Sinful Angel

Sinful Angel
Ending



Ending


Keesokan harinya, bukan hanya hanya Bisma dan Poppy yang berangkat ke Jakarta. Tya dan Viona pun turut serta. Sengaja berangkat sebelum waktu Subuh dan memilih menunaikan salat di rest area. Mereka berencana menemui Prita setelah urusan kerja Bisma dengan Presdir Pure Water yang meminta bertemu di ibukota selesai.


Beruntung Presdir Pure Water yang bernama Gailan Athaa Mahardika itu tak mempersulit dan bertele-tele dalam mencapai deal kali ini. Menyetujui tanpa banyak pertanyaan mencecar. Tak seperti dari kabar burung yang pernah Bisma dengar, presdir perusahaan air mineral terkemuka di tanah air ini merupakan pribadi yang sangat terperinci, tak jarang membaca semua berkas satu persatu super teliti. Mungkin efek galau berat yang tengah melandanya membuatnya tak seperti biasanya, terlihat jelas dari raut wajahnya.


Ba’da Dzuhur, Viona menelepon Prita dan meminta bertemu di sebuah kafe yang lokasinya tak jauh dari butik VN cabang utama Jakarta. Tak ada drama, Prita menyetujui karena dia pun mengatakan ingin bertemu. Setengah jam kemudian Prita datang menggendong bayi ditemani Rini. Turun dari sebuah mobil biasa yang dikemudikan Rini, bukan kendaraan mewah.


Untuk sejenak Prita terpaku saat kakinya memasuki area dalam kafe. Dia mengira hanya Viona yang mengajak bertemu. Ternyata mantan suami dan istrinya turut serta hadir di sana. Meskipun canggung, Prita meneruskan langkah. Mengulas senyum getir di wajah lelahnya yang tak lagi berhias kesombongan. Menyapa semua orang dengan nada rendah, juga bertanya kabar.


“Duduklah,” kata Viona mempersilakan.


“Terima kasih, Bu Viona,” sahut Prita sungkan yang tak lagi berani memanggil dengan sebutan ‘Bunda’, terlalu malu sebab baru menyadari telah banyak bersalah pada mantan mertuanya ini. Prita menyerahkan bayinya pada Rini dan Rini membawa si bayi tampan yang terlelap itu untuk duduk di kursi lain.


“Turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Maaf, aku terlambat tahu,” ucap Bisma kemudian. Menunjukkan simpati tulus dan Prita tahu kalimat Bisma bukan bualan.


“Makasih banyak, Mas,” sahutnya dengan seulas senyum getir.


“Siapa namanya? Bayinya tampan,” kata Tya sembari tersenyum ramah, kerudung warna lilac membingkai wajah cantiknya.


Prita membalas senyuman Tya. Tak ada lagi keangkuhan di sana, hanya ada raut seorang ibu yang penuh kasih saat mata sendu Prita melirik bayinya yang masih betah tertidur di pangkuan Rini.


“Namanya Narendra, panggilannya Rendra,” jawab Prita berlumur senyum.


“Nama yang bagus.” Viona ikut menyatakan pendapat.


“Sebelum Bu Viona mengajak bertemu, sebenarnya saya sudah berencana datang ke Bandung untuk menemui Bu Viona, Mas Bisma juga Tya. Hanya saja masih sungkan. Saya… ingin meminta maaf pada semuanya atas segala hal buruk yang pernah saya lakukan. Tak bermaksud menuntut dimaafkan sebab tahu apa yang pernah saya lakukan tak layak diberi maaf, hanya saja saya tetap ingin meminta maaf selagi masih diberi kesempatan,” tuturnya berucap sembari menunduk.


“Dan untuk somasi yang dikirimkan Mas Bisma, aku menerima sepenuhnya. Silakan diproses saja. Aku tidak akan mengelak lagi dari kesalahanku. Sudah terlalu lama aku memanjakan egoku tanpa memikirkan akibatnya,” sambung Prita yang menyebut nama mantan suaminya dengan penuh kesopanan dan kengganan.


