Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 71



Sinful Angel Bab 71


Sepanjang perjalanan pulang, Tya banyak melamun. Kajian yang diikutinya semakin menyadarkannya akan fakta pernikahannya dengan Bisma. Meski secara siri, pernikahan mereka tetaplah pernikahan yang sama sah dan sakralnya. Jodoh, rezeki dan maut itu sudah tertulis di lauhul mahfudz, begitulah yang diterangkan Ustadzah Farhana.


Hatinya terus bertanya-tanya. Benarkah takdirnya sebaik ini? Bolehkah dirinya disebut berjodoh dengan Bisma yang notabene pria baik-baik dan berasal dari keluarga terpandang pula? Entah kenapa rasa-rasanya ia tak pantas.


Mobil berhenti sejenak di depan rumah Ustadzah Farhana. Tya pun ikut turun mengantar bersama Khalisa. Khalisa yang semula duduk di depan bersama sopir, kini beralih duduk ke kursi penumpang, bergabung dengan Tya, pada kursi yang tadi diduduki Ustadzah Farhana.


Mobil lanjut melaju membelah jalanan Kota Bandung. Tya kembali larut dalam lamunannya yang dalam hitungan detik buyar saat Khalisa memegang tangannya.


“Mbak, kenapa melamun?”


“Oh, eng-enggak apa-apa. Cuma lagi mikirin masak menu apa buat makan malam,” sahut Tya menutupi kecamuk sesungguhnya.


“Kukira kenapa. Enggak usah bingung. Aku tadi sengaja misahin masakan dan dibungkus buat Mbak bawa pulang. Ada di bagasi. Kuminta Bi Dije pisahin sebelum dihidangkan buat prasmanan ibu-ibu pengajian. Kalau habis pergi-pergi biasanya mau masak itu buntu ide, keburu capek, iya kan? Makanya aku sengaja bungkusin rawonnya, sudah lengkap dengan kecambah, perkedel, telur asin, sama emping plus sambalnya. Porsinya bisa buat makan empat sampai lima orang.”


“Duh, kok jadi ngerepotin gini. Tapi makasih, lho. Rawon buatanmu tadi enak banget.” Tya memuji sembari mengangkat jempol tangan kanannya.


“Sama sekali enggak ngerepotin. Ini enggak ada apa-apanya. Aku selalu ingat, Mbak pernah belikan aku makan sewaktu aku luntang-lantung di jalanan padahal saat itu kondisi Mbak juga tidak baik-baik saja. Babak belur. Tapi Mbak masih ingat buat ajak aku makan saat suara perut laparku bergemuruh. Ingat enggak? Waktu malam-malam kita ketemu di jalanan?”


“Dengan senang hati. Mbak sering-sering main ke rumahku, biar nanti kita bisa masak bareng. Pasti seru. Bisa sekalian ikut kajian lagi juga di rumahku,” cicit Khalisa gembira.


Tya mengangguk tipis. Saat duduk di majlis kajian tadi, jujur saja kenyamanan tak biasa merasuk ke dalam kalbunya, tak pernah menyangka hatinya merasakan kesejukkan tak terkatakan. Dimulai dari do’a bersama hingga tausiyah usai, semuanya menciptakan ketenangan batin. Hanya saja kembali ia terusik gundah saat teringat kembali kalimat dalam ceramah yang berbunyi.


Jodoh itu adalah cerminan diri. Laki-laki baik untuk wanita baik-baik. Begitu pula sebaliknya.


“Mbak, kenapa melamun lagi?” Khalisa mengguncangkan lengan Tya saat melihat wanita cantik bernetra teduh itu kembali termangu dengan sorot mata menerawang.


Tya menoleh pada Khalisa, tatapannya menyendu. “Khal? Apakah menurutmu aku benar-benar berjodoh dengan Mas Bisma? Bukankah laki-laki baik untuk wanita baik-baik? Sedangkan aku sangat jauh dari kategori wanita baik-baik. Kamu tahu sendiri seperti apa masa laluku,” lirihnya sedih.


Khalisa balas menatap Tya lekat-lekat. “Masa lalu Mbak memang pernah berkubang dalam lumpur noda dan sejatinya aku tahu kenapa Mbak sampai terjebak di dunia hitam itu. Semuanya bukan mau Mbak, semuanya bukan keinginan Mbak. Bukan sengaja memilih jalan itu, tapi dipaksa harus mau memilih itu sedangkan di masa itu Mbak tak punya daya upaya begitu juga aku. Tapi sekelam apapun masa lalu, masa depan Mbak masih suci. Dan kenapa Mbak sampai berjodoh dengan laki-laki baik, pasti karena dalam hati Mbak telah tertanam tekad ingin menjadi insan yang lebih baik, sehingga jalannya menjemput hidayah dipermudah.“ Khalisa menggenggam tangan Tya erat, sedangkan yang digenggam kini mulai berkaca-kaca.


“Tapi, mau ditilik dari segi apapun, rasanya aku tak pantas berjodoh dengan dia. Tapi kenapa, aku malah berharap ini memang suratan takdirku. Bukankah aku terlalu serakah, muluk-muluk dan tak tahu diri?” Genangan air mata Tya jatuh dari pelupuk. Membasahi pipi.


Khalisa menggeleng pelan. “Mbak sangat pantas. Yakinlah, ini adalah cara Allah SWT menyelamatkan umatnya yang benar-benar ingin berubah ke arah yang lebih baik. Tidaklah Allah mengubah nasib suatu kaum kalau kaumnya itu sendiri tidak mau berubah. Jangan pernah berputus asa akan rohmat Allah. Karena Sang Pencipta pasti lebih tahu isi hati setiap makhluknya, hati Mbak dipenuhi kasih sayang, tak segan mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkanku agar tak ikut terjerumus. Belum tentu orang yang bungkus luarnya baik, memiliki jiwa sebaik Mbak. Juga, andai semua wanita terpaku menilai jodoh hanya dari masa lalu, maka tidak akan ada yang mau menikah dengan Umar Bin Khattab. Dan apabila seluruh laki-laki memiliki pandangan serupa, maka tidak akan pernah ada yang mau menikahi Al Malikah.”


Bersambung.