Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
72



Seorang penjaga mengantar Damian ke sebuah ruangan yang ada di lantai bawah bangunan pertama , bangunan dengan ukuran paling kecil di antara lainnya . Lantai dasar bangunan pertama digunakan untuk gudang makanan sekaligus dapur umum , sedang di lantai dua terdapat gudang senjata milik para tentara bayaran .


Suasana remang lantai bawah membuat siapapun bergidik ketika memasukinya , hanya satu lampu tergantung ditengah ruangan . Tidak bersekat dan terdapat banyak sekali alat yang tergantung hampir di setiap sisi dinding . Ditengah ruangan terdapat tiga orang pria yang duduk terikat diatas kursi kayu , jika dilihat terdapat sedikit lebam di masing masing wajah mereka .


Dengan tenang Damian berdiri di depan ketiga pria yang menatapnya nyalang , mulut mereka yang tersumpal seakan ingin meneriakkan sesuatu .


" Kalian tahu kenapa kalian bisa berada di tempat ini ? Tidak usah khawatir ... Aku bukan pria pengecut yang akan menyakiti b*jingan yang sedang terikat seperti kalian saat ini " Damian memandang salah satu orangnya seakan meminta orang itu untuk menyikapi perkataannya . Bahwa dia tidak akan berbicara pada orang dalam keadaan tangan terikat .


Dengan segera salah satu penjaga itu membuka ikatan tangan dan kaki ketiga pria itu , sebelum berdiri mereka terlihat memutar pergelangan tangan yang terasa pegal setelah hampir seharian duduk dengan tangan terikat .


" Aku tidak mengenalmu Tuan !! Aku tidak punya urusan denganmu ! " teriak Jakob tidak terima jika dirinya dibawa ke tempat ini dengan cara tidak terhormat . Pria pria itu menyeretnya seperti seorang pesakitan !


Sedang dua orang lainnya hanya diam dan waspada karena mereka tahu benar jika mereka sudah mengusik ketenangan monster di depan mereka . Mereka adalah dua dari lima orang yang mengambil gambarnya dan Lana saat dirumah sakit . Sengaja Damian menyisakan mereka agar bisa menginterogasi siapa yang menjadi dalang semua ini .


" Duduklah kembali dan lihat layar di depanmu Tuan Jakob . Setelah itu mungkin anda akan mengerti kenapa anda bisa sampai ke tempat ini " kata Damian masih tampak tenang , sebuah layar menyala dan menampilkan sebuah situasi seperti sebuah acara pelelangan .


Satu pria ada di mimbar dengan di hadapkan dengan sekitar dua puluh orang pria berbagai usia . Mata Jakob memicing karena sepertinya ia pernah sangat tahu apa yang ada di layar itu karena dia sering ada di dalamnya .


Pelelangan gadis ....


Ya , diapun sering mengikuti acara itu jika ingin mendapat ' barang ' bagus yang disediakan oleh orang orang Raul Alma . Tapi dua tangannya kemudian terkepal ketika melihat seorang gadis dengan pakaian yang sudah koyak dibawa dengan paksa ke atas sebuah panggung kecil di depan pria pria hidung belang yang sebagian ia kenal .


" B*ngsat !!! " lirihnya seperti ingin berlari keluar dari ruangan tempatnya disekap , tapi satu tangan Damian mencengkeram kuat bahunya hingga pria itu meringis kesakitan .


" Lepas !!! Lepaskan aku !! " teriak Jakob kalap ketika melihat pria pria itu sudah menawar gadis yang berdiri di atas panggung dengan raut yang sangat ketakutan . Ranaa Smith , putrinya ternyata menjadi salah satu aset yang dimiliki mucikari terbesar di negara ini . Mucikari sekaligus pemimpin kasino yang selalu menyediakan wanita sebagai penghangat ranjangnya .


" Seharusnya kau senang karena aku memberimu pemandangan yang sudah biasa kau lalui . Apa kau berlari karena ingin ikut serta dalam acara itu !? " kata Damian mengencangkan cengkeraman tangannya karena merasa pria itu lebih beringas memberontak .


" Tutup mulutmu , jika kau memang punya masalah denganku maka aku berjanji akan menyelesaikan nanti !! Putriku sedang dalam bahaya !! " teriak Jakob melayangkan satu pukulan keras di wajah pria didepannya tapi dengan mudah ditepis dan satu buah pukulan telak mengenai rahangnya .


BUGGHHHHH ...


BUGGHHHHH ...


Kali ini Jakob jatuh tersungkur di lantai dengan darah mengucur dari salah satu sudut bibirnya . Pukulan yang diberikan kali ini terasa lebih keras dari pukulan yang ia terima pertama tadi .


" Dan ini karena kau sudah mengganggu wanita yang salah . Sekali lagi aku mendengar kau mengganggunya lagi maka semua peluruku akan bersarang di kepalamu "


" Wanita ... Tapi aku tidak mengenal wanita milikmu " rintih Jacob mencoba membela diri . Pria itu mencoba berdiri dan memukul secara membabi buta .


" Lana Evelyn , kau berurusan dengan wanita yang salah brengsek !! Dan ini ... "


BUGGHHHHH ....


" lni untuk semua pukulan yang aku dan dia terima semalam !! " geram Damian memberikan satu pukulan lagi , dia marah setiap kali mengingat kejadian dimana guci itu malah mengenai wanita yang seharusnya ia lindungi . Kali ini membuat ayah dari gadis yang ia selamatkan semalam itu terkapar pingsan .


Apa yang ada di layar hanyalah rekaman cctv yang ia dapat di kasino . Semalam setelah Dokter Kim membawa Lana ke rumah sakit ia mendapat kabar dari orangnya jika Ranaa Smith diculik dan sedang dilelang dalam kasino . Dia bersama sepuluh orang terbaiknya menjemput gadis itu sekaligus menepati janjinya . Damian pernah berjanji akan meratakan kasino jika Raul Alma berani menyentuh gadis yang ia klaim berada di bawah lindungannya .


Beruntung gadis itu baik baik saja , dan sekarang Ranaa ia tempatkan di sebuah tempat yang tenang agar bisa menata hati dan pikirannya yang sempat shock .


" Bawa pria tak berguna ini , jangan sampai aku melihatnya lagi .... "


Dua pria langsung menyeret Jakob keluar ruangan , mereka merasa jika Jakob beruntung karena masih bisa bernafas sampai saat ini . Karena biasanya Damian bukan pria yang hanya setengah setengah melakukan pekerjaannya . Semua pengganggu yang mereka bawa ke tempat ini selalu ' selesai ' dengan cara mengenaskan .


Dan dua pria yang tersisa hanya bisa saling memandang dengan lutut yang bergetar . Dua pria yang menjadi bagian penguntit saat dia dan Lana masih berada di rumah sakit menunggu Darrell . Damian sudah menatap mereka dengan seringai yang terlihat menakutkan .


" Katakan padaku ... siapa yang sudah menyuruh kalian untuk mengikuti aku dan Nyonya Muda ! "


" Ampun Tuan .... "