Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 89



Sinful Angel Bab 89


Prita tentu tak pernah mengira Viona belum mengetahui perihal pernikahan Bisma meskipun terkesan tertutup. Karena bagaimanapun juga Viona adalah ibunya.


“Sampaikan salamku buat istrinya Bisma ya, Bunda. Kuharap dia bisa segera memberi Bisma keturunan,” ejek Prita, melanjutkan ocehan pedasnya.


Ayunan kaki wanita dewasa bersahaja bergaun muslim kain batik merah tua itu terhenti. Viona berpegangan pada sisi salah satu kursi kosong guna mencari kekuatan saat mendengar kata-kata Prita yang lagi-lagi menyebutkan kata 'istri Bisma'. Viona sangat terkejut. Kalau benar Bisma sudah menikah lagi, kenapa putranya itu tidak meminta restu darinya?


Akan tetapi, Viona lebih berusaha keras menetralkan air mukanya tetap biasa, meskipun dadanya bergemuruh dipenuhi tanya. Jangan sampai seperti kejadian beberapa menit lalu, sehingga Prita si mantan menantu cantik rupa namun penuh tipu muslihat itu mampu membaca gurat tersirat di wajahnya.


Viona berbalik dengan anggun. Tetap kalem, tak tergesa-gesa.


“Semoga. Nanti Bunda sampaikan salammu. Terima kasih juga atas do’anya untuk Bisma dan istrinya. Do’a baik akan kembali kebaikannya pada yang mendo’akan,” ujar Viona sarkas menusuk dengan cara elegan. Mengikuti alur yang dimainkan Prita. “Ah, waktu Bunda tersita beberapa menit. Padahal waktu adalah uang. Bunda duluan ya, Prita.”


Kali ini Viona benar-benar pergi. Prita mendengus kesal lantaran Viona memilih meninggalkannya dan tak terprovokasi saat dia sengaja melontarkan kalimat memanas-manasi.


“Sial! Kenapa mantan ibu mertuaku enggak marah sih? Seharusnya dia emosi kan saat melihatku lagi dan mendengar sindiranku?” kesalnya sembari menjambak rambutnya sendiri.


Padahal dia sudah memiliki niat busuk terselubung saat mendengar dari salah satu pegawai butik bahwa mantan ibu mertuanya sedang berada di kafe ini. Sudah menyuruh sopir yang mengantarnya untuk mengarahkan kamera ponsel ke arahnya ketika dia memasuki kafe.


Andai Viona tersulut emosi semisal menjambaknya atau menyiramnya dengan air itu merupakan keuntungan baginya. Bisa dipakai untuk menjatuhkan nama Bisma yang sedang naik daun juga nama Viona yang semakin jaya saja jika adegan yang diinginkannya itu terjadi dan diviralkan. Untung saja Viona peka. Berhati-hati dalam bersikap saat dipertemukan kembali dengan sosok licik bernama Prita Arhdya.


Viona berhenti di depan pintu ruangan pribadinya yang memang terdapat di setiap cabang butiknya, memanggil manager butik yang sedang berkutat dengan pekerjaan.


“Kalau ada yang mencari, bilang saya sedang berkunjung ke butik lain. Saya sedang tidak ingin diganggu. Saya harus mempersiapkan banyak hal untuk pertemuan makan malam dengan para sponsor acara pameran Nusantara jam setengah delapan malam nanti.”


Viona mengunci pintu ruangan pribadinya. Dengan tak sabaran mengambil ponsel di dalam tasnya dan langsung menghubungi nomor Bisma. Mondar-mandir dengan gawai menempel di telinga. Ingin segera mengkonfirmasi kabar yang baru didengarnya.


Inginnya Viona pulang ke Bandung saat ini juga untuk mencecar Bisma secara langsung akan kabar mencengangkan ini. Hanya saja Viona tidak bisa meninggalkan Jakarta begitu saja. Dituntut tetap professional mengingat kunjungannya serta pertemuan penting yang harus dihadirinya di Jakarta dan akan berlangsung dua hari ke depan sudah dijadwalkan dari jauh-jauh hari.


“Kenapa di luar jangkauan terus?” Viona mendesah resah.