“Maksud kami meminta bertemu pun adalah membahas tentang somasi itu. Aku memutuskan mencabut laporan atas permintaan istriku.” Bisma menukas lantas menoleh pada Tya.


Prita yang semula menunduk refleks mengangkat wajah. “Tidak perlu dicabut. Aku menerima jika harus masuk bui. Bagaimanapun, perbuatanku memang salah.”


“Tidak, Mbak. Kalau Mbak Prita masuk bui, bagaimana dengan Rendra? Bayimu pasti masih harus diberi ASI ekslusif kan? juga siapa yang akan mengasuh Rendra kalau Mbak di penjara? Atas pertimbangan itulah aku meminta dengan sangat pada Mas Bisma untuk mencabut laporan dan menyudahi persoalan somasi. Aku juga akan jadi seorang ibu, aku tidak sampai hati jika Rendra yang masih sangat kecil harus dipisahkan dari ibunya.” Tya yang menukas kini.


Prita menatap Tya nanar. Setelah dijahati pun Tya masih memikirkan nasib anaknya. Prita akhirnya mengakui bahwa Tya memang sangat serasi dengan Bisma. Terutama dalam hal kepribadian. Sama-sama lembut hati.


“Rasa-rasanya aku tak pantas diperlakukan sebaik ini. Aku terlalu malu,” lirihnya lantas Prita kembali menunduk.


“Jangan seperti itu, Prita. Kami tahu saat ini kamu sedang kesusahan dan tengah dilanda kondisi yang sangat sulit. Rasanya tak berperikemanusiaan jika kami tetap kukuh dengan somasi itu,” ucap Viona tulus. “Dan ini ada sesuatu dari kami.”


Viona menyerahkan sebuah amplop pada Prita membuat Prita mengerjap tak paham.


“Apa ini?”


“Ini kado buat Rendra juga kado selamat untukmu, selamat sudah menjadi seorang ibu,” kata Viona dengan senyuman hangat terukir. “Semoga bermanfaat.”


Prita membukanya dan isinya sungguh membuatnya tercengang. Tiga buah logam mulia yang masing-masing beratnya 25 gram. Buru-buru Prita menutup amplopnya lagi dan mendorongnya ke hadapan Viona.


“Aku tidak bisa menerima ini. Aku bahkan tak layak diberi selamat apalagi diberi kado sebesar ini.”


“Jangan begini, Prita. Kalau kamu merasa sungkan, simpan saja untuk kebutuhan Rendra di kemudian hari.” Bisma mengambil alih amplop tersebut dan memberikannya pada Prita.


“Iya, Mbak Prita. Pikirkan Rendra. Tolong diterima. Kami ikhlas, sungguh.” Tya ikut menimpali.


Sudut mata Prita terasa panas. Dibasahi air mata malu, sungkan, penuh sesal juga terharu. Tak menyangka keluarga yang pernah disakitinya itu masih peduli padanya di masa-masa terpuruknya ini. “Terima kasih, terima kasih,” hanya itu yang bisa Prita katakan dengan suara serak.


“Bagaimana dengan suamimu? Apakah kamu tidak berniat melaporkannya pada pihak berwajib?” Bisma kembali membuka percakapan.


Prita menghela napas berat, menggeleng pelan.


“Aku tidak tahu dia ada di mana sekarang dan sudah tak peduli. Dua hari lalu panggilan teleponku akhirnya tersambung meski cuma satu menit dan dia sudah menjatuhkan talaknya padaku saat kuminta. Aku juga sudah memasukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Tentang ulahnya dilaporkan pun percuma. Semua aset yang dibawa kabur juga dana yang ditarik semuanya sah atas namanya. Baik itu surat-surat berharga maupun rekening yang dipakai menyimpan dana penting perusahaan. Dan semuanya berpindah menjadi namanya atas persetujuanku secara sadar.”


