menyakitkan sekaligus membahagiakannya dicintai oleh Raka.


***


Davina dan Yuni berjalan ke luar dari Espoir setelah semua anak didik mereka selesai berlatih.


“Mau ngopi atau makan dimana dulu gak, Dav?” tanya Yuni.


“Enggak deh. Sorry, Yun.”


“It’s okay. Ada acara lain ya?”


“Gak ada kok. Lagi pengen di rumah aja. Ngumpulin tenaga biar nanti bisa jadi cheerleader anak-anak.”


Yuni mengangguk, mengerti.


“Lo pulang sama siapa?” tanya Yuni.


Meski Yuni adalah juga teman Nikolas, Davina tidak ingin berbohong. Tapi dia juga malas mengucapkan nama laki-laki yang akan menjemputnya.


Seperti tidak cukup besar saja kekacauan yang ditimbulkan Raka di hari pernikahannya.


Lalu, tepat saat itulah, mobil Raka berhenti di depan Espoir.


“Tuh, supirnya udah datang.” Davina menunjuk Raka.


Yuni tertegun.


“Dav…” Yuni terlalu speechless untuk dapat berkata-kata.


“I know…” Hanya itu yang bisa dikatakan Davina.


“Ya udah, aku pergi dulu ya, Yun?” Akhirnya Davina pamit.


“Bentar, Dav…” Yuni menahan tangan Davina.


“Hm?”


“Jangan main api.” Yuni mengingatkan.


Davina balas mengamati Yuni sepersekian detik. Yuni tersadar, lalu melepas tangan Davina.


“Thanks, Yun, buat nasihatnya. Gue pergi dulu ya.”


Yuni mengangguk dan membiarkan Davina masuk ke dalam mobil Raka.


Sepeninggal Davina, Yuni hanya bisa menggaruk kepala sambil menatap layar ponselnya.


“Lapor Nikolas atau enggak ya?” gumamnya.


Lalu, dia menghentikan niatnya. Lebih baik dia tidak usah ikut campur di antara kisah cinta yang pelik ini.


***


IG : @ingrid.nadya