Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 15



Sinful Angel 15


Duduk pada bagian sofa yang menghadap sisi berdinding kaca besar tembus pandang, Bisma merutuki refleks mulutnya, kesal sebab mengucap kata yang tak sinkron dengan otaknya, bahkan ingin rasanya menampar mulutnya sendiri.


Maksud hati ingin mengatakan ‘gantilah bajumu’ sembari menyodorkan bathrobe, entah kenapa mulutnya malah berbunyi ‘bukalah bajumu’. Bisma ingin meminta Tya mengganti bajunya dengan bathrobe dan membersihkan riasan wajahnya di kamar mandi. Hendak memoles ulang Tya supaya penampilan wanita yang disewanya itu seimbang dengannya, sama-sama paripurna. Hanya saja kosa kata refleksnya malah merujuk pada hal cabul, yang dihadiahi Tya dengan lemparan sepasang sepatu murah. Untung saja Bisma gesit bergerak, menghalau sepatu terbang yang nyaris mendarat di wajah tampannya.


Bisma mendadak gagal fokus saat berada satu kamar dengan Tya yang memang memiliki daya pikat istimewa sebagai wanita meski dandanannya agak nyeleneh. Mungkin semua ini efek dari terlalu lamanya Bisma tak berinteraksi dengan kaum hawa dalam konteks yang terbilang dekat dan cukup intim sejak dua tahun lalu. Terlalu rapat menutup diri dengan makhluk yang namanya wanita. Bahkan pekerja di kediaman pribadinya pun hanya menyisakan Mang Eko pasca rumah tangganya dengan Prita kandas, meski sekarang pun interaksi dekatnya dengan Tya tentu saja hanya sebatas klien dan penjual jasa, bukan dekat secara perasaan.


Sementara itu, di meja rias depan cermin, Tya yang sedang dipoles ulang oleh MUA professional yang dipanggil Bisma untuk datang ke hotelnya, mencuri-curi pandang tak enak hati, menyesali sikap bar-barnya juga makian kasarnya tadi yang mengatai Bisma 'holy outside but horny inside'. Kendati begitu insiden sepatu terbang juga serapah marahnya terjadi bukan sepenuhnya salah Tya, kata-kata Bisma yang super ambigu itulah yang memancingnya jadi salah tanggap.


“Pak Bisma, model rambutnya lebih baik disanggul ke atas atau ditata tergerai saja?” Si MUA yang sedang mendandani Tya bertanya pada Bisma selaku tuan yang membayar jasanya.


Bisma menoleh, terlihat berpikir sebelum memutuskan. Memperhatikan Tya yang sesekali menatapnya sungkan lalu dengan cepat memalingkan pandangan. Mirip kucing yang dimarahi sehabis mencuri ikan majikannya.


“Disanggul ke atas saja, supaya kesannya rapi.” Jawab Bisma yang memang menyukai kerapian. Diangguki dengan cepat oleh si MUA sebab pekerjaannya berkejaran dengan jeda waktu yang diberikan Bisma. Harus selesai memoles dengan hasil mengesankan kurang dari satu jam.


Bel pintu kamar yang disewa Bisma berbunyi. Seorang wanita berseragam rapi mengantarkan dua buah gaun mewah dan cantik yang keduanya berwarna hitam. Berlabel VN Fashion. Tak lupa satu buah tas berwarna silver, juga sepasang sepatu indah berwarna senada. Berhak wedges yang tidak terlalu tinggi, lebih aman dipakai dan menghindari terpeleset. Lima senti pun sudah cukup karena postur Tya sudah tinggi semampai.


Bisma memang menghubungi salah satu cabang butik ibunya yang berada di Jakarta. Meminta dibawakan gaun pesta lengkap dengan sepatu dan tasnya ke tempatnya menginap dalam waktu cepat. MUA yang datang pun merupakan kenalan manajer butik, yang sigap membantu memenuhi permintaan dadakan Bisma saat putra bungsu pemilik VN Fashion itu mengatakan situasinya darurat.


“Pak, Bisma. Saya bawakan sepatu dan gaun yang Anda minta. Untuk ukuran dan jenis gaun seperti yang dideskripsikan di telepon tadi, hanya dua ini yang memenuhi syarat untuk gaun yang sedang ready saat ini. Gaun berdesain ekslusif yang baru akan diluncurkan promosinya minggu depan. Ini belum dipasarkan, dijamin belum ada yang memiliki.”


