
Sinful Angel bab 118
Dengan mukena yang menutup sempurna auratnya, Tya sedang khusyuk di atas sajadahnya.
Selepas salat Subuh usai, ia tetap bersimpuh di sana. Menderaikan do’a, bertasbih melalui kalbu juga lisan. Meminta diberi petunjuk juga diluaskan kesabaran. Memohon pertolongan di situasinya yang diimpit kesulitan, juga memohon diberi kekuatan serta keteguhan dalam iman sehebat apa pun badai cobaan hidup yang menerjang.
Farhana terdengar memanggil namanya disusul ketukan di pintu kamar yang ditempatinya. Tya beringsut bangun untuk membuka pintu.
“Boleh masuk?” kata Farhana yang ternyata mendatangi kamar Tya sembari membawa nampan berisi makanan. “Sarapan dulu. Dari kemarin Dek Tya belum makan. Ingat, dedeknya butuh nutrisi di dalam sana. Walaupun mual, tetap harus paksakan untuk makan,” bujuk Farhana lembut. Aura keibuannya menguar kuat.
“Maaf, saya jadi banyak ngerepotin, Ustadzah. Sudah numpang tempat tinggal, masih numpang makan juga,” sahut Tya sembari menunduk tak enak hati.
“Sama sekali tidak. Sesama muslim itu saudara, sudah seharusnya saling tolong menolong saat saudaranya kesusahan. mungkin hari ini kamu yang butuh bantuan. Tapi bisa jadi besok malah saya yang butuh pertolongan. Jadi, jangan sungkan dan banyak pikiran. Lagi pula saat ini saya tinggal sendiri. Dulu saya tinggal berdua dengan adik saya, tapi setelah lulus kuliah, dia memilih berkarier di Negeri Jiran.”
Daun pintu dibukakan Tya lebar-lebar. Farhana menaruh nampan di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Menu sarapan yang tersaji adalah curry puff isi kentang dan ayam, beberapa keping biskuit asin, potongan buah kiwi dan segelas susu hangat.
“Dimakan ya. Walaupun tidak berselera, paksakan makan. Sedikit juga tidak apa-apa, yang penting mengisi perut,” pesan Farhana sebelum keluar dari kamar.
“Terima kasih banyak, Ustadzah,” jawab Tya tercekat haru.
“Jangan sungkan. Selesai makan, kalau Dek Tya sudah siap bercerita tentang alasan keputusan meninggalkan rumah, saya tunggu di halaman samping. Kebetulan hari ini saya bebas jam mengajar. Tapi kalau belum siap, jangan dipaksa, tenangkan hati dengan tetap menyebut asma Allah tanpa henti. Berdzikir dan mendekatkan diri pada Ilahi adalah obat terbaik saat didera gundah hati.”
Tya mengisi perut ala kadarnya saja lantaran mualnya lagi-lagi mendesak naik memanjat ke tenggorokan, Tya mendorong makanannya dengan meneguk segelas susu coklat hangat hingga habis setengah gelas.
Di saat seperti ini, Tya semakin merindukan Bisma. Tya rindu meneguk kopi dari cangkir sang suami yang sudah dicicipi Bisma terlebih dahulu. Tya rindu aroma tubuh maskulin suaminya yang sangat ampuh menenangkan mual muntahnya terlebih di pagi hari.
Lagi-lagi sudut matanya berair. Tya menyusut pipinya kasar. “Kenapa aku jadi cengeng sih? Dulu kamu enggak begini, Cintya!” tegurnya marah pada dirinya sendiri.
Tak ingin terus larut dalam tangis sepinya sendirian, Tya keluar dari kamar dengan membawa nampan menuju dapur. Mencuci peralatan makannya terlebih dahulu sebelum menyusul Farhana ke halaman samping. Menghampiri Farhana yang sedang merawat tanaman.
“Eh, sudah selesai sarapannya?” Farhana menyapa Tya yang datang mendekat.
“Alhamdulillah sudah, Ustadzah.”
“Ayo duduk.”
Farhana mencuci tangannya terlebih dahulu. Duduk di salah satu kursi rotan yang terdapat di sana, disusul Tya yang mendaratkan pinggul pada kursi lainnya yang letaknya berhadapan.
“Gimana, sudah siap cerita?”
