Sinful Angel

Sinful Angel
Sinful Angel Bab 130



Sinful Angel Bab 130


Bisma sudah segar dan berganti pakaian saat Viona kembali ke kamar VVIP di mana Tya dirawat inap. Sementara Tya masih terlelap terbungkus selimut di atas tempat tidur.


Beberapa saat lalu Mang Eko datang bersama Sita atas permintaan Viona. Mang Eko membawa beberapa potong pakaian ganti untuk Bisma, sedangkan Sita asisten Viona membawa beberapa paper berlogo VN Fashion Maternity Series.


Isinya adalah beberapa potong baju muslim rumahan yang didesain khusus untuk wanita hamil. Baju rumahan yang tetap didesain cantik dengan tetap mengedepankan kenyamanan, baik itu dari segi model maupun kain yang digunakan.


Viona sengaja meminta Sita mengambilkan beberapa buah baju baru dari butik di pagi buta. Membawanya ke rumah sakit untuk Tya berganti pakaian nantinya. Khawatir baju rumah sakit yang dipakai kurang nyaman bagi Tya yang sedang hamil dan mengalami fase mengidam yang tidak biasa.


Seporsi bubur ayam kampung komplit lengkap dengan sate-sateannya ditaruh Viona di atas meja di depan sofa. Viona juga menaruh jinjingan kanvas berisi barang-barang Tya yang diserahkan Farhana.


“Bisma, sarapan dulu. Bunda belikan bubur ayam. Sebaiknya makan sekarang, disantap selagi panas lebih nikmat,” titah Viona penuh perhatian.


“Makasih banyak, Bun. Sebentar lagi aku makan buburnya, mau periksa infusan Tya dulu.”


Bisma menghampiri ranjang, mengecek sediaan cairan infus yang mengalir ke punggung tangan Tya, memastikan isinya masih melimpah. Lantas mengelus puncak kepala Tya sebelum beranjak ke area sofa.


“Bun, sebaiknya Bunda pulang dan kembali nanti sore saja. Istirahat di rumah dulu. Semalam Bunda cuma tidur sebentar kan? Di atas sofa lagi. Aku cemas Bunda jatuh sakit.” Bisma memberi saran lagi, tak bosan mengusulkan hal yang sama meski semalam Viona menolak ide ini.


“Bunda merasa sehat, bahkan sangat sehat. Sudah jangan cemaskan Bunda.” Viona menyahuti tanpa ragu. Tersenyum simpul penuh ketulusan di wajahnya yang tak lagi muda, tetapi masih melukiskan jejak cantik bersahajanya di sana.


“Kamu makan saja, biar saat Tya bangun nanti, kamu sudah kenyang dan tinggal membujuk Tya makan. Sebentar lagi kopi buat jamu diantar ke sini. Bunda minta Mang Eko membelikan kopi kesukaanmu dari kafe favoritmu. Paling Bunda mau pulang sebentar buat mandi dan ganti baju. Setelah selesai Bunda mau balik lagi ke sini. Hasil tes urin dan tes darah Tya baru akan dibahas dokter hari ini dan Bunda ingin ikut mendengar. Semoga hasilnya semuanya baik. Andai hasilnya tak sesuai harapan, maka kita harus mengusahakan yang terbaik, berikhtiar bersama-sama.”


Bisma mendaratkan pinggul pada sofa tepat di samping Viona. Duduk di sana dan tanpa aba-aba memeluk sang Bunda, membuat Viona terkekeh sembari menepuk-nepuk lengan putra bungsunya itu.


“Makasih banyak, Bunda. Buat semuanya. Buat semua kasih sayang dan dukungan penuh Bunda buat kami,” ucap Bisma dari dasar lubuk hati. Terharu dengan perhatian sang bunda padanya meski dirinya sudah dewasa. Dan mendapati Tya begitu kepayahan di fase mengidamnya ini, membuat Bisma semakin menyayangi bundanya, bukan hanya bertambah sayang pada istrinya.


“Kalian adalah anak Bunda. Sudah seharusnya seorang ibu mendukung anak-anaknya sepenuhnya selama dalam hal baik. Dengan tak lupa membimbing dan mengarahkan agar tidak menapaki jalan yang salah, dan sebagai anak pun kamu jangan sungkan memberitahu di saat Bunda berbuat keliru.”


Bisma melepas pelukan dan mengangguk berlumur senyum. Hubungan ibu dan anak itu memang kian harmonis pasca kisruh yang akhirnya usai pada muara saling menerima. Semakin erat lagi saat bersatu padu menggabungkan usaha mencari Tya dengan misi membawa Tya yang sedang mengandung kembali ke tengah mereka.


“Kalau gitu Bunda pulang dulu sebentar, mumpung masih pagi. Dokter bilang visitnya jam sepuluh kan?” Viona yang meraih tas kulitnya di atas meja bertanya pada Bisma sebelum pergi. “Nanti sebelum jam sepuluh, Bunda ke sini lagi bareng Nara.”


