
Sinful Angel Bab 98
Tiga minggu telah berlalu sejak hari di mana pertama kalinya Tya menginjakkan kaki di VN Fashion pusat. Hari demi hari raut Tya semakin berseri-seri. Dirinya kini merasa memiliki yang namanya keluarga sesungguhnya. Pernikahannya dengan Bisma juga sudah terdaftar resmi. Menyandang statusnya sebagai Nyonya Bisma Putra Prasetyo secara sah diakui agama dan negara.
Tya tak pernah menyangka, Viona yang beraura tegas ternyata memiliki jiwa penyayang yang tak disangka-sangka. Perhatian-perhatian kecil Viona juga Nara membuat kebahagiaan Tya semakin terasa lengkap. Mulai dari mengirimkan pakaian muslimah desain VN Fashion ke rumah sampai mengirimkan ramuan herbal khusus untuk pemulihan patah tulang.
Pagi-pagi sekali Tya sudah bersiap rapi dan cantik. Memakai gamis polos warna dusty pink senada dengan pashminanya, warna kesukaannya. Hari ini ia memiliki janji bertemu dengan Nara di butik VN yang dipegang Nara, berlokasi di The Royal Plaza Departement Store.
“Pagi-pagi begini udah cantik aja. Mau ke mana?” tanya Bisma manyun sembari memerhatikan istrinya yang sedang serius memasangkan dasi.
Paras Tya semakin cerah dan badannya pun lebih berisi sekarang. Bisma ingin rasanya melipat Tya lalu memasukkannya ke dalam saku, mengeluarkannya setiap kali dirinya dilanda rindu ingin berdekatan.
“Kan aku semalam sudah bilang, Mas Sayang. Aku sudah ada janji fitting baju resepsi di butiknya Kak Nara, terus siangnya mau ikut kajian di rumah Khalisa,” jelas Tya seraya mengulas senyum cantiknya, membuat Bisma makin ogah-ogahan berangkat ke kantor dan malah memerangkap pinggang ramping Tya menggunakan kedua tangannya.
“Kapan bilangnya? Semalam kayaknya kamu enggak ngomong gitu. Besok saja perginya gimana? Besok aku libur. Mendadak aku enggak rela andai ada yang melirik istri cantikku yang makin menawan ini.”
Tya memicing, mencubit gemas pipi suaminya yang menggembung lucu saat merajuk. “Jangan pura-pura pikun. Semalam sebelum Mas terlelap, aku sudah minta izin dan Mas bilang iya. Lagian enggak enak sama Kak Nara, udah janji.”
Ya, selesai rutinitas wajib penyatuan cinta mereguk madu surga dunia sebelum tidur tadi malam, mereka menyempatkan pillow talk bersama, seperti yang sudah-sudah.
Tya meminta izin pergi di hari Jum’at ini dan semalam Bisma sudah mengizinkan. Namun, Bisma yang teringat akan percintaan mereka semalam serta sesi panas tadi pagi yang menciptakan sensasi lebih bergelora dan berbeda dari biasanya, alhasil Bisma malah makin tergila-gila dan kadar posesifnya pada Tya bertambah drastis sekarang.
“Akh, kenapa saat sudah rapi begini, kamu makin seksi di mataku dan membuatku ingin melempar dasiku lagi. Mana hari ini kerjaanku penuh, selepas Magrib ada acara pertemuan sekalian makan malam juga,” keluh Bisma lesu. Merapatkan tubuh Tya padanya, memeluk semakin erat.
“Ya ampun, abis solat Subuh tadi kan sudah dipenuhi lagi baterainya dengan sesi pagi. Sabar sampai malam ya, Sayang. Terus minggu depan setelah resepsi rampung kan kita mau liburan, jadinya sekarang Mas harus kerja dan cari uang yang banyak buat dana berlibur," kekeh Tya, membelai rahang Bisma yang baru saja dicukur tadi Subuh.
“Uangku sudah bertambah banyak. Sepulang dari Bali, angka penjualan meroket dan permintaan kerjasama semakin bertambah. Bolos barang sehari kayaknya enggak masalah.”
Tya menggoyangkan telunjuk di depan wajahnya. “Enggak boleh gitu. Ayo semangat dong, Sayang. Masa dicharge terus-terusan malah low batt. Nanti aku mampir ke kantor buat nemenin Mas kerja setelah selesai kajian dari rumah Khalisa. Gimana?”
Tya membujuk, bernegosiasi dengan Bisma yang ternyata super manja bak bayi besar setelah mengungkapkan getar rasa jiwa di Puncak tempo hari. Doyan sekali bermanja saat berdua dengannya.
“Ide bagus, bisa sekalian ikut aku ke acara makan malam. Ya sudah sekarang cium dulu sebelum aku berangkat, aku butuh semangat pagi,” pinta Bisma kemudian.