Tya meremas jemarinya yang terjalin di pangkuan, lantas mengangguk pelan. “Siap, Ustadzah. Tapi sebelumnya saya ada permintaan lain. Tolong jangan beritahu Khalisa maupun Mas Bisma kalau saya ada di sini sekarang.”
Farhana mengulas senyum menenangkan. Mengangguk mengiyakan. Meminta Tya rileks saat menuturkan permasalah pelik yang mendera. Farhana mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi. Sesekali mengangguk-angguk, tak menginterupsi Tya yang sedang berusaha bertutur dengan terbata-bata di beberapa bagian cerita. Ikut prihatin saat mendengar penolakan mertua Tya disebabkan si noda masa lalu.
“Saya tidak marah maupun menyalahkan bunda yang keberatan dengan masa lalu saya. Bunda berhak memilih dan menyingkirkan yang dirasa tak baik untuk anak yang sudah dilahirkan dan dirawatnya dengan kasih sayang. Maka dari itu, saya memilih menyanggupi permintaan bunda demi meredam badai agar kedamaian kembali tercipta seperti semula, walaupun di sini rasanya sangat sakit.” Tya menyentuh permukaan rongga dadanya dengan bola mata basah mengkilap.
“Saya tahu, ini pasti berat buat Dek Tya. Niatmu memang mulia, memilih mengalah demi harmonisnya kembali hubungan retak antara seorang anak dan ibu kandungnya, tidak ingin suamimu jadi anak durhaka karenamu. Tapi, seorang istri yang meninggalkan suaminya juga tidak dibenarkan. Berdosa sebetulnya saat seorang istri pergi meninggalkan rumah tangganya. Tapi memang posisi Dek Tya saat ini serba sulit dan serba salah pastinya. Tapi, coba pikirkan lagi baik-baik dengan tenang, mengambil waktu untuk berpikir matang sebelum membulatkan keputusan,” tutur Farhana mengemukakan nasihat dengan tenang, tanpa menghakimi.
“Saya tahu, Ustadzah. Tindakan saya ini tidak bisa dibenarkan. Tapi, biarlah saya saja yang sudah kepalang berlumur dosa ini yang menanggung. Jangan ditanggung orang baik dan berbakti pada orang tua seperti Mas Bisma. Karena jika Mas Bisma malah jadi anak durhaka dengan saya sebagai penyebab, maka saya akan dihantui rasa bersalah berkepanjangan seumur hidup. Lagi pula yang jadi duri pertentangan bunda dan Mas Bisma adalah saya. Seperti halnya duri di jalanan. Bukan jalannya yang menyingkir bukan? Tapi durinya yang harus disingkirkan.”
Farhana turut prihatin. Posisi Tya berat dan pelik. Akan tetapi, dia takkan menyerah memberi pengertian juga membantu lewat do’a.
“Untuk itulah saya datang menemui Ustadzah. Saya yang masih mentah belajar agama ini butut bimbingan dalam menyikapi permasalahan kehidupan,” sahut Tya.
“Lalu, apa rencanamu setelah ini? Pergi dari rumah dalam kondisi mengandung pasti sulit bukan?” tanya Farhana lagi, melanjutkan pembicaraan.
“Saya sudah memikirkannya semalaman. Saya harus secepatnya menata hidup bersama anak di dalam kandungan ini. Saya ingin pergi jauh dari Bandung, tapi tidak tahu harus ke mana, tidak punya sanak saudara dan uang pun tak punya banyak. Saya juga tidak ingin merepotkan Khalisa, makanya tidak datang ke sana. Dia belum lama menyecap manisnya kehidupan. Saya tidak ingin jadi bebannya. Kalau boleh, pekerjakan saya di sini atau beri saya pekerjaan di sekolah tempat Ustadzah mengajar,” pintanya.
“Bekerja dalam kondisi hamil muda begini?” Farhana mengerutkan kening. Nada bicaranya terdengar keberatan. Takut terjadi hal buruk pada kandungan Tya.
“Iya Ustadzah. Pekerjaan apa saja saya bersedia, jadi buruh menyapu di sekolah atau jadi ART di rumah ini pun tidak masalah. Sekalian bekerja, saya bisa sekalian menambah ilmu agama kalau saya di dekat Ustadzah. Rencananya, setelah saya punya modal dan bekal melahirkan, barulah saya akan meninggalkan Bandung kota sejauh yang saya bisa. Ke tempat terpencil mungkin. Tapi kalau tidak ada lowongan pekerjaan, mungkin saya akan kembali memulung seperti dulu, yang penting halal. Saya tidak ingin anak yang masih suci di rahim saya ini diberi makan dari uang haram.”