Senyum puas tercetak di wajah Bisma saat matanya memindai dua buah gaun yang dibawa. Gaun yang dikirimkan sesuai permintaannya. Sudah tidak diragukan lagi, para tim perancang busana VN Fashion yang dipimpin dan diawasi ketat oleh bundanya memang selalu menghasilkan karya memukau.


“Tolong cepat bawa masuk gaunnya, waktu semakin menipis,” pintanya.


Si wanita itu membawa gaun tersebut ke dekat meja rias di mana Tya berada. Menjelaskan deskripsi baju yang dibawanya secara detail


“Jadi, Anda mau pakai yang mana, Kak?” tanyanya pada Tya yang sedang ditata rambutnya.


Tya hampir berseru ‘wow’ dengan lantang. Di hadapannya kini bukanlah baju kaleng-kaleng, selintas dilihat dan diraba pun sudah sangat jelas bukan gaun murah. Menguarkan aura indah berkelas. Gaun hitam maxmara dengan aksen brukat, modelnya berlengan pendek dengan potongan A line di bawah lutut dari area pinggang ke bawah, memberi kesan manis penuh misteri. Sedangkan gaun hitam yang satu lagi berbahan beledu super lembut bertabur kristal Swarovski, memiliki model lengan panjang dengan panjang gaun semata kaki, menciptakan kesan elegan, berkelas dan dewasa bersahaja.


Menimbang lagi beberapa saat, akhirnya Tya memilih yang modelnya semata kaki. Teringat dengan bekas luka di betisnya tentu saja harus ditutupi supaya tidak membuat malu.


MUA yang merias, membantu Tya berganti pakaian sedangkan Bisma memilih pergi ke balkon privat lounge saat waktunya Tya berganti pakaian. Menunggu sembari melirik resah arlojinya berulang kali yang hampir menunjukkan pukul delapan malam.


Si wanita salah satu karyawan butik VN Fashion yang bertugas membawakan gaun memberitahu Bisma bahwa Tya sudah siap. Tak membuang waktu Bisma bergegas masuk kembali dan wanita yang tadi disewanya kini menjelma anggun berkelas, sangat berbeda dengan sewaktu datang tadi.


Tya sudah selesai dirias dan berganti pakaian lengkap dengan sepatu dan tas tangannya. Rambut sepunggung Tya disanggul minimalis cantik dan rapi dengan membiarkan bagian anak-anak rambutnya yang cukup panjang tergerai di dua sisi. Konsep make up no make up yang diterapkan dengan skill tangan hebat dan jam terbang yang tak diragukan lagi, menghasilkan riasan yang menyatu dengan pahatan cantik wajah Tya, memancarkan tone kuning langsatnya berkilauan. Riasan mata didominasi warna tanah lembut alami, dipadu pulasan lipstik nude oranye yang memancarkan kesan segar dengan tak lupa dibubuhi lip gloss setelahnya.


Pria adalah makhluk visual. Bohong jika Bisma tak terpana. Belum lagi Tya ini memiliki daya pikat yang begitu hebat terlepas dari bagaimana masa lalunya.


“Bagaimana, Pak. Apakah sudah sesuai dengan permintaan Anda? Kalau ada yang kurang silakan dijabarkan, akan saya maksimalkan lagi,” jelas si MUA.


Untuk sejenak Bisma masih tersihir, sedangkan Tya yang ditatap begitu intens ikut menurunkan pandangan, khawatir setelah di makeover ia malah semakin tampak aneh di mata kliennya.


“Sudah, cukup. Kerja bagus. Tugas kalian sudah selesai.”


Mereka undur diri. Meninggalkan Bisma dan Tya di dalam kamar.


“Kita harus bergegas. Pesta sudah dimulai.”


“Siap, Pak! Tukas Tya begitu bersemangat, mirip peserta baris-berbaris.


Bisma merogoh saku jas bagian dalam, membuka sebuah kotak perhiasan berwarna merah. Isinya sepasang cincin. Tya memelotot lalu mengerjap saking silaunya dengan keindahan si cincin. Entah berlian atau bukan Tya pun tak paham, yang jelas cincinnya indah dan terlihat mahal.


“Kita harus memakai cincin ini, supaya drama yang dimainkan lebih sempurna.”


Bersambung.