
Sinful Angel Bab 69
Tya tertegun, mengerjap terkejut saat Bisma melipat jemarinya agar menggenggam kartu yang diserahkan padanya.
“Diterima, ya,” kata Bisma kemudian.
“Eh, eng-enggak usah lho, Mas. Aku tadi cuma bercanda biar Mas enggak tegang terus. Kenapa malah diseriusin?” Tya tergagap, entah kenapa mendadak merasa tak enak hati.
Helaan napas Bisma cukup panjang. Lantas menatap Tya lekat-lekat. “Tapi aku memang punya kewajiban menafkahimu, Tya. Kalimatmu tadi menyadarkanku yang telah lalai akan sesuatu, bahwa saat sebuah pernikahan terjadi, maka hak dan kewajiban mengiringi di dalamnya salah satunya adalah memenuhi segala kebutuhanmu terlepas dari apapun alasan yang melandasinya. Maaf, karena aku memberikannya padamu terbilang terlambat,” jelasnya dengan sorot mata penuh maaf.
“Tapi uang ini buat apa? Segala kubutuhanku mulai dari berobat ke rumah sakit yang sudah ditanggung, disediakan makanan enak yang melimpah tanpa khawatir kelaparan, dibelikan pakaian yang bagus juga banyak, diperbolehkan bernaung dan berlindung di tempat yang aman serta nyaman bahkan skincare ku pun Mas penuhi semuanya. Bukankah itu juga disebut nafkah?”
“Terserah mau kamu apakan. Setelah kuberikan sepenuhnya menjadi hakmu. Tentang yang kamu sebutkan tadi hanya sebagiannya saja karena jelas aku pun ikut menikmati makanan dan tempat bernaung yang sama. Sedangkan ini adalah kewajibanku sebagai suami meskipun mungkin kamu tak menganggap begitu.”
“Eh, bukan begitu.” Tya jadi makin tak enak hati.
“Dan aku ingin bilang makasih sama kamu, sudah menyelamatkanku dari akal bulus orang-orang busuk yang mencoba menghancurkan reputasiku. Terima kasih untuk yang semalam, untuk semua yang sudah kamu lalukan untukku, Tya. Kalau enggak ada kamu, entah bagaimana nasibku yang baru bangkit ini.”
Lidah Tya kelu, entah harus menjawab apa. Ucapan terima kasih Bisma padanya benar-benar tulus bukan hanya sekadar dari lisan, bisa Tya rasakan juga lewat sorot mata pria yang sedang menatapnya lekat ini.
“Bukankah kita adalah partner?” ujar Tya seraya mengulas senyum manis. “Sebagai partner, sudah seharusnya kita saling melindungi bukan? Ayo, Mas, kita selesaikan jalan-jalan ini. Aku mendadak jadi ingin memborong oleh-oleh sekarang juga,” pungkas Tya yang segera bangkit dari duduknya.
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan dan mengajak Bisma untuk melanjutkan menyusuri pantai, kendati dalam hati kalimat yang ingin terucap bukanlah partner’, melainkan ‘istrimu’. Hanya saja Tya terjegal tak percaya diri untuk mengucapkannya secara gamblang di saat Bisma dalam kesadaran penuh, berbeda situasi dengan semalam.
Bisma dan Tya kembali dari Bali dan sampai di Bandung sekitar pukul sembilan malam kemarin. Pagi ini Tya tengah sibuk mengeluarkan oleh-oleh, duduk di lantai beralaskan karpet empuk di area living room yang letaknya berada di depan pintu kamar Bisma dan kamarnya. Tya juga membeli beberapa untuk dibagi kepada Teh Erna dan Mang Eko. Banyak yang Tya beli di sana, terutama si kue Pie Bali, penganan manis nan lezat yang khas dijadikan oleh-oleh Pulau Dewata.
Bisma keluar dari kamar dengan gawai menempel di telinga, diapit kepala miring juga bahu sementara tangannya sibuk memakai dasi, agak kesusahan memakainya lantaran sembari bercakap-cakap dan tampak jelas terburu-buru.
Tya yang melihat Bisma kerepotan gegas bangun dari duduknya. Menghampiri dan menawarkan bantuan dengan menyodorkan kedua tangan, meminta dasi yang dipegang Bisma tanpa suara. Tak banyak drama, Bisma menyerahkan dasi kepada Tya dan melanjutkan percakapan, terdengar serius dan sangat penting dari intonasinya.
Dasi terikat rapi oleh Tya bertepatan dengan Bisma yang menyudahi sambungan telepon. Wajahnya cerah, menandakan percakapan barusan membawa kabar baik.
“Perusahaan yang ingin bekerjasama bertambah lagi. Para pengusaha di Bali yang ketika seminar hanya bertegur sapa tipis saja ternyata tertarik dengan produk Agra Prime. Seminar kemarin benar-benar membuahkan hasil besar, Tya,” kata Bisma semringah. Tanpa sadar meremas kedua bahu Tya saking senangnya. Selayaknya seorang suami yang sedang curhat pada istrinya. “Mereka akan datang ke kantorku satu jam lagi. Jadi aku harus bergegas.”
Senyum cerah Bisma menular. Kedua sudut bibir Tya ikut naik. “Syukurlah. Semoga Agra Prime semakin sukses. Lho, jadi Mas mau berangkat ke kantor sekarang? Duh gimana ini, aku belum bikin sarapan, karena tadinya kupikir Mas bakal libur ngantor hari ini.” cicit Tya kebingungan. “Sarapan roti panggang saja gimana, Mas? Jangan sampai melupakan mengisi perut.”
“Jangan dipikirkan. Aku bisa sarapan di kantor. Lagi pula tadinya aku memang mau libur. Jangan lupa mampir ke rumah sakit untuk periksa rutin setelah berkunjung ke rumah temanmu. Nanti Mang Eko yang akan mengantarmu bepergian. Aku berangkat sekarang.”
Bisma yang sedang dilanda senang mencium kening Tya sebelum gegas berangkat ke kantor. Sepertinya dia tak sadar melakukannya saking gembiranya, berderap ke garasi menyisakan Tya yang mengerjap kaget.
Tya meraba dahinya sendiri. Untuk sejenak mirip orang linglung sembari membalas salam pamit yang diucapkan Bisma lantang dari ambang pintu keluar.
“Wa’alaikumsalaam.”
Bersambung.