
Sinful Angel Bab 152
Rumah Viona pagi ini tampak riuh. Pagi-pagi sekali Nara sekeluarga sudah datang berkunjung ke kediaman sang bunda begitu mendengar Tya akan tinggal sementara di sana.
Di akhir pekan ini anak menantu Viona berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau hangat penuh keakraban, ditambah keceriaan si kecil Brilly yang berceloteh banyak hal, menunjukkan kemampuannya yang sudah lancar menulis.
Brilly menggulirkan pensil di atas kertas. Menuliskan nama semua orang yang ada di sana. Para ART pun tak luput dari incarannya, ditanyai dan dicecar oleh si kecil nan lucu yang hari ini memakai baju muslim anak-anak berwarna lavender lengkap dengan jilbab bergo yang dipakai agak miring saking aktifnya Brilly berinteraksi. Bahkan Brilly bertanya siapa nama adik bayi yang ada di kandungan Tya, bertanya polos dan agak memaksa harus diberi nama.
Viona, Bisma dan Arkana berbincang bertiga di halaman samping dengan hamparan taman dan kolam ikan dangkal yang melengkapi. Masih terlihat dari area living room karena pintu taman samping memang terhubung dari ruang keluarga di mana Tya, Nara dan Brilly sedang bercengkerama bersama.
Bisma bercerita pada sang bunda tentang pembicaraan tertunda semalam. Yaitu perihal Markus yang telah dipastikan takkan berani lagi berbuat ulah. Baik itu mengganggu Tya maupun menggibahi masa lalu Tya dari mulutnya.
“Untuk langkah selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan?” Viona bertanya pada Bisma yang baru selesai bercerita panjang lebar.
“Untuk saat ini, kita hanya perlu waspada. Prita dan Radhika belum terdeteksi pergerakannya. Tunggu ikan serakahnya yang mendatangi kita. Barulah kita serang dari dekat. Tidak perlu repot-repot melempar umpan, hanya perlu memukul tepat sasaran saat musuh mendekat,” sahut Bisma tanpa keraguan.
“Kapan Markus akan meninggalkan kota ini? Kalau masih lama, aku dan Bunda akan mengerahkan orang untuk mengawasinya, berjaga-jaga sebagai antisipasi kalau-kalau dia tiba-tiba berulah.” Arkana ikut bertanya.
“Aku sangat yakin Markus tidak akan berani macam-macam lagi, Bang. Kecuali dia ingin menghancurkan dirinya sendiri. Dia meminta waktu satu bulan untuk membenahi urusan pribadinya di sini sebelum enyah dari Kota Bandung.”
Sore harinya Bisma berpamitan pada Viona ingin mengajak Tya berkencan di akhir pekan ini. Memenuhi janjinya sewaktu berlibur di pangalengan. Ingin berkencan lumrahnya muda-mudi yang saling mencinta. Sejak menikah dan cinta terucap dari lisan, mereka belum pernah sekalipun pergi melakukannya.
Bisma juga memenuhi permintaan Tya yang ingin pergi mengenakan kaos couple. Meski dengan berat hati, mau tak mau Bisma memakainya daripada Tya merajuk dan menolak dipeluk olehnya saat waktunya naik peraduan tiba. Beruntung warna kaos oblong couplenya berwarna hitam, jika warnanya pink entah apa yang akan terjadi dengan imagenya andai tak sengaja bertemu dengan koleganya di tempat umum.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Ingat, Tya lagi hamil. Jangan diajak jalan-jalan terlalu capek juga apalagi sampai naik turun tangga.” Viona mengantar dua sejoli itu ke garasi. Mengingatkan putranya. Mencerocos bawel khas ibu-ibu.
“Siap, Bunda,” sahut Bisma, mencolek dagu Viona jahil.
“Selamat bersenang-senang, Sayang,” kata Viona pada Tya, penuh perhatian.
Tya mengangguk, senyum gembira tercetak jelas. “Makasih, Bunda,” jawabnya.
Bisma mengabulkan semua permintaan Tya. Mulai dari menonton film horor, membeli popcorn, membeli es krim sampai membeli boneka.
