Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 47



Sinful Angel Bab 47


Hari-hari berlalu dihabiskan Tya mempelajari banyak hal terutama tentang silsilah keluarga besar Bisma juga para kolega bisnis Bisma. Nama perusahaan juga merek produk-produk teh yang diproduksi PT. Agra Prime ikut Tya hafalkan. Supaya saat dirinya sedang bersama Bisma di tengah-tengah khalayak, Tya bisa memerankan lakonnya sebagai istri Bisma sebaik-baiknya.


Tya juga menuliskan list makanan kesukaan Bisma yang ditanyakannya pada si empunya. Untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu bertemu Prita tanpa rencana dan si mantan istri Bisma itu memancing-mancing tentang bagaimana kedekatannya dengan Bisma, maka setidaknya Tya bisa dengan percaya diri memamerkan kedekatannya dengan Bisma, semisal memesankan makanan kesukaan Bisma di depan umum tanpa harus bertanya dulu.


Tak terasa sudah hampir memasuki satu bulan Tya tinggal di rumah Bisma. Meski satu rumah, Tya dan Bisma jarang bertemu muka. Bisma berangkat sebelum pukul delapan pagi dan biasanya baru pulang ke rumah menjelang waktu makan malam. Pernah beberapa kali tidak pulang, dikarenakan harus bepergian keluar kota untuk meninjau lahan bakal perkebunan tah yang akan dibeli.


Tya baru tahu, menjadi pimpinan sebuah perusahaan ternyata tidak semudah kelihatannya. Tidak bisa bersantai sesuka hati, bahkan sampai di rumah pun seringnya Bisma berkutat kembali dengan macbooknya di ruang kerja. Bisma mengatakan pada Tya, jika menginginkan pencapaian besar, maka berbanding lurus dengan effort dan pengorbanannya. Sama-sama besar, menyita waktu dan pikiran. Beserta derai do’a jangan sampai dilupakan. Bisma juga menjelaskan, meluangkan waktu untuk berlibur dan bersantai tetap ada jadwalnya meski singkat, tetapi hanya di momen-momen tertentu saja dengan syarat pekerjaan utama diselesaikan dulu seluruhnya.


Tya kira kehidupan presdir atau CEO seperti di sinetron yang pernah ditontonnya, yang sepanjang waktu hanya ngebucin, berhura-hura dan menghamburkan uang. Tenyata realitanya tidak demikian. Belum lagi Tya sempat mendengar Bisma kini melebarkan sayap di bidang properti, semakin bertambahlah kesibukan si pria yang meminta balas budi darinya itu. Bisma bekerja sama dengan pria yang bernama Vero, yang kata Bisma satu-satunya orang yang mengetahui tentang alasan pernikahan siri mereka sesungguhnya.


Sore ini Tya merambah ke dapur. Beberapa hari yang lalu lengan kanannya sudah mulai diperbolehkan dilepas gendongannya meski tak sepenuhnya dan Tya sudah mulai bisa beraktivitas normal.


“Masak apa, Teh?” Tya bertanya pada Teh Erna yang sedang berdiri di depan kompor.


Teh Erna menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar seseorang memanggilnya. Ternyata ada Tya yang tengah berdiri di sisi kirinya.


“Eh, Neng Tya. Buat makan malam kali ini, ada masak sop daging sapi pakai kacang hitam. Sangat bagus buat pemulihan patah tulang. Yang lainnya Ada ikan ekor kuning bakar bumbu rujak, salah satu makanan kesukaan Den Bisma, pepes tahu jamur, macam-macam lalapan mentah, kerupuk udang, sama nanti mau bikin sambal terasi dadak pakai buah gandaria, Neng. Den Bisma biasanya suka banget kalau sambalnya ditambah buah yang rasanya asam itu. Kata Den Bisma mala mini mau makan di rumah.” tutur Teh Erna, menjawab dengan rinci.


“Saya bantu ya,” tawar Tya yang merasa tak enak hanya duduk-duduk saja sementara pekerjaan Teh Erna lumayan banyak.


“Jangan, Neng. Tidak usah. Tangan kanannya baru sembuh, takut kenapa-napa. Pesan Den Bisma, saya harus menjaga dan melayani Neng Tya sebaik mungkin. Jadi, Neng Tya duduk saja.” Teh Erna melarang cepat. Khawatir hal buruk terjadi pada istri majikannya itu.


Melihat raut wajah Tya berangsur murung, Teh Erna tak sampai hati melarang lagi. “Ya sudah boleh. Tapi jangan yang berat-berat dulu ya. Neng Tya cuma boleh siangi lalapan sama bungkusin adonan tahu pakai daun pisang.”


Senyum di wajah Tya merekah. Mengangguk cepat, Tya menyiangi selada juga mentimun dengan penuh sukacita, membungkus tahu yang akan dipepes sembari bersenandung ceria.


Pukul lima sore Tya hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah berkutat di dapur. Langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok tampan dalam balutan kemeja biru tua dipadu celana warna khaki mengucapkan salam di pintu masuk.


Tya menghampiri dan menyambut sebagaimana yang pernah diajarkan Bisma supaya drama mereka sempurna. Mencium punggung tangan Bisma selayaknya seorang istri pada suami.


“Tumben pulangnya masih sore, P- eh Mas?” Tya berdehem sembari celingukan melihat sekitar, hampir saja keceplosan memanggil Bisma dengan sebutan Pak lagi.


Bisma melipat bibir menahan tawa, Tya yang celingukan terlihat lucu di matanya. “Ehm, iya, sengaja pulang lebih awal. Malam Jum’at kali ini aku ingin pulang lebih cepat.”


“Memangnya malam Jum’at kali ini ada apa?” Tya mengerjap lugu.


“Ehm, ehm. Pasti mau siap-siap malam sunnah ya, Den Bisma? Jadinya sengaja pulang cepat karena tangan Neng Tya sudah tidak pakai gendongan lagi sekarang,” goda Mang Eko yang melintas di ruang tamu, melangkah cepat menuju area belakang rumah setelah selesai berucap.


Bisma memelototi punggung Mang Eko, sedangkah Tya malah garuk-garuk taka gatal saat melihat wajah tampan Bisma mendadak merona.


Bersambung.