Viona mencoba lagi dan lagi. Hasilnya tetap sama. Ponsel Bisma di Puncak sana kehabisan daya dan si empunya sedang lelap tertidur berpelukan dengan wanita cantik di atas ranjang empuk bergelung selimut. Viona pun mencoba menghubungi nomor rumah Bisma, tetapi tidak ada yang mengangkat karena Teh Erna sedang pergi ke pasar tradisional membeli bahan makanan segar. Nomor Poppy tak luput ikut dihubungi, hanya masuk beberapa saat kemudian hilang sinyal.


Viona yang tengah gundah gulana semakin diserbu banyak spekulasi tak karuan. Tak dipungkiri dia marah karena merasa tak dianggap jika kabar itu benar.


“Mang Eko, iya, aku hubungi Mang Eko saja. Dia pasti tahu segala sesuatu tentang putraku.”


Viona membuang napas lesu saat nomor Mang Eko pun sama-sama sulit dihubungi. Sedangkan Mang Eko sedang asyik ikut bersama pak mandor ke kebun teh. Tengah berselfie ria di hamparan hijau kebun yang baru selesai dipanen hari kemarin. Walaupun sesekali Mang Eko menggerutu karena fotonya tidak bisa langsung diupload pada bar status sebab terkendala sinyal yang benar-benar jelek di area perkebunan.


Viona mengetuk-ngetukkan ponsel mewah berwarna gold berpadu hitam itu di dahinya. Teringat nomor kantor Agra Prime, Viona tak membuang waktu dan menghubungi nomor tersebut. Kelegaan tercetak jelas saat nomor yang dihubungi mengangkat panggilan. Suara resepsionis langsung menyambut pendengaran.


“Suri, Bismanya ada? Ini saya, Viona. Tolong sambungkan. Ada hal penting yang harus saya tanyakan pada anak itu sementara ponselnya sulit dihubungi!” titah Viona pada si resepsionis terlatih yang dulu pernah bekerja di butik pusat miliknya. Pindah ditempatkan ke kantor Bisma saat putranya itu memutuskan merintis usaha lagi.


[“Halo Bu Viona. Maaf sekali, tapi Pak Bismanya kebetulan sedang tidak di tempat, sedang melakukan kunjungan ke salah satu perkebunan teh.”]


Viona membasahi bibir. Memutar otak mencari cara menggali informasi dengan cara yang tetap elegan. [“Apakah istrinya ikut pergi? Karena saat mengubungi nomor rumah pun tidak ada yang mengangkat juga.”]


[“Mengenai hal itu saya kurang tahu pasti, Bu. Tapi dengar-dengar sekilas, Bu Tya istrinya Pak Bisma, menyusul ke perkebunan kemarin ditemani Mbak Poppy. Mau saya coba hubungi Mbak Poppy untuk memastikan, Bu?”] Suri menawarkan solusi.


Viona memijat kepalanya yang terhalang jilbab satin warna hitam itu. Mendadak berdentam berdenyut-denyut sakit. Akumulasi dari rasa terkejut berpadu emosi akan kabar mencengangkan simpang siur yang bertubi-tubi didengarnya hari ini.


“Tidak usah, Suri. Biar nanti saya sendiri yang menghubungi Poppy dan menanyakannya. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”


Viona menutup panggilannya. Menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Mencoba meredam gejolak amarah dan melatih kesabarannya yang menipis sekarang. Berupaya keras menjernihkan pikiran keruhnya yang sibuk berkecamuk.


Bibirnya terus menasbihkan istighfar berkali-kali. Bisma yang dikenalnya bukatn sosok anak yang lancang terhadap orang tua, tetapi kabar yang didengarnya kini jujur saja menyulut emosinya.


Semula Viona tak ingin mempercayai kalimat Prita. Namun, keterangan Suri justru memperkuat asumsinya, membuat kemarahannya meledak-ledak.


Sebagai seorang ibu Viona jelas tersinggung dan kecewa. Merasa tak dihormati oleh anak sendiri, tak ayal lagi dugaan-dugaan buruk mencemari pikirannya kini.


“Para karyawan kantornya sudah tahu Bisma menikah lagi bahkan sudah tahu nama wanita yang katanya istrinya itu, sedangkan aku jadi seperti orang bodoh di sini? Apa yang sebenarnya terjadi dengan putraku? Jangan-jangan dia tergoda wanita tidak benar lagi yang membawa pengaruh buruk sehingga Bisma yang berpribadi baik berani melangkahiku begini! Menikah lagi tanpa meminta izin dan do’a restu dariku, ibu kandungnya sendiri!”


Bersambung.