
Sinful Angel 70
“Mbak Tya.” Khalisa menghambur gembira begitu Tya turun dari Fortuner putih yang membawanya ke rumah Khalisa. “Aku udah nunggu dari jam sepuluh lho dan sekarang hampir jam sebelas. Kukira tadi Mbak Tya enggak jadi datang ke sini.”
“Sorry, jalanan agak macet. Terus tadi mapsnya agak ngadat pas masuk gerbang komplek dan nyari-nyari alamat ini, mungkin sinyal lagi jelek. Jadinya telat.” Tya balas memeluk Khalisa, sama-sama berpelukan penuh rindu.
“Diantar sama siapa ke sini?”
“Diantar sama orang yang kerja di Rumah Mas Bisma. Namanya Mang Eko. Orangnya multitalenta, serba bisa. Mulai dari jadi tukang kebun, satpam sama sopir pun bisa,” kekeh Tya. Mang Eko yang sedang mengangkuti barang bawaan dari bagasi ke teras dan ikut mendengar mendadak merasa jumawa saat kemampuan bekerjanya dipuji sang nyonya, karena sang tuan lebih sering protes dan rewel padanya. Hanya saja kini cara berjalannya jadi aneh, kaku mirip pasukan prajurit robot, efek samping dari pujian.
“Mobilnya masukin garasi saja, Mbak,” kata Khalisa saat mengajak Tya masuk ke dalam rumah bertepatan dengan Mang Eko yang baru selesai menurunkan barang-barang.
“Enggak usah, Khal. Lagian aku juga enggak lama. Abis Dzuhur mau pulang lagi. Belum sempat bongkar koper-koper bekas dari Bali kemarin.”
“Yaahh, kenapa sebentar banget? Aku kepingin ngobrol banyak sama Mbak. Terus nanti jam satu di rumahku mau ada kajian taklim rutin bulanan yang jamaahnya ibu-ibu sekitar komplek ini, para istri rekan Bang Yudhis dan beberapa kenalan dekat. Barangkali Mbak mau ikutan. Penceramahnya Ustadzah Farhana, penjelasannya enak banget. Masih sepupunya yang punya klinik kecantikan tempat kita bertemu lagi itu. Terus aku juga udah masak banyak ini buat nyambut kedatangan, Mbak. Aku beneran kangen berat sama Mbak Tya, pinginnya Mbak jangan buru-buru pulang,” tutur Khalisa agak merajuk.
Tya tampak berpikir beberapa saat, kemudian melukis senyum lebar. “Mmm, kalau gitu aku bakal main lebih lama di sini. Aku juga pingin ngobrol banyak sama kamu.”
“Serius?” Mata bulat Khalisa berbinar.
“Iya, serius. Lagian Mas Bisma pulangnya sore bahkan seringnya malam. Jadi aku pulang abis Asar saja. Sebentar, aku mau minta Mang Eko pulang dulu saja, biar enggak kelamaan nunggu. Nanti minta dijemput pas mau pulang.”
Tya hendak berbalik ke luar rumah, tetapi lengannya ditahan cepat oleh Khalisa. “Enggak usah minta dijemput lagi, Mbak. Nanti kuantar pulang. Sekalian anterin Ustadzah Farhana pulang juga. Rumah Mbak di Antapani kan? Jalurnya searah dengan alamat Ustadzah Farhana,” jelas Khalisa tulus dan Tya mengangguk setuju.
Khalisa mengajak Tya berbincang di ruang keluarga, bukan di ruang tamu. Supaya nuansa keakraban semakin terasa, karena bagi Khalisa, Tya adalah bagian dari keluarganya meski tak memiliki hubungan darah, bukan hanya sekadar teman.
Mereka berbincang banyak hal terutama tentang kisah panjang lebar Tya yang dibawa kabur Jordan dan berakhir terdampar di metropolitan, juga bercerita tentang Caca. Khalisa pun bertutur bagaimana dirinya berkahir menikah dengan sosok Yudhistira Lazuardi. Yang semula demi hak asuh Afkar siapa sangka ternyata itu merupakan jalan dua hati yang berjodoh dipersatukan.