“Iya, Bun. Jam sepuluh,” jawab Bisma, menjawab berdasarkan informasi dari perawat yang tadi Subuh mengganti cairan infus.


Bisma menyantap sarapannya lahap setelah Viona meninggalkan ruangan. Dia juga meneguk kopi Long Black selepas seporsi bubur ayam kampung lepas landas di lambungnya. Menyegarkan kembali semangatnya meski semalam tidurnya tidak begitu nyenyak, sering terjaga lantaran takut kondisi Tya menurun atau lebih parah.


*****


Tya benar-benar tertidur pulas. Waktu sudah menunjukkan hampir mencapai pukul sembilan pagi, tetapi Tya masih betah dalam nyenyak. Memejamkan mata dengan senyum cantik menghiasi wajah ayunya. Damai bak putri tidur.


Bisma tak tega membangunkan meski waktu sarapan sudah lewat. Walaupun si empunya terlelap dalam, sebisa mungkin Bisma tetap di dalam ruangan perawatan VVIP tersebut. Selain takut Tya kabur lagi, Bisa juga khawatir Tya diserbu serangan terkejut saat bangun dan benar-benar tersadar nanti. Mengingat semalam pun Tya mengira sosok yang memeluk hanya sebatas dalam mimpi.


Sembari menunggu, Bisma membuka-buka kantung belanja warna krem berbahan kanvas itu, yang dari keterangan sang bunda isinya adalah barang-barang Tya yang diserahkan Farhana.


Sanubari terdalamnya menderaikan terima kasih tak terhingga pada Farhana meskipun belum sempat menyampaikannya secara langsung. Amat bersyukur mengetahui bahwa Farhana lah yang menjaga Tya selama berjauhan darinya. Tinggal bersama sosok yang paham ilmu agama. Sosok terpercaya yang pasti menjaga Tya dengan aman.


Gema syukur menggaung dalam kalbu. Menghaturkan syukur dalam untaian puja puji pada Yang Maha Kuasa. Begitu terharu jerit do’a di setiap sujudnya dikabulkan, semakin takjub akan kuasa Sang Maha Baik yang benar-benar menjaga Tya dan anaknya dari segala marabahaya seperti do’a-do’a yang ditasbihkannya.


Dikeluarkannya barang-barang dari dalam tas kanvas usang itu satu persatu. Hatinya kembali terasa perih sekaligus terenyuh dalam waktu bersamaan. Kesederhanaan berbalut syukur dan ikhlas adalah kesimpulan yang Bisma dapat dari apa yang ditemukannya. Juga cinta setia dan hati yang terjaga hanya untuknya saat menemukan sepotong kaos miliknya dari dalam sana.


Bisma buru-buru menyusut sudut mata basahnya saat perawat mengetuk pintu, meminta izin menunaikan tugasnya untuk memasukkan cairan nutrisi melalui infus.


Berdiri di sisi lain ranjang berseberangan dengan si perawat wanita yang sedang menjalankan tugasnya, Bisma setia mendampingi dan menggenggam tangan Tya yang terbebas infus. Takut tya tiba-tiba terbnagun dan terlonjak kaget. Karena Tya pasti belum menyadari sedang berada di rumah sakit dan dalam keadaan diopname saat ini.


Benar saja. kelopak mata Tya bergerak-gerak bertepatan dengan perawat yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kedua bola matanya terbuka perlahan, mengerjap mengamati sekeliling tanpa kata. Mengernyit saat merasa ada yang tak lazim. Tampak mencerna apa saja yang didapatinya saat terbangun dari tidurnya kali ini.


“Sayang, gimana mualmu sekarang?” tanya Bisma lembut, sedangkan yang ditanya malah seperti orang linglung.


“Syukurlah, Bu Tya sudah bangun. Waktu sarapan memang sudah terlewat, tapi kalau lambungnya dirasa sudah lebih baik, tak ada salahnya mencoba menelan makanan sedikit demi sedikit. Tapi jangan dipaksakan jika terasa sulit. Saya permisi dulu, Bu. Satu jam lagi dokter spesialis kandungan akan memeriksa ulang kondisi ibu dan kandungannya. Sehat selalu ibu dan dede bayinya,” ucap si perawat ramah sebelum undur diri dari sana dan Bisma pun tak lupa mengucap terima kasih karena Tya masih membisu.


“Masih pusing?” tanya Bisma lagi sembari mengusap kepala Tya sekarang, membungkuk lebih dekat.


Serta merta Tya membulatkan mata. Terkesiap nyaris tersentak bangun dari baringannya saat kepalanya akhirnya dapat memahami apa yang sedang berlangsung.


“Mas Bisma?” pekiknya terkejut.


Bersambung.