
Sinful Angel Bab 119
Poppy mengekori Nara keluar dari salah satu ruangan di mana Bisma dirawat. Poppy sempat ke rumah Bisma dulu sebelum berangkat ke rumah sakit bersama Mang Eko. Sesuai pesan Nara yang meminta Poppy membawakan beberapa barang pribadi Bisma.
Bisma sudah dibawa kembali ke kamarnya. Sudah siuman meski masih sangat lemah. Sedang ditangani dokter di dalam sana.
Poppy menyerahkan sebuah tas hitam berukuran kecil pada Nara. “Bu Nara, ini barang-barang penting Pak Bisma yang Anda minta termasuk ponselnya. Mobil Mercy Pak Bisma juga sudah ditemukan. Terparkir sembarang di pinggir jalan dekat sebuah minimarket. Saya sudah dapat kunci cadangannya dari Mang Eko. Saya akan minta sopir kantor membawanya pulang ke rumah Pak Bisma," tutur Poppy menerangkan.
“Makasih ya, Poppy. Selalu bisa diandalkan.” Nara menepuk bahu Poppy, tulus menghaturkan terima kasih.
“Sama-sama, Bu. Dan saya juga menemukan kertas ini di ruang kerja sewaktu mengambilkan beberapa barang Pak Bisma. Sepertinya surat pamitan dari Bu Tya buat Pak Bisma. Saya pikir, Bu Nara dan Bu Viona mungkin ingin tahu tentang hal ini juga.” Poppy menyerahkan amplop berisi selembar surat dari Tya untuk Bisma yang pada beberapa sisinya tertinggal jejak cekalan.
Nara menerima amplop tersebut, membolak-baliknya sebentar. “Sekali lagi makasih, ya. Aku mau ke kamar bunda dulu, sudah waktunya bunda makan dan minum obat. Kalau dokter dan perawat sudah selesai dengan tugasnya menangani adikku, bisa tolong temani Mang Eko menjaga Bisma sebentar? Aku takut dia mencabut infusnya lagi dan memaksa ingin pergi mencari Tya.”
“Baik, Bu,” sahut Poppy cepat.
Satu jam berlalu. Mang Eko dan Poppy baru diperbolehkan masuk. Bisma tampak berbaring lemah di ranjang pasien. Matanya memejam rapat, tetapi dia tidak sedang tidur.
Daksa gagah Bisma terlihat lemah. Wajahnya pucat laksana tak dialiri darah. Bahkan pelipisnya kini diperban sebab berdarah. Terluka ketika terjatuh tadi di lantai bawah.
Dengan kelopak mata terkatup erat, Bisma tengah merasai puing-puing serpihan jejak rampasan denyut bahagia yang berserak di kalbunya. Sanubarinya nyeri merana. Disiksa sembilu rindu tak terperi pada si buah hati dan belahan jiwa.
Mendengar langkah kaki, Bisma memaksa diri menggerakkan kelopak mata untuk membuka meski berat. Berharap yang datang adalah istri tercintanya yang kembali lagi ke pelukannya. Berharap segala kepedihan yang tengah menyayat-nyayat hatinya hanya mimpi buruk semata.
Namun, lagi-lagi Bisma harus meneguk kecewa. Hanya ada Poppy bersama Mang Eko yang tertangkap ruang pandangnya, bukan sosok yang membuatnya setengah gila. Bisma memilih memejamkan kedua matanya lagi sebab harapannya pupus, juga lantaran kepalanya masih terasa berat dan berputar-putar
“Pak, perawat berpesan kepada saya supaya Bapak segera makan, guna menunjang obat bekerja maksimal. Supaya lekas pulih,” kata Poppy, tak lupa tetap menyampaikan kalimatnya dengan sopan dan profesional meskipun saat ini bukan sedang berada di perusahaan.
“Aku tidak butuh obat dari dokter untuk pulih, obat yang kubutuhkan adalah istriku,” gumamnya keras kepala.
“Maaf, Pak. Bukan bermaksud lancang. Tapi apakah dengan bersikap keras kepala maka dapat mengubah keadaan? Bisa membuat Anda langsung sehat bugar dan Bu Tya kembali ke sisi Anda di detik ini juga ibarat sihir sim salabim?” cecar Poppy pada sang bos.
Bisma mencoba bangun dari baringannya meski harus bersusah payah mengingat badannya lemas tak bertenaga sekarang. Mang Eko cepat tanggap membantu. Menekan tombol pada remot kontrol guna menaikkan bagian atas tempat tidur supaya lebih terangkat.
Tanpa diduga, Bisma lagi-lagi hendak mencabut infusan yang terpasang di punggung tangan kanannya, tetapi Poppy sigap menghentikan.
“Anda mau apa, Pak! Tidak kapok tumbang lagi di lantai bawah seperti tadi?” tegas Poppy agak kesal.
“Den Bisma jangan ke mana-mana. Dokter berpesan supaya Den Bisma istirahat total dulu.” Mang Eko ikut bersuara, kentara ikut khawatir.
“Menyingkir! Aku harus mencari istriku!” Bisma membentak kendati dengan nada lemah. Mencoba menepiskan tangan Poppy dan Mang Eko yang mencekal lengannya.
“Anda nekat ingin mencari Bu Tya dalam kondisi begini? Menopang diri sendiri saja Anda kepayahan, Pak. Bagaimana Anda bisa mencari Bu Tya? Tolonglah, Pak. Anda harus sehat dulu supaya bisa maksimal mencari Bu Tya. Kalau tetap memaksa, hanya akan memperparah kondisi Anda sendiri. Bukannya berhasil menemukan Bu Tya, tapi yang ada sakitnya Bapak malah makin parah. Tolong, Pak. Anda harus berpikir jernih supaya situasi tidak semakin runyam.”
