Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 30



Sinful Angel Bab 30


Bisma mendorong kursi roda yang diduduki Tya. Setelah Tya jauh lebih tenang, pihak rumah sakit memperbolehkan Tya melihat wajah si gadis yang pernah menjadi penolongnya itu untuk terakhir kali.


Tya tak menolak saat Bisma membopongnya dari tempat tidur untuk didudukkan ke atas kursi roda setelah izin untuk melihat Caca didapat. Di kepalanya hanya ada Caca, tak peduli pada hal lain bahkan pada dirinya sendiri. Sudah tak sabar ingin bersua dengan Caca.


Raga Tya memang di sini. Namun, pikirannya sejak tadi jelas melayang pada si gadis penolong yang sudah dianggapnya seperti keluarga. Bukan hanya sekadar dekat dalam ikrar kata, tetapi juga dalam jiwa.


Para perawat memberikan ruang saat Bisma menggendong dan memindahkan Tya di ruang perawatan tadi, mengingat dari keterangan pria gagah ini, dia ini adalah calon suami si pasien. Juga membiarkan Bisma mendorong kursi roda Tya sedangkan mereka memimpin jalan.


“Kamu siap?” Bisma membungkuk, bertanya tepat ke telinga Tya begitu mereka sampai di depan pintu ruangan yang bertuliskan kamar jenazah.


Tya terpaku, tatapan nanarnya lurus membaca tulisan yang tertera di depan ruangan tertutup ini. Dengan gerakan perlahan kepalanya mengangguk meski jiwanya tercabik remuk redam menanggung kenyataan yang baginya laksana mimpi buruk di siang bolong.


Pintu pun terbuka. Para perawat membimbing langkah Bisma menghampiri tempat di mana Caca terbaring tak bernapas lagi.


Tangannya kirinya memegang erat sisi kursi roda saat melihat kain putih yang menutupi sosok di bawahnya. Menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sebah di dada yang ingin menyembur. Dan ini merupakan kali pertama dalam hidupnya, Tya tampak rapuh luluh lantak. Bisma meremas bahu Tya, mencoba memberi ketenangan.


“Silakan, Mbak Tya.”


Para perawat menyingkap kain penutup begitu Tya dan Bisma sudah berada dekat dengan jenazah. Membuka kain kafan di bagian wajah Caca, memberi kesempatan pada Tya untuk melihat gadis remaja yang sudah dianggapnya adik sendiri untuk terakhir kali.


Bola mata Tya seketika buram, dipenuhi genangan air mata saat melihat Caca yang sudah terbujur kaku terbungkus kain kafan. Punggungnya berguncang, Tya terisak-isak nyeri, menahan raungan yang ingin pecah.


“Caca,” lirihnya pilu.


Bisma membantu Tya yang ingin berdiri. Bisma menopang Tya dengan tubuhnya, merangkul Tya hati-hati.


Tya mengulurkan tangan kirinya sebab tangan kanannya cedera. Membelai lembut pipi Caca yang terasa dingin, membungkuk perlahan dibantu Bisma, mengecup kening Caca terbungkus isak tangis tertahannya.


“Caca, anak baik, adikku sayang,” ucap Tya dengan tenggorokan tercekat bersama buliran hangat kian membanjiri pipi.


“Apakah senyum cantikmu ini ingin memberitahukan sama Mbak kalau kamu sekarang bahagia? Pasti kamu sudah enggak merasa sakit lagi dan sedang gembira karena sekarang kamu sudah bersama ibumu di sana kan? Tapi, Mbak jadi sendirian di sini, kenapa kamu enggak ngajakin Mbak pergi juga?”


Bisma mengeratkan rangkulan pada tubuh lemah Tya. Menyaksikan nelangsa Tya di hadapannya, sudut matanya ikut memanas.


“Tya, saya tahu ini berat. Saya tidak akan menyuruhmu untuk kuat sekarang. Tapi, saat ini, mengikhlaskan adalah yang terbaik,” kata Bisma penuh pemakluman.


Tya menoleh, menengadah pada Bisma. Tak menutupi kerapuhannya, sungguh, Tya butuh sandaran sekarang, butuh penghiburan menguatkan.


“Apakah sudah waktunya mengucap selamat tinggal pada adikku, Pak?”


“Ya, antar dia dengan do'a dan kasih sayangmu. Dan yakinlah dia lebih bahagia sekarang. Takdir Sang Maha Pemilik Kehidupan sudah pasti yang terbaik.”


Tanpa dikomando, Bisma mengusap lembut kepala Tya, membawanya ke dadanya. “Menangislah, jangan ditahan, saya tahu kamu ingin menangis.”


Entah keberanian dari mana, tanpa sungkan Tya membenamkan wajahnya di dada pria yang baru dikenalnya sekilas ini. Tangisnya pecah, tumpah ruah. Terisak nyeri, dirundung sedih hati. Hingga akhirnya Tya pingsan di tengah-tengah sedu sedannya, terkulai tak sadarkan diri.


Bersambung.