Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 103



Sinful Angel Bab 103


Bisma baru berangkat sekitar lima belas menit yang lalu. Setelah memastikan mobil suaminya melaju pergi, Tya buru-buru masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Membuka salah satu tas miliknya, Tya mengambil alat tes kehamilan yang dibelinya dari minimarket. Gegas menuju kamar mandi, sudah tak sabar ingin mencoba mengecek sendiri.


Dengan perasaan tak menentu, Tya duduk di atas kloset dengan alat tes kehamilan di tangan, sedang menunggu garis yang akan muncul. Kedua matanya masih memejam rapat padahal sudah lebih dari lima menit berlalu, belum berani membuka mata, takut hasilnya tak sesuai espektasi.


Dirinya yang sebatang kara amat senang jika benar kini mengandung, karena jika benar begitu maka akhirnya dirinya memiliki sosok yang mempunyai darah yang sama dengannya di dunia ini, sebagian dirinya.


Tiupan napas panjang berdengung di kamar mandi. Perlahan, Tya memberanikan diri membuka mata. Siap tak siap ia harus siap dengan hasilnya dan rasanya sudah terlalu lama kelopak matanya mengatup.


Membekap mulut dengan tatapan tak percaya itulah reaksi Tya saat melihat hasil pada benda pipih yang dipegang tangan kirinya. Bola mata jernihnya berkilauan berkaca-kaca saat mengamati dua garis merah yang muncul di sana. Yang menandakan bahwa dirinya akan menjadi seorang ibu.


“Ini beneran dua kan garisnya. Ini beneran dua kan?” ujarnya sendiri masih tak percaya.


Buliran hangat meluruh membasahi pipi. Tya menangis, menangis bahagia. Menunduk, mengusap perutnya yang masih rata.


“Jadi, kamu ada di sana, Nak? Aku akan jadi Mama?” cicitnya terisak haru.


Bagi Tya yang kerap merasa rendah diri dan berlumur dosa, tak pernah terlintas diberikan anugerah tak terduga yang begitu indah. Yakni dipercaya mengandung keturunan dari pria luar biasa seperti Bisma. Pria yang bermimpi pun Tya tak berani mengharap apalagi memiliki serta dicinta dan dikasihi. Sadar diri siapa dirinya ini.


*****


Viona sudah menginjakkan kaki di Bandung lagi pada pukul dua siang ini. Senyumnya terus berseri meski tubuhnya penat dan lelah. Cerminan dari suasana hatinya yang sama cerahnya.


Sesampainya di kediamannya, Viona disambut beberapa ART yang bersegera mengangkut kopernya masuk.


“Bi, koper yang warna merah yang ukurannya paling kecil bawa ke ruang kerja saja, isinya piagam dan piala, mau dipajang di sana nanti setelah mandi,” perintah Viona sebelum menghilang masuk ke kamar pribadinya.


Viona sudah segar setelah bersua dengan air. Gegas membuka koper berisi oleh-oleh yang dibelinya dari negeri Jiran. Jumlahnya berbeda dari biasanya, paper bag ekslusif berisi oleh-oleh kali ini bertambah satu buah.


“Semoga Tya suka oleh-oleh ini ya,” gumam Viona dengan tatapan berlumur senyum.


Viona memeriksa lagi paper bag oleh-oleh berisi gaun muslimah dari salah satu perancang Malaysia yang dibelinya dua set dalam warna berbeda itu. Warna dusty pink untuk Tya dan yang warna milo untuk Nara. Disesuaikan dengan warna favorit anak menantu dan anak sulungnya.


Lelah yang mendera diabaikannya, Viona memilih pergi ke ruang kerja ketimbang beristirahat. Sudah tak sabar ingin memajang piagam dan piala barunya. Digabungkan berjejer dengan torehan prestasinya yang lain.


“Jadi kangen wedang kayu manis buatan Tya kalau lagi capek begini,” gumamnya sebelum membongkar si koper merah.


Raut puas tercetak jelas di wajahnya. Bersedekap, Viona mengabsen setiap bukti prestasinya yang semakin banyak saja. Gulir matanya berhenti pada sebuah bingkai foto, foto dirinya dengan Bima sang suami sewaktu di Perancis, kala Viona mendapatkan penghargaan intrnasional pertamanya di bidang fashion.


“Ah, andai Mas masih ada di sampingku. Kita pasti merayakan prestasiku dengan manis ya.”


Fokus Viona teralihkan pada sebuah amplop coklat yang masih tersimpan rapi di atas meja. Termenung sejenak mengingat-ingat amplop apa gerangan dan menepuk jidat ketika ingat amplop tersebut berisi apa.


“Saking sibuknya aku sampai lupa.”


Menarik kursi kerjanya Viona duduk di sana. Dengan cepat membuka isinya dan mulai membaca lembar demi lembar keterangan tertera beserta lampirannya yang juga memuat beberapa foto. Informasi tentang Tya yang dirinci secara detail, bahkan tentang ulasan orang tua Tya pun lengkap di sana. Tidak banyak yang aneh. Malah Viona turut prihatin dengan kehidupan Tya yang ternyata begitu keras, sebatang kara lagi.


“Tidak mungkin. Ini pasti salah. Pasti ada yang salah!” ujarnya seraya meraih ponselnya dengan tangan gemetar, menghubungi di detektif swasta yang dibayarnya untuk menggali informasi tentang Tya, ingin mengkonfirmasi bagian yang sulit dipercayainya.


