Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 161



Sinful Angel Bab 161


“Ahh, kangennya,” desah Bisma agak merajuk. Mengecup mesra pipi Tya, lantas lebih membungkuk dan mendaratkan kecupan di perut bulat sang istri. Dia pulang agak larut lagi sebab Agra Prime sedang kebanjiran permintaan produksi skala besar yang mengharuskannya bekerja ekstra.


“Aih, ekpresinya udah kayak enggak ketemu ribuan tahun. Padahal cuma berpisah beberapa jam,” ledek Tya, melipat bibir menahan tawa yang dibalas Bisma dengan ciuman gemas menghujani wajah cantiknya.


Bisma kemudian mendaratkan telapak tangannya di perut sang istri, mengelus lembut.


"Assalamuala’ikum jagoan Papa. Mana salam tosnya buat Papa?” Bisma menyapa sang anak di perut istrinya yang disambut dengan tendangan bertubi-tubi.


“Awh…” Tya yang sedang bersandar di kepala ranjang meringis merasakan tendangan kuat si kecil di dalam sana terasa agak ngilu. Usia kandungannya sudah enam bulan. Perutnya membuncit menyembul membuat Bisma selalu dibuat gemas setiap kali berdekatan.


“Semangat banget anak Papa, pelan-pelan tendangnya. Kasihan Mamanya nih,” cicitnya sembari terkekeh di depan perut buncit Tya.


Bisma memang sangat suka sekali bercakap-cakap dengan si jabang bayi di dalam sana setiap waktunya bersantai di malam hari sebelum beranjak memejamkan mata. Mengelus, menciumi, mengajak ngobrol dan tak lupa selalu melantunkan ayat suci sembari mengusap-usap perut buncit Tya.


“Kayaknya mau nyaingin Papanya deh, jagoan kita kayak lagi main futsal juga di dalam perut Mama,” kekeh Tya gembira. Mengetahui si jabang bayi yang dari hasil USG berjenis kelamin laki-laki itu tumbuh sehat dan aktif sudah pasti membuat ibu manapun bahagia.


Bisma rebah di paha Tya, mengahadapkan wajahnya ke perut sang istri. Tya menyambutnya dengan belaian sayang di kepala sang suami, memijat pelan kulit kepala Bisma yang terasa kaku setelah seharian menguras tenaga dan pikiran di perusahaan.


“Emhh, pijatan ibu hamil yang satu ini memang juara,” kata Bisma dengan senyum mengembang sementara matanya terpejam menikmati pijatan jemari Tya. “Gimana kelasnya hari ini? lancar?” tanya Bisma yang kini menatap Tya, mempertemukan pandangan dengan netra sendu yang memikatnya sejak pertama kali melihatnya.


“Alhamdulillah lancar, Mas. Walaupun belajar secara privat, tapi aku sangat senang karena akhirnya kesempatan belajar lagi datang padaku meski mungkin terbilang terlambat di mata orang lain,” sahut Tya ceria. Sudah sebulan ini Tya mengukuti kelas paket C yang diatur Bisma dan ia sangat antusias mengikutinya.


“Terlambat tak mengapa, ketimbang tidak sama sekali. Lagi pula kewajiban mencari ilmu itu sampai ajal menjemput, enggak ada batasan usianya. Tapi, sebisa mungkin jadwal kegiatanmu jangan terlalu penuh di kondisi hamil begini. Aku lihat-lihat, kamu juga banyak mencari-cari referensi buku maupun sumber tentang ramuan-ramuan tradisional dan mempraktekannya. Belum lagi belajar tahsin bersama Ustadzah Farhana dan malamnya kamu mijitin aku begini. Kamu yakin enggak capek?” tutur Bisma khawatir. Menyentuh tangan halus Tya yang sedang memijat kepalanya.


“Sama sekali enggak capek kok, Mas. Aku malah seneng banget. Meramu jamu dan wedang itu adalah hobiku, jadi enggak membebani sama sekali.” Tya menjelaskan dengan mata berbinar, pertanda dia benar-benar bahagia, bukan hanya di mulut saja. “Kerjaan Mas hari ini lancar? Lusa jadi berangkat ke Malangnya?”


