
Sinful Angel Bab 94
Tak terasa Viona dan Bisma berbincang hingga larut. Melihat raut lelah Viona, Bisma menyarankan bundanya untuk menginap barang semalam di sini dan melanjutkan bertukar kata besok saja.
Sopir pribadi Viona pun ikut menginap sesuai titah sang majikan juga si tuan rumah. Nobar pertandingan bola bersama Mang Eko di gazebo belakang sembari meronda di malam minggu ini.
Bisma masuk ke kamarnya setelah mengantar bundanya ke kamar tamu. Tampak Tya masih terjaga, duduk bersandar ke kepala ranjang dengan ponsel di tangan. Sedang membaca artikel tentang jamu-jamu tradisional Indonesia sembari menunggu Bisma selesai berbincang dengan Viona dan Tya gegas menaruh ponselnya begitu melihat suaminya masuk.
“Gimana, Mas, sudah beres bincang-bincangnya?” tanya Tya penasaran.
“Sudah, walaupun belum selesai sepenuhnya. Kelihatannya besok bunda masih akan lanjut menyidangku,” kekeh Bisma yang sedang mengunci pintu.
“Terus di mana bundanya sekarang? Sudah pulang ya? Kenapa enggak ngasih tahu aku, nanti aku dikira enggak sopan karena malah diam di kamar dan enggak mengantar sampai ke depan,” protes Tya terdengar frustrasi.
“Hei. Bunda enggak pulang kok. Bunda menginap di sini dan sudah kuantar ke kamar tamu. Juga kupikir kamu sudah terbang ke alam mimpi karena ini sudah jam setengah dua belas malam. Oh iya, kenapa belum tidur?”
“Aku enggak bisa tidur, mungkin karena belum terbiasa tidur sendirian di kamar mewah seluas ini.”
Ya, kamar utama yang ditempati Bisma merupakan kamar paling besar yang terdapat di rumah ini. Luasnya mencakup tiga kali lipat dari kamar yang ditempati Tya sebelumnya.
“Tapi tadi malam kamu langsung pulas saja tuh,” tukas Bisma sembari mengulum senyum, lantas menyingkap selimut dan ikut naik ke atas kasur.
“Tadi malam itu cuma kebetulan saja juga ditambah faktor kelelahan, aku enggak punya pilihan selain memejamkan mata karena seseorang mendekapku sangat posesif. Bahkan saking posesifnya aku sampai dijadiin guling!” ejek Tya bersungut lucu.
Bisma terkekeh rendah dan tanpa peringatan mengecup bibir ranum Tya. “Begitukah? Bilang saja terus terang kalau pingin dikelonin.”
Bisma menghela Tya yang masih duduk di atas kasur, membawanya berbaring bersama. Melingkarkan kedua lengan dan kakinya, memerangkap tubuh ramping Tya dalam pelukan jantannya.
"Mas mau ngapain memerangkap aku kayak gini?"
"Mau ngelonin kamu," jawab Bisma santai.
“Ngelonin sih ngelonin. Tapi pelan-pelan peluknya. Aku susah napas!” Tya melayangkan protes, menyikut perut berotot Bisma karena kaget dibawa berbaring tanpa aba-aba dan didekap demikian erat.
“Enggak bisa, kamu terlalu gemesin!” Bisma menciumi wajah cantik Tya bertubi-tubi, bahkan saking gemasnya dia menciumi leher Tya hingga si empunya terkikik kegelian.
"Udah ah, Mas! Geli!"
“Makasih, Istriku?” kata Bisma tiba-tiba setelah menghentikan hujan kecupannya.
Tya refleks meruncingkan sudut mata dengan kening terlipat, menatap Bisma yang terus saja tersenyum berseri-seri padahal habis diomeli Viona. Hal itu mengundang Tya tak tahan ingin berkomentar gamblang.
"Makasih buat apa? Enggak ada angin enggak ada hujan mendadak bilang makasih. Bukan lagi modus kan? Terus itu kenapa senyam senyum sendiri? Nanti giginya kering lho, Mas.”
“Makasih karena sudah membantuku melunakkan hati Bunda yang lagi marah dan kecewa sama aku. Sebagai informasi, Bunda kelihatannya suka sama wedang dan bakwan sayur buatanmu. Tadi, bunda makan bakwannya lahap dan meminum wedangnya sampai habis, terus ngambeknya berangsur mereda,” jelas Bisma menerangkan asal usul sunggingan senyumnya yang tak ingin surut.
Sepasang bola mata jernih Tya berbinar. “Yang benar, Mas?” imbuhnya senang. Mendengar usahanya diapresiasi, siapapun pasti merasakan gelombang hati yang berombak gembira.
“Iya benar. Bunda sampai ngabisin bakwannya setengah piring.”
“Syukurlah kalau bunda suka. Aku sempat deg-degan tadi, takut makanan buatanku enggak sesuai dengan selera bunda. Tapi, Mas bisa tolong lepasin pelukannya dulu enggak? Sebentar saja?” pinta Tya sembari mengelus lembut lengan Bisma.
“Kenapa? Mau ke mana?” cecar Bisma merajuk. Tak rela melepas lingkupan dekapannya.
“Aku mau anter selimut tambahan buat bunda. Seingatku di kamar tamu selimutnya kurang tebal sedangkan cuaca malam ini terbilang lebih dingin dari biasanya. Nanti bunda kedinginan.”