Tangan kanan Tya dengan cepat menahan bibir suaminya yang hendak menyosor tanpa rem itu. “Eits, tahan, Tuan. Aku sudah pakai lipstik. Nanti lipstiknya kehapus lagi.”
“Tinggal pakai lagi, gampang kan?” Bisma menyeringai penuh arti, langsung menarik tengkuk Tya dan menyesap pasokan semangat favoritnya tanpa menunggu jawaban.
*****
Nara menyiapkan teh hijau untuk dua orang setelah Tya selesai dengan fitting gaun pengantin yang akan dipakai di acara resepsi minggu depan. Gaun pesta dengan model ball gown di bagian roknya yang tetap dibuat dengan konsep muslimah berwarna dusty pink baby itu begitu sempurna saat dipakai Tya. Memesona bak putri negeri dongeng.
“Kamu suka?” Nara bertanya sambil menyesap teh hijaunya. Nara tampak puas dengan hasil keahlian tangannya.
“Suka sekali, Kak. Gaunnya cantik. Rasanya seperti mimpi memiliki kesempatan memakai gaun sebagus ini.” Tya tak dapat menyembunyikan rasa gembiranya, tercetak jelas di wajahnya.
Obrolan mereka terhenti ketika seseorang memanggil nama Tya, siapa lagi kalau bukan Khalisa.
"Nyonya Yudhis kenal dengan Tya juga?" Nara penasaran dan pertanyaannya diangguki Khalisa cepat.
"Mbak Tya ini teman saya, Bu Nara."
"Wah, enggak nyangka, dunia ini sempit ya ternyata."
Mereka bertiga berbincang bersama. Suasana akrab dan hangat melingkupi. Khalisa menjadi pelanggan tetap VN Fashion setelah menjadi istri dari Yudhistira Lazuardi dan sudah sering bertemu dengan Nara.
Tya dan Khalisa memutuskan menuju ke rumah Khalisa bersama-sama setelah urusan di butik rampung. Tya lebih semakin antusias saja mengikuti kajian. Menambah ilmu baru juga sebagai sarana penyejuk hati yang terkadang masih dilanda gundah, dihantui masa lalu.
*****
"Pak Bismanya ada?" Tya sampai di kantor Bisma lebih awal dari yang sudah dijanjikan. Tetap meminta izin sesuai prosedur pada Suri, tak serta merta menyelonong masuk.
"Ada, Bu. Tapi lagi nerima tamu di ruang tamu. Ibu bisa nunggu di ruangan pribadi bapak saja di lantai 4. Mari saya antar," tawar Suri ramah dan sopan.
"Tidak usah ngerepotin, Suri. Saya bisa sendiri." Tya sudah beberapa kali datang ke sini. Ia lumayan hafal seluk beluk kantor Bisma juga letak ruangan suaminya berada.
Tya memilih berjalan-jalan dulu sebelum naik ke lantai empat. Menyusuri lantai satu gedung Agra Prime sembari mencari udara segar.
Tya yang kurang memperhatikan jalan, tak sengaja menyenggol seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengannya hingga ponsel yang tadi sedang dipegang pria itu jatuh ke lantai. Tya meminta maaf segera, tak menunda karena merasa salah.
"Aduh, maaf sekali, saya kurang hati-hati." Tya mengambil ponsel orang tersebut, menyerahkannya menggunakan kedua tangan kepada orang tersebut.
"Terima kasih. Tak masalah."
Pria tersebut menerima ponsel yang disodorkan Tya. Situasi mendadak tegang saat mereka saling tatap satu sama lain. Terlihat dari wajah Tya yang tiba-tiba memucat. Memalingkan wajahnya secepat mungkin, tetapi orang di depannya terlanjur mengenalinya.
"Cintya? Ini kamu?" kata pria tersebut. Memindai Tya dari ujung kaki hingga kepala. "Ke mana saja kamu selama ini? Kamu terlihat berbeda, makin cantik saja."
Tya merasa dunianya berputar saat bertemu dengan pria berusia di awal empat puluh tahunan itu. Keringat dingin mengalir di sepanjang tulang punggungnya. Inginnya lari sejauh mungkin. Namun sekujur tubuhnya lemas dan hampir saja ambruk.
Sebentuk tangan menyelamatkannya, meraih pinggangnya di saat badannya terasa tak menapak. Merengkuhnya dalam dekapan paling aman sepanjang hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Bisma.
"Lho, Sayang. Katanya mau ke sini jam empat?"
"Ini, ke-kebetulan kajiannya selesai lebih awal," jawab Tya susah payah. Berusaha menguatkan diri.
Si pria yang masih berdiri di hadapan Tya kini mengerutkan kening saat melihat sikap Bisma pada Tya. Juga bagaimana Tya berinteraksi dengan pemilik Agra Prime ini.
"Oh iya, Pak Markus. Kenalkan ini istri saya. Cintya."
Bersambung.