
Sinful Angel Bab 66
Tya menggeser lengan Bisma yang memelukanya sepelan mungkin. Beringsut mengendap-endap dari ranjang, Tya menurunkan kedua kaki dan dengan cepat menyambar gaunnya yang terongok di lantai. Menyampirkannya sembarang yang penting menutupi tubuhnya dan berjingkat-jingkat menuju kamar mandi, tidak ingin menimbulkan bunyi berisik di pukul empat pagi ini yang bisa membuat Bisma terbangun.
Ia memutuskan mandi terlebih dahulu. Membersihkan diri lebih awal dengan tujuan mengurangi kecanggungan daripada sama-sama terbangun masih dalam kondisi urian di bawah selimut yang sama. Juga mengantisipasi kegugupan Bisma nantinya yang mungkin saja tercipta kian kuat saat pria yang masih pulas tertidur itu sudah membuka mata dan menyadari kejadian intim tadi malam.
Bisma ini bukan tipe fuckboy, sudah pasti saat terbangun nanti si sosok pria yang ternyata begitu ganas di ranjang ini diprediksi salah tingkah atau bahkan mungkin merasa bersalah. Meskipun yang mereka lakukan semalam merupakan hal lumrah bagi pasangan suami istri, bukan melanggar norma.
“Hei, kenapa dadaku berdebar-debar sih?” gumam Tya mengomeli dirinya sendiri.
Tya sedang menata degupan di balik rongga dadanya, mendoktrin diri agar bersikap biasa saja ke depannya setelah kejadian panas semalam. Lagi pula di masa kelam dulu pun biasanya detak jantungnya datar saja setiap kali usai bekerja semasa masih terikat hitamnya dunia malam.
Hanya saja tetap ada perasaan berbeda. Jika dulu Tya merasa jijik dan kotor setelahnya, pagi ini justru jantungnya berdebar-debar tak karuan dan pipinya tak henti merona, mungkin memang berbeda rasanya saat dilakukan dengan pria yang sudah menikahinya. Statusnya sekarang walaupun hanya secara siri merupakan hal yang sangat mewah dan istimewa bagi Tya. Tak pernah bermimpi secuil pun akan ada yang mempersunting dirinya yang hina meski hanya untuk sekadar kepentingan simbiosis semata.
*****
Binar sang surya membelai pagi Pulau Dewata. Menyapa setiap sudut tanah Bali dengan cahaya pembawa energinya. Bisma sedang menikmati hangatnya matahari pagi dari balkon kamar hotel. Sudah tampan dan segar dalam balutan kaus polo putih dipadu celana jeans.
"Ffuhh, segarnya," gumamnya, tersenyum cerah.
Dia merasakan sensasi berbeda di sekujur tubuhnya, begitu ringan juga lebih bugar dari biasanya, kemungkinan besar efek dari kejadian tak terduga semalam yang akhirnya meriliskan tumpukan testosteronnya yang telah tertimbun selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
“Mas, mau sarapan apa dan di mana? Mau minta diantar ke kamar atau mau turun ke restoran?” tanya Tya dari ambang pintu yang tersambung ke balkon. Tersenyum manis seolah tidak ada hal spesial yang sudah terjadi. Sengaja bersikap demikian demi meredam kecanggungan yang pasti tercipta di antara mereka andai Tya tak cepat mengambil sikap.
“Ehm, ehm, me-menunya ter-terserah. Kamu maunya sa-sarapan di mana? Aku ikut saja. Yang penting mengisi perut,” sahut Bisma sedikit tergagap. Mengusap tengkuknya sendiri lantas membuang pandangan ke arah lain. Menghindari bersitatap dengan Tya, salah tingkah bukan main.
Tya melangkah mendekat berbanding terbalik dengan Bisma yang berusaha menarik diri. Bisma berdeham, menelan ludah panik, menjauhkan diri hingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk mundur.
“Hmm, kalau terserah aku, kita sarapan di restoran saja gimana Mas?” usul Tya yang tetap meminta pendapat walaupun Bisma sudah membebaskannya memutuskan.
“Bo-boleh juga,” jawabnya singkat. Otak Bisma mendadak buntu saat bertegur sapa dengan Tya kini setelah melewati momen malam erotis.
“Kita turun sekarang mau? Pagi ini tumben banget perutku rasanya super lapar,” ujar Tya terkekeh sembari menepuk-nepuk perut rampingnya. Mencoba mencairkan suasana.
Bisma berdeham kikuk. Kalimat kelakar Tya malah membuatnya kian tak menentu, entah harus bersikap bagaimana sekarang. Pasti Tya jadi kelaparan akibat ulahnya yang telah buas menumpahkan desakan purbanya tanpa ampun.
“Oke, ayo kita turun sekarang,” ajak Bisma tak membuang waktu, berjalan lebih dulu melewati tempat Tya berdiri dengan cepat.
Tya melipat bibir, mengulum senyum sembari melihat punggung Bisma yang menjauh.
“Hei, ternyata Mas Bisma manis sekali saat canggung begini,” cicit Tya tertawa geli.
"Mas, tunggu aku," seru Tya merdu setelah menutup pintu kamar hotel. Gegas mempercepat langkah menyusul. Menggamit tangan Bisma tanpa aba-aba sebelum memasuki lift yang akan membawa mereka turun membuat Bisma lagi-lagi terperanjat kaget.
Bersambung.