"Kamu yakin berani anterin sendiri? Butuh aku dampingi?" tawar Bisma cemas. Khawatir emosi bundanya yang belum redam sepenuhnya malah meledak pada Tya.
"Apa salahnya mencoba bukan?"
Bisma tampak berpikir. Setelah beberapa jenak akhirnya mengangguk setuju dengan usulan Tya
Tya membetulkan letak bajunya saat ia sudah sampai di depan pintu kamar tamu. Menarik dan membuang napas teratur berulang-ulang guna menertibkan degupan jantungnya yang bertalu ribut.
Dalam serbuan tegang juga gugup, Tya memberanikan diri mengetuk saat merasa dirinya sudah lebih tenang, sembari memeluk selimut bersih erat-erat dan tak berselang lama pintu dibuka dari dalam.
“Bu, eh, Bunda. Maaf menggangu. Saya mau anterin selimut tambahan, buat jaga-jaga kalau cuaca semakin dingin,” kata Tya sangat hati-hati, takut salah bicara.
Viona menatap Tya masih dengan ekspresi tak terbaca, sama seperti sebelumnya. Kendati begitu, sekarang ini gurat wajahnya sudah tak sekeras tadi.
“Bawa masuk dan taruh saja di kasur.” Viona melebarkan pintu, memberi akses pada Tya untuk masuk ke dalam kamar yang akan ditempatinya malam ini.
Setelah menganggukkan kepala terlebih dahulu, Tya melangkah sembari menunduk dan gegas menaruh selimut di atas tempat tidur.
“Barangkali ada yang Bunda butuhkan lagi?” tanya Tya yang sangat terlihat sedang berusaha keras ingin bertegur sapa dengan Viona. Tergambar jelas di wajahnya, terbaca mudah oleh Viona.
“Sudah cukup,” sahut Viona.
Melihat upaya nyata Tya yang berusaha dengan baik ingin mengesankannya dan mencairkan suasana melalui aksi nyata bukan sekadar kata cukup membuatnya terkesan. Pasti Tya butuh tekad dan kesungguhan kuat demi berusaha akrab dengannya mengingat pertemuan pertama mereka bukan terbungkus ramah tamah.
Viona juga memperhatikan paras Tya yang saat ini tidak memakai mukena. Cantik sensual, terutama matanya yang seolah ikut berbicara ketika bertukar kata. Pantas saja anaknya terpikat.
"Terima kasih untuk selimutnya."
“Sama-sama, Bunda. Selamat tidur."
Tya menuju pintu dan Viona mengekori hingga mencapai ambang pintu. Tya berbalik sejenak kemudian mengangguk sopan sebelum benar-benar undur diri.
“Saya akan kembali ke kamar. Kalau Bunda butuh apa-apa, ketuk saja pintu kamar Mas Bisma, saya ada di sana,” ucap Tya lagi sebelum melangkah pergi.
“Cepatlah kembali ke kamarmu. Jangan berlama-lama di sini. Bisma pasti sudah menunggumu,” tukas Viona sembari mengulas senyum tipis sebelum menutupkan pintu.
“Gimana? Bunda ngambek enggak sama kamu? Atau mungkin menginterogasi?” Bisma yang sejak tadi mondar mandir resah menunggu di kamar langsung memberondong ketika Tya kembali.
“Enggak kok, Mas. Kayaknya Bunda juga udah ngantuk. Cuma bilang sama aku buat cepat-cepat balik ke kamar,” sahut Tya sesuai dengan kenyataannya. Tya tampak lebih lega, terutama setelah tak sengaja melihat senyum tipis Viona sekilas tadi.
Bisma yang semula gelisah membuang napas panjang seketika. Tanpa aba-aba memangku Tya dan membawanya rebah ke atas kasur.
“Ih, Mas. Kenapa jadi grasak-grusuk gini!” pekik Tya yang dibuat terkejut.
“Jadi, bunda ngomong supaya kamu segera kembali ke sini setelah nganterin selimut?”
“Iya, bunda bilang Mas pasti sudah nungguin aku. Gitu katanya.”
Bisma memeluk Tya kian erat dengan senyuman yang semakin merekah.
“Ah, bunda memang pengertian. Sangat paham anaknya yang sudah lama menduda butuh mengasah kebolehan, supaya enggak tumpul,” ujarnya dengan nada aneh.
“Mengasah kebolehan? Kebolehan apa?” Bola mata Tya bergulir menatap Bisma penuh tanya.
“Kebolehan ibadah malam sebelum tidurku,” desis Bisma penuh arti, berbisik serak ke telinga Tya yang membuat wajah Tya dan merona bak tomat masak.
"Mesum! Kan ada bunda lagi nginep. Malu kalau kedengaran ah ih uh!" Tya memelotot galak.
"Ya jangan berisik lah, Sayang. Tapi enggak usah khawatir, kamarku dilengkapi dengan peredam suara. Jadi, kita bebas berisik bersama tanpa khawatir kedengaran orang lain."
"Tapi tetap saja ada Bun_"
Kalimat Tya tak rampung. Pagutan panas Bisma membungkam mulutnya. Merayunya dalam *******, menyeretnya dan menggulungnya ke dalam pusaran gelora tanpa ampun.
Bersambung.