Prita merasa de javu. Dulu pun dia melakukan hal licik serupa pada Bisma sehingga Sinar Abadi jatuh padanya.


“Saya sedang mencari rumah tinggal yang dijual murah, Bu Viona. Saya juga berencana membuka usaha katering bersama Rini menggunakan sisa uang yang ada, kebetulan ibunya Rini pandai memasak. Sekarang yang saya inginkan hanya fokus pada Rendra dan masa depannya.”


“Bunda do’akan. Semoga kamu dan anakmu selalu sehat dan diberikan keberkahan. Juga semoga baik kamu maupun kita semua dapat merenung, memetik hikmah dari segala hal yang sudah terjadi. Dan jangan lupa untuk terus memperbaiki diri.”


Satu tahun berlalu.


Di sebuah rumah sakit di pinggiran Kabupaten Lombok. Tampak dua orang yang sedang duduk di kursi tunggu berdebat sembari menunggu antrian periksa. Yang pria tampak tidak sehat dengan rambut yang terlihat rontok sehingga kepalanya agak botak di beberapa bagian sedangkan si wanita terlihat kurus kering tak terurus. Mereka adalah Radhika dan Cyra.


“Punya bini lelet banget bangunnya! Jadinya kita dapat nomor antrian bontot!” gerutu Radhika marah.


“Siapa yang lelet? Kamu saja yang bangunnya kepagian. Kalau enggak mau antri panjang, ya jangan berobat ke rumah sakit rakyat umum begini. Berobatnya ke rumah sakit bonafid atau langsung panggil dokter ke rumah kayak sebelum-sebelumnya!” balas Cyra tak mau kalah.


“Enak saja. Duitku sudah menipis, buat makan saja harus ngirit! Aku enggak sudi memakainya untuk berobat lagi. Lebih baik ke rumah sakit umum saja, lebih murah. Lagi pula aku jadi sakit begini juga gara-gara kamu! Kamu yang nularin virus laknat itu padaku! Kalau aku tahu kamu itu sarang penyakit, aku enggak bakal sudi nancepin pusakaku dan nikahin kamu walaupun secara siri! Tapi terlanjur!” geram Radhika berang.


“Cih, terlanjur tapi doyan! Tentang virusnya udah kubilang bisa saja kamu yang bawa si virus HIV itu dan jadi nular ke aku. Sial banget sih aku, jadi sakit-sakitan begini, hidup susah, belum lagi punya suami udah kere, letoy, mulutnya lemes pula!”


“Heh, ngomongmu sembarangan! Kita begini juga sudah pasti gara-gara kamu yang dulunya ternyata suka dibooking om-om!”


“Bapak dan Ibu mohon tenang! Ini rumah sakit, bukan pasar. Kalau mau ribut silakan di luar!” tegur salah satu perawat pada mereka.


Ya, Radhika dan Cyra menikah secara siri di tempat pelarian mereka setelah puas berlibur ke tempat-tempat indah di Nusantara. Radhika tak ingat lagi pada anak dan istrinya. Terus berhura-hura dan berfoya-foya, dan di enam bulan terakhir mereka dinyatakan positif mengidap HIV.


Uang berlimpah yang Radhika miliki nyaris habis dipakai berobat. Cyra pun yang semula hanya berniat menguras uang dan meminta cerai setelah Radhika kere, tak dapat merealisasikan niatan busuknya. Tubuhnya tak lagi menjual setelah digerogoti penyakit. Akibat penyakitnya ini, sudah dipastikan tidak akan ada pria yang mau lagi padanya dan hanya Radhika tempat bergantungnya sekarang. Jadi model lagi pun sudah pasti tidak akan laku. Begitu pula dengan Radhika yang sudah pasti tidak akan ada wanita yang mau lagi padanya yang penyakitan. Hanya Cyra yang masih mau mengurusnya karena mengidap penyakit yang sama.