“Alhamdulillah, semuanya sangat-sangat lancar. Dan kayaknya aku enggak jadi berangkat ke Malang.”


“Lho, kenapa enggak jadi? Bukannya Mas bilang pertemuan dengan pemilik perusahaan air Pure Water itu sangat penting. Apakah ada kendala?” cecar Tya cemas.


Setahunya peranan air mineral berkualitas merupakan salah satu bahan baku penting untuk produksi pabrik Agra Prime, sedangkan Bisma jelas sudah memutus kerja sama dengan perusahaan air mineral yang sempat dipimpin Markus.


“Justru tidak ada kendala sama sekali, Sayang. Malah jalanku ingin bermitra dipermudah, pasti berkat do'a istriku juga bundaku.” Bisma mencubit sayang pipi sang istri.


"Maksudnya gimana?"


“Heroik sekali ya. Kekasihnya pasti sangat spesial sampai diperjuangkan begitu gigih oleh pria yang kata Poppy jutek itu,” tukas Tya yang ikut terkikik.


“Kayak kamu yang juga sangat spesial buat aku,” ucap Bisma yang membuat Tya kalbu Tya langsung bergetar haru.


“Makasih, Mas. Tak pernah bosan dan lelah berjuang untuk terus menggenggam tanganku hingga detik ini.”


Ketukan di pintu kamar menginterupsi interaksi manis mereka berdua. Saat ini mereka berdua masih menginap di rumah Viona dengan alasan keamanan. Bundanya mengatakan situasi belum sepenuhnya kondusif dan aman mengingat urusan Bisma dengan Prita masih belum usai, yakni perihal somasi yang dikirimkan.


Tok tok tok.


“Tunggu di sini, biar aku yang buka.” Beringsut turun dari ranjang, Bisma memutar tuas pintu. “Eh, ada apa Bun? Kenapa kayak panik gitu?” tanya Bisma langsung saja saat melihat Viona muncul di depan kamarnya dan terlihat terburu-buru.


“Sudah lihat berita terbaru di televisi?” kata Viona langsung saja.


“Berita? Memangnya ada berita apa, Bun?” ujar Bisma tak paham.


“Coba nyalakan televisi di kamar. Baru saja secara resmi diumumkan Sinar Abadi gulung tikar!” jelas Viona pada putranya.


Bisma tercengang mendengar hal itu. Dia membuka pintu lebar-lebar meminta Viona masuk. Ikut bergabung dengan Tya yang ikut-ikutan tegang.


Bisma menyalakan televisi di kamarnya dan memilih saluran khusus berita. Benar saja, apa yang dikatakan bundanya bukan isapan jempol belaka. Salah satu pewarta dengan semangat melaporkan dari TKP. Si pewarta terlihat berada di depan kantor Sinar Abadi di Jakarta yang tersegel dengan banner bertuliskan 'Disita', melaporkan dari sana secara live.


Sinar Abadi grup dinyatakan bangkrut. Kami mencoba meminta klarifikasi dari pimpinan perusahaan, hanya istrinya saja yang terlihat dan bersedia dimintai keterangan. Dari penuturan istrinya yang masih dalam proses pemulihan pasca persalinan, penyebab kebangkrutan itu salah satunya karena Pak Radhika Suroso selaku Presdir Sinar Abadi kabur membawa aset-aset penting perusahaan setelah sebelumnya menggelapkan dana perusahaan, bahkan kabarnya seluruh perkebunan pun telah dijual tanpa sepengetahuan istrinya dan sudah hampir satu bulan berlalu, Pak Radhika masih belum diketahui ke mana perginya.


Semua aset tersisa telah dijual yang dialokasikan untuk membayar pesangon pekerja. Kediaman mewah mereka pun dikabarkan telah dijual oleh istrinya demi menutupi hutang piutang lainnya.


Demikian laporan sementara.


Bersambung.


Senja note:


Tinggal satu bab tersisa ya sayang-sayangku. Bab Ending insyaallah segera meluncur dalam waktu dekat. Sehat selalu dan selamat berpuasa 🥰.