“Prosesnya kita bertemu dan dipersatukan dengan jodoh yang sesunggunya terkadang enggak umum. Tapi itulah cara ajaib Allah Yang Maha besar. Tak terduga oleh nalar. Bang Yudhis menikahiku agar hak asuh Afkar tidak jatuh ke tangan keluarga Mas Dion. Awalnya aku enggak terpikir kalau kami sudah menjadi suami istri sungguhan karena terlalu fokus pada masalah hak asuh. Tapi setelah hari di mana Dokter Aloisa membukakan pikiranku tentang yang namanya pernikahan, aku tersadar bahwa hak dan kewajiban mengiringi di dalamnya. Ijab kabul pernikahan bukanlah permainan, karena sebuah pernikahan enggak akan bisa terjadi tanpa izin Yang Maha Kuasa dan aku percaya itu. Banyak yang sudah berencana matang tapi pada akhirnya gagal menikah. Ijab kabul sakral yang diucapkan di depan penghulu, juga disaksikan Allah SWT serta malaikatnya. Aku memetik hikmah setelah menelaah, segala hal baik yang terjadi dalam hidup kita yang kadang di luar perkiraan adalah jawaban dari do’a-do’a kita yang tertunda. Yang harus disyukuri dan jangan disia-siakan,” kata Khalisa dengan nada penuh syukur yang kental.
“Oh iya, Mbak sendiri gimana ceritanya akhirnya menikah dengan Pak Bisma itu? Kata Bang Yudhis, katanya suami Mbak Tya adalah anak dari salah satu keluarga terpandang di Bandung Kota. Mbak orang yang baik, bahkan sangat-sangat baik. Mbak adalah orang yang enggak segan berkorban untuk sesama, sangat pantas mendapatkan yang terbaik,” ucap Khalisa menyambung kalimat.
Tya tertawa kecil. Pujian Khalisa tak membuatknya besar kepala, justru segala pujian yang terlontar membuatnya kian mawas diri. Tak jarang membuatnya semakin merasa tidak pantas menerima sanjungan demikian dan dicap baik. Karena setiap detiknya, Tya merasa dirinya hanyalah manusia berlumur dosa.
“Ceritanya panjang,” sahut Tya yang kemudian meceritakan yang perlu diceritakan saja. Hanya poin-poin penting, dibumbui dengan sedikit cerita romansa agar terdengar alami. Tak menyinggung perihal simbiosis.
Mereka makan siang bersama penuh sukacita. Afkar yang sudah pulang ikut bergabung. Selepas solat Dzuhur, Tya membantu Khalisa berbenah di paviliun samping. Menata air mineral dalam kemasan dan ikut membantu menggelar karpet-karpet bersama Bi Dijah di saat Disha merengek ingin disusui.
Beberapa jamaah mulai berdatangan. Semuanya berbusana muslim. Tya masuk kembali ke ruang tengah di mana Khalisa tengah mengganti baju Disha dengan busana muslim sarimbit.
Tya menarik diri lantaran merasa agak sungkan sebab tak memakai hijab meski baju yang dikenakannya tertutup dan sopan. Memakai kulot longgar dipadu tunik lengan panjang dengan ujung baju atasan melewati lutut.
“Khal, kayaknya aku mau pulang aja deh,” ucap Tya sembari membasahi bibirnya resah.
“Lho, kenapa?”
“Gini, jujur saja aku belum pernah ikut kajian, jadinya agak grogi. Terus, aku juga enggak pakai hijab. Jadi, aku pulang saja ya.”
“Eh tunggu-tunggu. Baju Mbak udah sopan dan tertutup. Kalau cuma perkara hijab, pakai saja hijabku, jangan pulang dulu. Banyak wejangan pernikahan yang biasanya disampaikan, pokoknya dijamin suka dan suami pasti tambah sayang. Akan aku ambilkan beberapa hijab, biar Mbak bisa pilih sendiri mau pakai yang mana. Titip Disha sebentar ya.” Tanpa menunggu jawaban Tya, Khalisa menyerahkan si bayi lucu pada Tya dan berlari ke kamarnya.
“Ya, Khal. Duh, gimana ini? Padahal bukan cuma karena hijab, tapi aku enggak pede berbaur sama wanita-wanita baik-baik dan terhormat,” cicitnya lesu. Menyugar rambutnya sendiri.
Tangan mungil Disha menepuk-nepuk pipi Tya. Tertawa lebar dan menatap wanita cantik yang sedang menggendognya dengan mata jernihnya. Bergumam-gumam bahasa bayi. Seolah memberi penghiburan membuat Tya terkekeh manis.
“Bayi cantik, apakah kamu sedang menghiburku?”
Bersambung.