Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 29



Sinful Angel Bab 29


Memacu mobilnya secepat mungkin, Bisma sampai di RSUD Kebayoran Baru dalam waktu lima belas menit. UGD menjadi tujuan utama. Menerobos masuk meski sempat tertahan petugas di depan pintu. Dengan napas tersengal, matanya mencari-cari keberadaan Tya dan dia menemukannya di ranjang paling ujung, dikerumuni beberapa perawat.


Pelipisnya lecet, tubuhnya dipenuhi beberapa luka serta lebam dan yang terparah adalah tangan kanannya, tampak bengkak terbungkus perban dan sedang dipasang gips. Beberapa perawat agak kewalahan menenangkan yang belum selesai ditangani lukanya, karena Tya memberontak dan meraung menangis histeris setelah beberapa menit lalu diberitahu nasib Caca yang tidak tertolong, telah berpulang menutup mata.


Tya Menjerit-jerit tak mau mempercayai keterangan perawat, memaksa ingin melihat ke kamar jenazah padahal kondisinya sendiri pun sedang lemah dan tak baik-baik saja.


“Kalian pasti bohong! Biarkan saya melihat Caca! Caca tidak mungkin meninggalkan saya sendirian, tidak mungkin! Saya mau turun, saya mau lihat adik saya!”


Bisma bertanya pada perawat tentang kondisi Tya, juga bertanya pada saksi mata yakni si ibu pemegang handphone Tya tentang kronologis kejadian.


Menurut si ibu pedagang ketoprak itu yang kebetulan berjualan di sekitar TKP, bajai yang ditumpangi Tya hendak menyalip kendaraan besar di depannya dalam kondisi cuaca diguyur hujan. Gagal menyusul lantaran dari arah berlawanan ternyata sebuah mobil melaju kencang. Demi menghindari adu banteng, si pengemudi bajai melempar kemudi ke kiri sekaligus. Namun, efek kaget dan jalanan licin, si sopir gagal mengendalikan kemudi, menghantam trotoar kencang dan hingga bajai berguling kencang. Caca terlempar keluar cukup jauh dan kepalanya menghantam aspal, sedangkan Tya terjebak ikut berguling-guling di dalam kendaraan.


Setelah berbincang dengan si ibu penjual ketoprak, Bisma bertanya tentang kondisi korban pada salah satu perawat. Kebetulan beberapa perawat mengenal identitas Tya dan Caca dengan baik karena Caca sering keluar masuk rumah sakit enam bulan terakhir ini. Bisma baru tahu bahwa keluarga sakit yang dimaksud Tya adalah gadis remaja bernama Caca yang ternyata sama-sama sebatang kara seperti halnya Tya, nama yang kini terus menerus dipanggil-panggil Tya penuh kepiluan.


Bisma menyela para perawat di dekat ranjang Tya. Di sana, Tya masih meraung memberontak hingga suaranya pun hampir habis. Masih memaksa ingin turun dan melihat Caca.


Merapat mendekat, Bisma meraba bahu Tya, meremasnya lembut, membuat Tya menoleh saat merasakan telapak hangat menyentuh pundak dinginnya.


“Tya,” kata Bisma lembut, bingung harus berkata apa, hanya menatap dalam amat prihatin pada mata teduh yang kini sembap dipenuhi genangan air mata.


“Pak, Pak Bisma?” Tya bertanya memastikan dengan bibir bergetar.


Buliran bening di pelupuk mata Tya kembali meluncur deras. Tya bukanlah sosok yang cengeng, kuat seperti baja ditempa keadaan, pantang mengiba, tahu diri sebab pasti lebih banyak yang tak peduli. Namun, kali ini di depan Bisma Tya tak memakai topeng besinya, meski Tya tahu Bisma ini hanya orang asing, bukan teman apalagi saudara maupun senasib.


“Pak, tolong saya, Pak. Tolong bilang pada para perawat, saya ingin melihat adik saya sekarang juga, Tolong, Pak. Bawa saya pada adik saya, saya ingin melihat Caca dengan mata kepala saya sendiri. Lakukan sesuatu, Pak. Tolong.” Tak ingat sungkan dan segan, Tya memohon dengan sangat pada pria yang pernah menjadi kliennya itu. Tya tahu Bisma bukanlah siapa-siapanya, tetapi rasa aman yang selalu menguar dari pria ini membuatnya berani meminta demikian sebab terdesak keadaan.


Bisma menatap Tya prihatin dari ujung rambut hingga kaki.


“Akan saya usahakan. Tapi kamu harus tenang dulu dan biarkan perawat mengobatimu. Bekerja samalah dengan baik dengan para perawat. Mereka sedang berupaya memberi pertolongan terbaik buat kamu juga, Tya.”


Kata-kata Bisma berhasil menenangkan Tya sedikit. Para perawat pun bisa lebih fokus menangani luka Tya di beberapa bagian yang masih harus diobati.


Bisma berbincang dengan pihak rumah sakit, meminta diatur supaya Tya bisa secepatnya dipertemukan dengan Caca. Perawat mengatakan belum memperbolehkan Tya melihat jenazah Caca selain karena kondisi Tya pun terluka cukup parah, mereka takut psikis Tya semakin terpukul, untuk itulah mereka memberi jeda.


“Begitu maksud kami, Pak. Mbak Tya pasti sangat terguncang. Mengingat bagaimana sayangnya dia pada anak itu. Mbak Tya tetap harus ditenangkan dulu, supaya lebih siap saat dipertemukan dengan Caca nanti. Caca sedang dipulasara oleh tim yang bertugas. Tapi, Pak, sebetulnya masih ada masalah lain. Untuk administrasi almarhumah Caca semuanya sudah ditanggung karena Caca memiliki kartu asuransi kesehatan, sedangkan Mbak Tya tidak punya itu. Kami pun sedang berembuk tentang bagaimana perawatan pemulihan Mbak Tya ke depannya, mengingat patah tulang membutuhkan waktu yang tidak sebentar pengobatannya.”


“Berikan Tya perawatan terbaik dan ruangan terbaik. Saya yang akan menanggung semua biaya perawatan Tya. Tuliskan nama saya sebagai penanggung jawab,” ucap Bisma spontan, tanpa perlu berpikir panjang. Mengeluarkan kartu identitasnya juga sebuah kartu berwarna hitam berpadu gold.


“Baik, Pak. Tapi maaf, Anda ini siapanya Mbak Tya dan Caca? Sekali lagi maaf, saya bertanya begini untuk menulis keterkaitan hubungan pasien dengan penanggung jawab yang harus dicantumkan secara tertulis. Seperti contohnya hubungan keluarga, atau misalnya majikan dengan pekerja.”


Bisma terdiam sejenak, menggosok hidungnya pelan kemudian berkata. “Saya adalah calon suaminya Tya.”


Bersambung.