*****


Tya turun dari ranjang periksa dengan perasaan was-was setelah dokter obgyn yang direkomendasikan Dokter Ambar menyelesaikan prosedur pemeriksaan padanya.


Duduk pada kursi yang terdapat di depan meja dokter, Tya duduk tak tenang. Berulang kali membetulkan letak kerudungnya. Berkali-kali juga Tya menggosok telapak tangannya yang mendadak berkeringat.


Meskipun sudah melakukan pengecekan menggunakan test pack, tetap saja rasa takut tak sesuai harapan menghantuinya sebelum dokter menyampaikan diagnosis.


“Bu Tya, Selamat, Anda positif hamil. Usia kandungan Anda sudah delapan minggu. Jadwal kontrol rutin akan dicantumkan di kartu kontrol kandungan. Saya juga akan mengonfirmasi kehamilan Anda pada Dokter Ambar agar obat dan vitamin pemulihan untuk ke depannya disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda yang kini berbadan dua,” tutur si dokter seumuran Nara itu ramah, menyampaikan kabar bahagia untuk Tya sembari ikut tersenyum.


“Jadi, saya benar-benar hamil, Dok?” tanya Tya yang tengah diserbu luapan bahagia hingga rongga dadanya terasa menggembung penuh. Memastikan lagi pernyataan dokter, khawatir telinganya salah mendengar.


Si dokter mengangguk mengiyakan. “Benar, Bu. Anda akan menjadi seorang Ibu. Saya akan meresepkan vitamin khusus kehamilan dan jangan lupa memeriksakan kandungan rutin sesuai jadwal. Sehat selalu ibu dan bayinya ya.”


Selagi menunggu namanya dipanggil di tempat pengambilan obat, Tya menunggu pada kursi besi pada kursi besi yang berderet di apotek rumah sakit. Senyumnya terus mengembang, bola matanya bergulir haru dan sesekali berkaca-kaca sembari menatap foto hitam putih di tangan, foto USG buah hatinya dengan Bisma.


“Apakah papamu juga akan segembira Mama? Sudah enggak sabar ingin segera memberitahu papamu tentang kehadiranmu, Anakku,” ucap Tya, mengusap sayang foto USG tersebut dan mengecupnya berulang kali.


Tya memasukkan lagi si foto hitam putih ke dalam tas saat namanya dipanggil pertanda obat dan vitaminnya telah siap. Langkahnya lebih ringan dari biasanya, mengayunkan kaki riang menuju tempat parkir sembari memeluk perutnya sendiri.


Ia berencana langsung ke kantor Bisma sekarang. Ingin segera menyampaikan kabar kehamilannya dan yakin suaminya sama gembira dengan dirinya. Sepengetahuan Tya dari cerita-cerita Teh Erna dan Mang Eko, Bisma sangat menanti memiliki buah hati sejak lama, mengingat pernikahan Bisma dengan Prita dulu tak kunjung dikaruniai anak.


Di selasar menuju area parkir yang lumayan sepi, Tya tersentak kaget saat lengannya disambar paksa seseorang. Ia hampir terjerembab, beruntung pilar tinggi di sebelah kanan menopang sisi tubuhnya.


Tya terhenyak saat mendapati siapa pelaku yang membuatnya terkejut. Sesorang yang telah membuatnya pingsan di kantor Bisma.


“Wah, siapa ini? Dunia ini begitu sempit ya, Cintya,” kekeh Markus dengan nada sumbang.


“Pak Markus? Lepas!” Tya menyentak lengannya yang dicengkeram Markus.


“Hei, jangan sok jual mahal, Cintya. Namanya murah tetap saja murah walaupun sekarang kamu berhijab,” olok Markus dengan tatapan mengejek.


“Jangan kurang ajar ya. Saya ini istri orang!” serunya galak. Tya memelotot sengit, mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pilar.


Si pria perlente berambut klimis itu menyeringai remeh. “Tak kusangka, pria terhormat seperti Bisma ternyata hobi mengutip sampah sepertimu. Ternyata Bisma itu buta dan dungu, mudah tertipu hijabmu. Ah, aku lupa sesuatu, kamu adalah sampah paling menggairahkan yang pernah kutemui.”


“Jaga mulut Anda, Pak Markus. Penampilan rapi Anda tidak cocok dengan mulut busuk. Anda boleh menghina saya, tapi jangan seenaknya mengatai suami saya. Dan tentang kehidupan saya sekarang sama sekali tidak ada urusannya dengan Anda!”


“Oh ya? kata siapa? Kita masih punya urusan yang belum selesai, Cintya. Tanganmu pernah menamparku dan kamu harus menebus itu! Ngomong-ngomong, pasti Bisma belum tahu siapa Cintya di masa lalu kan? Kalau kamu mau rahasiamu aman, ikutlah denganku sekarang untuk membayar upah tutup mulut!”


Beberapa orang perawat terlihat menuju selasar area parkir. Markus memundurkan tubuhnya dan Tya tak membuang kesempatan. Segera kabur mengambil langkah seribu bersama dengan rombongan perawat yang lewat meski kakinya lemas, gemetar. Gegas menaiki si Fortuner putih yang terparkir dan meminta Mang Eko tancap gas dari sana.


Bersambung.