Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 78



Sinful Angel Bab 78


Bisma baru selesai dengan urusannya di perkebunan menjelang sore. Mobil jeep mandor kebun membawanya ke sebuah villa asri berdesain klasik khas pedesaan, berlokasi tak jauh dari area hijau kebun teh, tempat yang akan dijadikan tempat menginap Bisma bersama salah satu staf analis produk bernama Hadi.


Sedangkan Poppy tengah bersiap untuk kembali ke Bandung bersama sopir kantor. Besok, banyak pekerjaan yang harus Poppy tangani, mengingat Bisma masih akan di Puncak dan kemungkinan baru kembali ke Bandung lusa nanti.


Memanen teh dari perkebunan yang baru dibeli akan dilakukan esok pagi. Setelah dilakukan peninjauan dan pengecekan secara saksama, kualitasnya sudah sesuai dengan standar kriteria Agra Prime. Aura Bisma terpancar cerah, cerminan hatinya yang akhir-akhir ini disirami kegembiraan yang terus tercurah.


“Anda sangat beruntung, Pak. Perkebunan baru yang Anda beli benar-benar memiliki grade daun teh yang sangat baik saat waktunya dipanen, bisa dikatakan terbaik.” Poppy begitu bersemangat membahas perkebunan baru Agra Prime meski dia terlihat lelah.


“Benar suatu keberuntungan tak terduga. Padahal baru sebulan lalu metode unggulan Anda dalam meningkatkan kualitas daun teh diterapkan ditambah beberapa inovasi yang Anda kembangkan sendiri, tak disangka kolaborasi metode itu sangat jitu dan efektif. Anda memang luar biasa.” Hadi si staf analis produk menukas antusias, bangga akan kepiawaian sang bos di bidang ini yang memang tak usah diragukan lagi.


“Aku juga tidak menyangka metode yang kukembangkan ternyata bisa membuahkan hasil dalam kurun waktu singkat. Benar-benar suatu berkah,” ucap Bisma penuh syukur, membiarkan gurat bahagianya terpancar bebas.


“Anda merasa tidak, Pak. Semenjak menikah dengan Bu Tya, banyak hal baik yang terjadi terkait urusan perusahaan? Sepertinya pernikahan memang membawa banyak berkah. Sayangnya, hilal jodoh saya masih belum terihat sampai sekarang,” canda Poppy terkekeh sembari membenahi beberapa berkas yang akan dibawa kembali.


“Sebetulnya hilalnya sudah ada, cuma sayang yang mencarinya tak kunjung melihat,” timpal Hadi sembari mendengus nyaring di belakang punggung Poppy.


Mendengar kalimat Poppy, Bisma seketika teringat dengan Tya. Seharian ini dia sangat sibuk sehingga fokusnya akan Tya yang sering menari-nari di kepala sedikit tersamarkan ketika sedang bergelut dengan pekerjaannya.


Berdasarkan survey, para pria dewasa lebih pandai memilah waktu antara kapan harus fokus bekerja dan kapan waktunya membelai rasa di dada meski cinta sedang menggebu-gebunya. Pria diciptakan dengan logika yang lebih dominan dalam menyikapi setiap urusan, sedangkan wanita memang diciptakan mengedepankan perasaan dalam segala hal. Oleh karena itulah pria dan wanita disatukan dalam ikatan jodoh untuk melengkapi satu sama lain.


Bisma masuk ke kamarnya lebih dulu, membuka ponselnya dan langsung mengetikkan pesan teks pada Tya. Terbersit rasa ingin bertukar kata juga rasa bersalah karena belum sempat memberi kabar.


Di kediaman Bisma, Tya terlonjak nyaris bersorak saat sebuah notifikasi pesan masuk gawai persegi panjangnya. Menegakkan punggung dan membuka layar kunci penuh sukacita.


["Gimana lubang tikusnya? Sudah ketemu? Aku baru selesai bekerja meninjau perkebunan."]


Begitulah isi pesannya. Bukan rangkaian aksara rayuan manis, tetapi mampu membuat Tya senyum-senyum sendiri sembari tak sabaran mengetukkan jari, membalas pesan dari pria yang terus saja membayanginya ibarat hantu gentayangan.


Tya menunggu harap-harap cemas. Pesannya terkirim dan sudah centang biru tandanya telah terbaca. Akan tetapi, Bisma masih belum membalas lagi.


[“Alhamdulillah, lancar. Sudah mau Magrib, aku mau mandi dulu. Jangan lupa minum obatmu.”]


Bunga-bunga bermekaran di taman hatinya. Kalimat Bisma di ujung teks yang mengandung perhatian menjadikannya tersipu. Kalimat serupa sudah sering Bisma ingatkan padanya. Hanya saja kini entah kenapa terasa sangat spesial. Teh Erna yang melintasi living room di mana Tya mendekam di sana seharian ini, tergopoh menghampiri ketika melihat Tya seperti tengah cekikikan sendiri.


“Astaghfirullah! Neng, kenapa senyum-senyum sendiri? Ini sudah mau Magrib lho. Neng Tya baik-baik saja kan? Tidak kesambet dedemit?”


Semilir udara Puncak berembus semakin rendah suhunya saat matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Bisma baru selesai makan malam bersama Hadi juga Mandor kebun. Menyantap makan malam ala pedesaan yang dimasakkan oleh istri pak mandor dan beberapa orang ibu-ibu pemetik teh. Rumah mandor kebun juga tak jauh dari vila, berjarak hanya dua ratus meter saja.


Semakin larut, hawa dingin kian menusuk. Saat itulah getar dalam dada mengambil alih ke permukaan. Menyeruakkan rasa rindu Bisma pada sosok cantik nan hangat yang semalam dipeluk dalam dekapan.


“Tya lagi apa, ya? Sudah tidur belum ya? Aku kangen,” desah Bisma jujur pada udara, meski belum berani jujur pada yang didamba.


Membuka ponselnya, Bisma melihat-lihat isi galeri. Beberapa fotonya dengan Tya saat berada di Bali digulirkannya satu persatu demi mengobati rasa ingin bertemu. Hanya saja dia keliru, saat paras cantik bermata teduh itu berlama-lama dipandanginya, justru menguatkan si denyut rindu dalam kalbu.


“Akh, pasti aku enggak bisa tidur nyenyak malam ini,” desahnya frustrasi. “Haruskah aku pulang saja sekarang? Tapi pekerjaanku di sini masih belum rampung. Ayolah, Bisma. Jadilah professional!” omelnya marah pada dirinya sendiri.


Getar-getar di jiwanya bukannya melemah. Malah makin menggila saat lingkupan malam beranjak kian pekat. Sama seperti yang dirasakan Tya, menit demi menitnya jadi terasa begitu panjang sekarang.


Kesulitan tertidur, Bisma terlintas ide memanfaatkan waktu ingin mengetes, apakah Tya juga benar memiliki rasa yang sama dengannya atau tidak. Kendati dari bahasa tubuh Tya tadi pagi menyiratkan getaran untuknya memang serupa meski tak terucap dari lisan.


Kembali membuka aplikasi pesan teks, Bisma mengirimkan sebuah pesan susulan.


Tya, aku mendadak meriang.


Bersambung.