*****
Sepanjang malam hingga menjelang Subuh, berkali-kali Bisma mengigau memanggil-manggil nama Tya. Kedua matanya memang memejam, tetapi sudut matanya terus saja basah.
Demamnya hanya turun sebentar, selebihnya terus saja panas tinggi. Arkana yang begadang menunggui Bisma, mengawasi kondisi adik iparnya itu yang sungguh membuatnya turut bersedih.
Saat ini raga Bisma memang terdeteksi sakit secara medis setelah haru kemarin berjam-jam berjalan kaki di bawah guyuran hujan deras tanpa ingat mengisi perut barang secuil pun. Namun, sakitnya Bisma sekarang bukan semata-mata hanya karena kehujanan, guncangan jiwa dan terjangan stress hebatlah penyebab utamanya.
Tubuh bugarnya tidak selemah itu. Tidak mudah tumbang cuma karena hujan. Hanya saja kali ini lain perkara. Saat tubuh sakit, hati masih bisa baik-baik saja. Akan tetapi di saat kalbu rapuh merana, tubuh pun ikut menderita dan itulah yang tengah terjadi pada Bisma sekarang.
Bisma meraba pelipis saat terjaga sepenuhnya dari tidurnya. Cahaya matahari yang berangsur terik merangsek melalui celah jendela membangunkannya, menghantam kedua matanya yang baru terbuka. Menciptakan denyut nyeri yang semakin tak karuan menusuk-nusuk di kepalanya. Refleks, Bisma mengatupkan kelopak matanya lagi sebelum kemudian membuka ulang perlahan-lahan.
Pandangan Bisma menyapu ke seluruh ruangan. Catnya putih bersih. Jelas ini bukan kamarnya. Matanya kemudian menangkap eksistensi selang infus yang saat ditelusuri tersambung ke punggung tangan kirinya.
Tidak ada siapa pun di kamar ini selain dirinya karena Arkana memang sudah berangkat ke kantor, sedangkan Nara berada di ruangan Viona. Mang Eko yang akan menggantikan Arkana menjaganya masih di perjalanan.
“Kenapa aku malah terbaring di sini? Aku harus mencari Tya.”
Bersusah payah, Bisma bangkit dan turun dari tempat tidur. Saat kedua kakinya menapak di lantai, Bisma buru-buru berpegangan pada apa saja yang tergapai tangan, menahan daksanya yang tak bertenaga dan hampir terjungkal.
Kepalanya berputar-putar. Beberapa saat Bisma menggelengkan kepala berharap pening berkunang-kunang itu enyah. Setelah dirasa lebih baik meski tak sepenuhnya. Bisma menyeret tiang infus ke kamar mandi, mencuci mukanya yang memerah karena demam.
Menatap cermin, siksa rindu itu datang meruncing lagi, merajam sanubari. Bayang-bayang wajah Tya memenuhi kepala dan otaknya sekarang.
“Tunggu aku, Sayang. Aku akan menemukanmu segera dan membawamu kembali,” gumamnya dengan bibir pucat gemetaran.
Tak ingin membuang waktu, Bisma mencabut paksa selang infusnya sendiri hingga cairan merah berceceran dari punggung tangannya dan menetes ke lantai ubin.
Keluar dari ruang rawat inap dalam kondisi awut-awutan. Meskipun kunang-kunang di kepalanya berangsur-angsur menjadi gelap. Bisma tetap menyeret langkahnya menuju lift hingga berhasil sampai di lantai satu.
Hanya saja saat melangkah keluar dari lift. Raga tinggi tegapnya terasa melayang seringan kapas dan kesadarannya terenggut seluruhnya sebelum akhirnya tubuhnya terhempas ke lantai.
Poppy dan Mang Eko yang memang sedang menuju arah lift, dibuat kaget ketika melihat seseorang terbanting ke lantai hingga menciptakan bunyi berdebum kencang. Dan keduanya menghambur panik saat dari kejauhan akhirnya mengenali siapa sosok yang tak sadarkan diri dan terkapar di lantai itu.
“Pak Bisma!”
Bersambung.