Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 5



Sinful Angel Bab 5


“Bisma Putra Prasetyo yang kukenal bukanlah pria yang mudah menyerah pada hawa nafsu. Temanku itu sosok pria terhormat, bermartabat juga berprinsip. Bahkan bermesraan berlebihan dengan pasangan sah di khalayak umum pun sama sekali bukan gayamu. Tapi kenapa sekarang otakmu malah geser dan mendadak ingin mencari wanita bayaran? Kamu butuh dirukiyah!” Vero sewot bukan main. Bibirnya sampai monyong-monyong dengan mata memelotot menghakimi. Mencerocos bak petasan di acara penyambutan pengantin sunat saking berisiknya dia menceramahi Bisma.


Bisma ternganga sambari geleng-geleng kepala. Telinganya berdeging tidak karuan. Memintal handuk kecil yang sedang dipegangnya, tanpa aba-aba Bisma menyumpalkannya ke mulut Vero yang masih cuap-cuap tanpa rem.


“Bersisik! Jangan berasumsi sembarangan! Coba cerna lagi kalimatku. Bukan main nyamber!” dengus Bisma tak kalah sengit.


Vero meludahkan handuk kecil yang disumpalkan Bisma ke mulutnya. Kembali mencerocos. “Mencerna matamu! Siapapun yang mendengar kalimatmu pasti langsung berkesimpulan yang merujuk pada hal-hal negatif. Memangnya kamu mencari wanita bayaran buat diajak main congklak? Enggak bukan? Kalau bunda dan kakakmu tahu hal ini, mereka pasti bakal merah besar!”


Bisma menoyor Vero geram “Niatanku mencari wanita bayaran bukan untuk diajak tidur seperti yang disimpulkan otakmu, Vero! Tapi aku mencari wanita yang bersedia dibayar untuk diajak ke pesta mantan istriku!” Bisma menekankan intonasi kata-katanya, menegaskan maksud kalimatnya yang sebelumnya sebelum granat omelan Vero meledak.


Vero mengerjap. Tampak berpikir sejenak. “Masudnya, kamu bermaksud mencari wanita bayaran untuk diajak menemanimu ke pesta? Bukannya bisa mengajak salah satu karyawanmu di bagian staf atau karyawan pabrik? Kenapa repot-repot mencari wanita bayaran?” tanya Vero pensaran.


“Kalau hanya sekadar mendampingi, aku tinggal minta salah satu staf kantor menemaniku ke pesta. Alasanku mencari wanita bayaran, karena bukan hanya sekadar untuk menemani, tapi aku ingin wanita itu bersedia berpura-pura jadi pacarku di pesta Prita dan Dhika nanti. Kamu pasti paham apa maksud dan tujuanku.”


“Mau memanas-manasi?” ujar Vero yang kini malah bersemangat. “Ide bagus!”


“Lah, mana kutahu? Yang kupunya cuma link-link perusahaan konstruksi dan tukang semen. Coba cari di online shop. Mungkin saja ada,” ujar Vero iseng, yang dihadiahi Bisma dengan pelototan tajam.


*****


Bisma pulang ke rumah pada waktu menjelang makan siang. Saat masuk ke dalam rumah, suasana berbeda menyambutnya. Bunyi peralatan masak yang saling beradu berdendang riuh terdengar dari dapurnya, lain dari biasanya yang lebih sering hening tanpa adanya bunyi-bunyian kegiatan memasak.


Aroma masakan lezat menguar dihantarkan udara, tercium hingga ke area depan huniannya. Aroma khas makanan favoritnya, soto ayam. Melangkahkan kakinya cepat, Bisma langsung menuju dapur. Benar saja, di dapurnya ada seorang wanita mungil berhijab warna milo sedang sibuk menganyunkan spatula bergantian pada panci juga wajan di atas kompor.


Senyum Bisma merekah gembira. Menaruh tas olahraga berisi pakaian kotor bekas futsal, dia gegas menghampiri dan memeluk sayang wanita yang sedang memasak itu.


“Bunda.”


Bersambung.