Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
85



Sean terpaku ketika mendengar kata kata dari ayah mertuanya , dia tidak menyangka jika ikatan batin antara Lana dan kedua orang tuanya begitu kuat hingga Felix bisa merasakan jika putrinya sedang tidak baik baik saja .


" Saya tahu pernikahan kami didasari dengan sesuatu yang salah , tapi sungguh ... saya benar benar ingin menjaga putri anda ! Saya akui jika saya belum bisa menjadi suami yang sempurna untuknya . Saya sudah menyakitinya begitu dalam , tapi ijinkan saya untuk belajar . ljinkan saya belajar menjadi yang terbaik untuk keluarga saya "


Sean berkata dengan kesungguhan hatinya , ada sebuah ketakutan jika ia akan kehilangan wanita yang diam diam sudah menguasai hidupnya . Wanita yang sudah menjadi calon ibu untuk putranya . Betapa pun ia ingin membencinya tapi nyatanya ia malah semakin terikat padanya .


Sedang Felix sedikit terkejut dengan gaya bahasa pria di depannya . Masih sangat dia ingat jika dulu sikap pria didepannya ini begitu arogan dan memandang remeh dirinya . Bahkan dia bisa melihat dengan jelas jika Sean tidak menyukainya .


Dia melepas putrinya karena Lana berkeras untuk menikahi pria itu . Hanya dengan pernikahan putrinya dengan Sean Jayde Alexander maka perusahaannya akan berjalan stabil . Perusahaan raksasa itu akan menyelamatkan ketimpangan yang tejadi di dalam perusahaannya .


Tapi kini pria arogan itu terlihat sangat menghormatinya , nada dan gaya bicaranya pun terlihat sangat sopan didepannya .Tak ada lagi kilat kebencian di mata menantunya . Walau begitu entah perasaannya tetap saja tidak tenang sebelum dia bisa melihat putrinya dengan mata kepala sendiri .


" Saya seorang ayah , dan saya akan mendukung apapun yang membuat putri saya bahagia bahkan jika harus kehilangan semua yang saya miliki . Saya senang jika anda dan Lana serius menjalani biduk rumah tangga yang kalian jalani . Dan sekarang ijinkan saya melihatnya , apa Lana sedang menunggui putra anda di rumah sakit ? Dia memang mudah dekat dengan anak kecil .... "


Sean hanya tersenyum getir , sepertinya perjuangannya untuk mendapatkan istrinya baru saja di mulai . Dan sepertinya jalan yang ia lalui kali ini tidaklah mudah ...


" Putri anda ada di rumah sakit yang berbeda dari putra saya , dia ... "


" Saya tidak mengerti , bagaimana bisa mereka ada di rumah sakit yang berbeda ? Bukannya dia sedang menunggu putra anda ?! Atau dokter yang menangani Tuan Muda Darrell memang dari dua rumah sakit yang berbeda !? " tanya Felix merasa aneh dengan keberadaan putrinya .


" Maaf , saya tak sengaja memukul istri saya dengan sebuah guci .... "


" A-apa !!? Ya Tuhan .... Lana ! "


Sore hari Damian pulang menuju rumah kayu dengan sangat bersemangat , ingin sekali ia segera melihat kelinci kecil yang sejak pagi tadi sudah menjadi istri sahnya . Walau mungkin sampai saat ini gadis itu masih belum menyadarinya .


Dia terpaksa melakukan ide gila itu karena bagaimanapun juga ia akan lebih leluasa memberi penjagaan pada Ranaa jika sudah ada status hubungan yang jelas di antara mereka . Jakob ataupun Davina adalah dua manusia licik yang bisa melakukan apapun demi mencapai keinginannya .


Ranaa sudah menganggu tidurnya sejak ciuman pertamanya dengan gadis itu , entah ... tapi dia benar benar bisa menikmatinya . Selama ini ada trauma di dalam dirinya untuk kembali membangun hubungan baru dengan wanita lain setelah pengkhianatan istrinya dulu . Tapi Damian tak merasakan beban itu ketika sedang bersama Ranaa .


Gadis itu sangat apa adanya , bahkan tak pernah membenci ayah atau ibunya yang sering akan memanfaatkan dirinya . Dan selalu bisa berpikir positif dalam menghadapi semua hal walau sangat ceroboh dalam segala tindakannya . Contoh nyatanya adalah ketika gadis itu menandatangani berkas pernikahan mereka tanpa terlebih dulu membacanya .


Sampai di rumah kayu Damian melihat ada beberapa paper bag tertata rapi di atas meja ruang depan . Dia yakin jika Ranaa sudah memilih baju yang akan di kenakan nanti malam .


" Kau sudah pulang ? lngin aku buatkan kopi ? Kau sudah makan tadi !? " tanya Ranaa bertubi tubi hingga membuat seulas senyum di bibir pria yang berdiri di depannya . Pagi tadi dia sudah resmi menandatangani surat perjanjian yang isinya menyatakan jika ia sudah menjadi bagian dari rumah ini , tentu saja dengan syarat ia harus melayani keperluan sang pemilik rumah .


" Ehhmm maaf tadi aku habiskan uangmu cukup banyak untuk baju baju di paper bag itu . Tapi itu salahmu kenapa harus mendatangkan butik dengan brand mahal ke tempat ini . ltu saja aku sudah pilih yang paling murah ... tapi tetap saja mahal sekali ! Awas saja jika kau berani potong gajiku bulan depan karena baju baju itu adalah kemauanmu !! "


" Aku lapar ... aku ingin makan " sahur Damian yang gemas melihat bibir yang tak hentinya berbicara itu .


" Ehmm aku tidak terlalu pandai memasak , mungkin rasanya tidak seenak juru masakmu di kamp sana !! Memang kau ingin makan apa !? "


" Memakanmu ... "


" Hahhh !!?? "