Akhirnya mereka mau tak mau saling merawat meski hari-hari mereka dilalui dengan perdebatan saling menyalahkan setiap saat, terjebak dalam lingkaran saling memanfaatkan tak berujung yang entah berlangsung sampai kapan.


Di Jakarta, Prita tengah meniup lilin bertiga dengan Rendra dan Rini. Merayakan ulang tahun putranya yang ke satu tahun bertiga saja walaupun sudah lewat satu bulan. Bertepuk tangan gembira bersama-sama.


Sementara itu di Bandung. Tya sedang mondar-mandir di kamar mandi malam ini. Menggigit bibirnya resah sembari memandangi benda di tangan kanannya.


“Sayang, kenapa lama banget? Gimana hasilnya?” Bisma mengetuk dan memanggil lantang di depan pintu kamar mandi lantaran istrinya tak kunjung keluar dari sana.


Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam. Akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Wajah cantik Tya tampak kalut.


“Jadi gimana?” cecar Bisma tak sabaran.


“Maafin aku, Mas. Hasilnya positif, pasti karena aku lupa minum pil KB,” sahutnya lesu. “Duh, gimana ini. Usia Alghfari baru tujuh bulan tapi aku sudah hamil lagi,” lirihnya bingung.


“Jadi, kamu beneran hamil?” Raut wajah Bisma begitu cerah, berbanding terbalik dengan Tya.


“Maafkan ketelodaranku,” ujar Tya yang terus menunduk.


“Alhamdulillah. Kenapa harus minta maaf? Justru aku senang akhirnya istriku hamil lagi. Itu artinya benihku ini memang super unggulan,” jawab Bisma semringah yang disusul kecupan sayang di wajah Tya. Mengangkat dagu si wanita yang menunduk itu juga merangkul pinggangnya.


“Tapi anak kita masih kecil, Mas. Gimana kalau aku enggak mampu membagi kasih sayang yang adil pada bayi-bayi kita?” ujarnya bingung. Kekalutan lumrah dialami oleh ibu hamil yang jarak kehamilannya berdekatan.


“Menyayangi dan mengasihi mereka bukan cuma tugasmu, tapi tugasku juga dan aku percaya kamu mampu. Enggak perlu khawatir begitu, yang harus kita lakukan adalah mengucap syukur. Juga ingat, anak adalah anugerah tak terhingga yang tidak semua orang diberi kepercayaan. Kamu sekarang hamil lagi, itu artinya kita dipercaya menjadi orang tua,” tuturnya sambil menatap penuh cinta.


“Mas benar, untuk sejenak aku lupa. Makasih selalu mengingatkanku, Suamiku.”


Segala keresahan Tya luruh sudah saat dekapan aman dan nyaman itu memeluk raga dan hatinya dengan cinta semurni tetesan embun. Kebingungannya berganti derai syukur. Sungguh, hanya kebahagiaan sempurna dan limpahan cinta yang kini memeluknya setelah panjangnya derita yang telah dilaluinya. Berbuah manis berkat kebaikan tulusnya pada banyak orang di masa sulitnya. Menjadi bidadari yang dihargai meski sempat berkubang dalam lumpur pekat dan hina.


TAMAT.


Alhamdulillah, wasyukurillah. Akhirnya novel Sinful Angel telah sampai pada akhir cerita. Kuucapkan terima kasih buat semua pembacaku tersayang atas apresiasinya yang selalu mendukung dengan cintanya, dengan votenya, dengan giftnya yang sungguh luar biasa padahal novel ini tidak ada giveawaynya, sungguh terharu, juga tak lupa dengan like dan komentar positifnya.


Semoga cerita ini bukan hanya sekadar menghibur, tapi juga punya secercah manfaat yang bisa dipetik oleh pembaca semua.


Sampai jumpa di cerita lainnya. Follow instagramku untuk mengetahui info yang lebih up to date.


Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin.


Akhirul kalam, wassalamu'alaikum wr. wb.