
Sinful Angel Bab 42
“Ini gila!” Vero berseru, nyaris menggebrak meja di hadapannya tepat setelah Bisma merampungkan ceritanya yang diakhiri dua suku kata ‘menikah siri’. Pengunjung lain di kafe itu beberapa ada melirik aneh ke arah Bisma dan Vero.
“Tukang Semen! Pelankan suaramu!” geram Bisma pada Vero yang dibuatnya terkaget-kaget.
“Ya, aku tahu. Ini pasti terdengar gila bagimu, tapi hanya solusi ini yang aman dan tidak merugikan kedua belah pihak, terutama untuk masalahku yang terus dihantui Prita. Kami menyepakatinya secara sadar dan dewasa,” jelas Bisma lagi, menyambung kalimat sebelumnya. “Aku tidak mau rumahku digrebek karena dikira kumpul kebo nantinya. Bisa-bisa aku masuk penjara!”
Penjelasan Bisma memang masuk di akal. Vero mencoba menelaah meski merasa keputusan Bisma ini terlalu nekat, karena menurut pemikirannya, yang namanya pernikahan walaupun secara siri bukanlah permainan.
“Serius kamu benar-benar akan menikahinya? Coba pikirkan sekali lagi. Meskipun secara siri tetap saja judulnya kalian menikah alias jadi suami istri!” Vero mengguncangkan bahu Bisma, bertutur setengah berteriak.
“Mengulur waktu hanya akan berakibat pada potensi Prita mengolok-olokku semakin terbuka lebar. Aku tidak akan membiarkan dia merendahkanku lagi, tepatnya tidak sudi!” tegas Bisma berapi-api, kedua tangannya mengepal saat kilasan lara pengkhianatan di masa lalu terpancing menampakkan diri.
“Oke, kalian memang menyepakatinya secara berdua secara sadar. Tapi, bagaimana dengan Bundamu? Apakah beliau akan setuju begitu saja dengan keputusan dadakanmu tentang menikah siri dengan wanita yang baru kamu kenal selintas?”
“Setiap masalah tentu harus memilih solusi prioritas. Aku akan bicara pada Bunda nanti, mencari-waktu sampai dirasa momennya tepat. Aku tahu ini salah, tapi saat ini aku juga enggak bisa menunda pernikahanku dengan Tya lebih lama lagi, Prita pasti akan terus mengusik dan aku butuh drama suami istri yang sempurna berharap dia menyingkir dan berhenti penasaran akan kehidupan pribadiku. Untuk itulah, bantu aku mengatur akad nikah di rumah sakit dan jadilah saksi pernikahan siriku dengan Tya.”
“Lidahmu yang terpeleset, tapi kenapa aku ikut terseret dan dibuat pusing? Lebih baik aku enggak tahu niatan nekatmu ini! Aku pasti grogi berat apabila suatu saat bertemu Bundamu kalau harus menyimpan rahasia sebesar ini.” Vero berusungut menggerutu. Antara melayangkan protes bercampur syok.
“Ayolah. Situasiku benar-benar darurat, Tuan Vero Galuh Kamandaka,” pinta Bisma memelas yang ditanggapi Vero dengan ekspresi sedatar talenan milik Rona sang istri.
“Sukurin. Makan tuh kepeleset lidah. Untung bukan si jonimu yang terpeleset salah masuk. Bisa makin berabe urusannya!” dengus Vero ketus. “Ya sudah. Jadi, bantuan apa saja yang kamu butuhkan dariku?”
Bisma membuang napas lega, mengulum senyum senang. Mereka berbincang lebih rinci terbungkus situasi yang lebih tenang, tidak seperti sebelumnya. Sesebal apapun Vero pada impulsif Bisma dan sekeras apapun protesnya, Vero selalu berakhir mengiyakan dan membantu temannya sedari kecil itu.
Jadwal operasi Tya sudah ditetapkan Dokter, yaitu hari Rabu sore. Bisma mengatur akad di rumah sakit di hari Rabu juga, hanya saja memilih waktu pagi. Mengajukan izin pada pihak rumah sakit yang ternyata lumayan alot. Memang tak mudah sampai akhirnya izin didapat setelah berusaha ekstra.
Tidak ada rangkaian bunga melati maupun pelaminan berlapis permadani seperti acara pernikahan pada umumnya. Hanya ruangan kamar rawat yang menaungi dengan aroma obat-obatan memenuhi udara. Baik Tya dan Bisma, keduanya hanya fokus pada solusi masalah. Tanpa menyadari bahwa dengan bersatunya mereka dalam ikatan yang sah secara agama, maka sesungguhnya keduanya mulai membentangkan layar bahtera dan mengarungi lembaran baru kehidupan mengikuti suratan takdir yang bekerja.
Penghulu dan wali hakim sudah datang dan bersiap. Mang Eko dan Vero didapuk menjadi saksi. Dengan mas kawin dua puluh lima gram emas, kini Tya telah sah menjadi istri Bisma Putra Prasetyo.
Bersambung.