Poppy mencerocos mencecar sang bos dan menekankan setiap kalimatnya. Walaupun konsekuensi kebawelannya bisa jadi dihadiahi omelan, Poppy tidak mungkin hanya menonton saja dan membiarkan bosnya yang jelas tengah rapuh jiwa raga itu semakin memburuk kesehatannya.
Ragu-ragu Poppy dan Mang Eko melepaskan cekalan mereka saat Bisma meminta ingin bersandar ke kepala ranjang dan beruntung Bisma tak memberontak lagi.
“Poppy, aku ada pekerjaan tambahan buat kamu,” ucap Bisma tiba-tiba setelah punggungnya menyentuh tumpukan bantal. “Carikan Tya untukku sekarang juga. Pakai jasa professional terpercaya dan terbaik untuk mencarinya segera. Firasatku mengatakan Tya masih berada di kota ini, belum pergi terlalu jauh. Jadi sebaiknya bergerak cepat,” titah Bisma menderaikan perintah. Tak menunda-nunda.
“Baik, Pak. Akan saya atur hari ini juga. Lebih baik meminta jasa profesional dalam upaya pencarian. Dan saat ini sebaiknya Anda fokus untuk sembuh. Bu Tya pasti sangat sedih andai tahu Anda malah menyiksa diri."
*****
Di ruangan Viona, Nara baru selesai meminumkan obat pada sang bunda. Viona pun sama tak baik-baiknya dengan Bisma, masih terbaring lemah.
Pasca mendengar Tya memilih pergi dalam kondisi mengandung, Viona dilanda syok berat yang hantaman dahsyatnya melebihi gelombang terjangan pertama kala mengetahui fakta tentang Tya yang merupakan mantan wanita malam.
Viona tak menduga ternyata Tya tengah mengandung anak Bisma. Pergi dengan membawa calon cucunya dalam kandungan. Keturunan yang didambakan kehadirannya sejak lama baik oleh Bisma maupun dirinya.
Maksud hatinya tidak pernah bersungguh-sungguh meminta Tya pergi, hanya saja kemurkaan dan kekecewaan yang tengah meletup-letup menggerusnya, menguasai nalarnya, sehingga ucapan yang terlontar di saat tengah emosi terkadang impulsif tak terkendali.
Itulah mengapa banyak nasihat yang mengatakan agar jangan mengambil keputusan di saat sedang marah, karena gulungan amarah mampu menggelapkan akal sehat dan bisa dipastikan keputusan yang diambil berbuah penyesalan di kemudian hari.
Sungguh, Viona tidak menyangka Tya benar-benar pergi. Jujur saja Viona memang butuh waktu untuk dapat menerima masa lalu Tya. Harus diakuinya ini sangat sulit. Mungkin bukan hanya bagi Viona, tetapi bagi ibu di luar sana pun memang tak mudah.
Tak dipungkiri, Viona pun mulai merasa saat ditelaah dengan hati lapang dan secara saksama sekarang, nilai baik dari diri Tya tentu lebih besar ketimbang noktah kelam yang berjejak dalam kisah hidup Tya. Akan tetapi, jika kita melihat dari dua sisi, bisa saja penolakan ini merupakan ujian hijrah bagi Tya, onak berduri dalam perjalanan taubatnya seorang hamba yang pernah berkubang dalam lumpur dosa.
“Nara, bagaimana keadaan Bisma sekarang?” tanya Viona lemah. Diserbu kecemasan yang kian menghebat saat mendengar bahwa putranya ditemukan pingsan di lantai bawah beberapa jam yang lalu. Bersikeras ingin mencari Tya padahal kondisi Bisma belum pulih.
“Aku belum melihatnya lagi. Tapi tadi sudah siuman. Kemungkinan sekarang sedang istirahat,” sahut Nara sembari tetap mengulas senyum lembut.
“Bunda ingin melihat Bisma,” pintanya lirih bersama gulungan rasa bersalah yang kini membelitnya kuat. Inginnya Viona berlari melihat anaknya, tetapi saat ini dirinya tidak memungkinkan.
“Boleh, tapi nanti. Sabar ya, Bun. Bunda masih lemah dan Bisma juga harus istirahat. Nanti sore kalau Mas Arka sudah pulang dari kantor, kita lihat Bisma sama-sama. Sekarang Bunda juga istirahat ya.”
Nara mengatur bantal agar bundanya rebah dengan nyaman. Viona tak banyak membantah dan patuh pada saran si sulung. Mulai melunak, tak lagi kukuh seperti beberapa waktu belakangan.
Setelah mengatur suhu pendingin ruangan, Nara duduk di tepian ranjang, merogoh sakunya dan membuka selembar kertas yang diberikan Poppy padanya. Surat perpisahan dari Tya untuk Bisma. Membaca isinya seluruhnya dan Nara terkesiap seraya membekap mulutnya saat selesai membaca.
“Bunda,” panggil Nara pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Ya?” balas Viona yang belum memejamkan mata. Raut mukanya ikut tegang saat melihat Nara berlinang.
“Kita harus segera mencari Tya dengan mengerahkan seluruh kemampuan. Dia pergi hanya membawa uang lima ratus ribu. Akan seperti apa nasib menantu dan cucu Bunda kalau terus dibiarkan terlunta-lunta seorang diri tanpa bekal mumpuni? Tya bukan seperti Prita yang menggasak seluruh aset Bisma, dia hanya mengambil secuil sementara Tya tidak punya keluarga di luar sana."
Bersambung.