Senyuman gembira Tya terus merekah. Bisma benar-benar mengabulkan permintannya tentang tektek bengek berkencan yang diinginkannya meski terkesan kekanak-kanakkan. Memeluk boneka beruang raksasa berwaran dusty pink yang dipilihnya sembari menyusuri salah satu mall eksklusif di kota ini yakni The Royal Plaza. Menolak galak saat Bisma hendak mengambil alih si boneka karena khawatir Tya kerepotan.
“Enggak mau, aku pengen peluk boneka ini!”
“Tapi aku ngelihatnya kamu kerepotan, Sayang.” Bisma menjelaskan alasannya kenapa ingin mengambil alih. “Nanti kan bisa peluk sepuasnya kalau sudah sampai di rumah bunda.”
Tya lagi-lagi tersenyum senang. Antusias meraba-raba si boneka empuk dan lembut itu. Menciumnya gemas. Boneka baru merupakan hal yang sangat mewah bagi dirinya yang sejak kecil seringnya hanya mendapat boneka bekas juga usang. Mungkin telihat sepele, tetapi bagi anak-anak panti terlebih di panti asuhan yang tidak memadai seperti tempat di mana Tya dibesarkan, hal semacam ini tak pernah di dapatkannya.
Sorot mata Bisma melembut. Hal yang membuat Tya gembira begitu sederhana, padahal jika Tya meminta kemewahan sekalipun dia pasti akan memberikannya.
"Kamu suka boneka kayak gini?" tanya Bisma, merangkul Tya mesra.
"Suka banget, Mas." Tya menjawab apa adanya, memeluk si boneka posesif.
"Mau beli lebih banyak? Atau mau beli seisi tokonya juga boleh," tawar Bisma sungguh-sungguh.
"Enggak usah. Satu aja sudah cukup. Yuk, ah. Aku lapar, katanya Mas mau ngajak aku makan steak enak? Aku sudah enggak sabar pingin nyicipin."
Bisma memesan hidangan lengkap. Mulai dari menu pembuka, menu utama dan lengkap dengan dessert.
Tya yang akhir-akhir ini kurang beselera makan efek mual muntahnya, saat ini justru makan dengan lahap. Bahkan memesan ulang menu utama, menghabiskan dua porsi steak sampai ludes, agak malu setelahnya saat melihat piring dan peralatan bekas makannya yang menumpuk di atas meja.
"Dulu aku enggak begitu suka daging merah. Tapi kayaknya ini dedeknya yang kepingin nambah," ujarnya, mengelus perutnya sendiri mencari alasan karena malu melihat selera makannya yang mendadak rakus.
"Iya deh iya, itu dedeknya yang pingin nambah, bukan Mamanya." Bisma mengekeh gemas melihat ekspresi Tya yang malu-malu tapi mau.
"Masih kurang enggak? Mau pesan yang lain?" Bisma khawatir istrinya masih kelaparan, untuk itulah dia memastikan.
"Sudah cukup, Mas. Kenyang banget. Tapi aku pingin duduk dulu sebentar sebelum kita pergi, biar lambungku mencerna makanannya dulu," pinta Tya yang memang kekenyangan.
"Tenang saja. Kita memang enggak bakalan langsung pergi selepas makan. Aku sudah bilang sama pihak restoran, membooking meja ini sampai dua jam ke depan."
"Kenapa lama, banget? Buat apa dua jam duduk di sini?" tanya Tya penasaran.
"Aku lagi nunggu seseorang, kayaknya sebentar lagi dia datang." Bisma mengecek ponselnya, membaca balasan pesan dari orang yang sedang ditunggunya.
"Lho, Mas janjian sama orang juga? Kalau mau ngobrol masalah kerjaan, aku enggak enak nimbrung-nimbrung. Nanti kalau aku malah ganggu dan gak nyambung gimana?" Tya mengutarakan keresahannya. Sebab dia memang tidak begitu paham dengan dunia bisnis.
"Bukan tentang pekerjaan, tapi aku lagi nunggu seseorang yang harus minta maaf dan minta ampun sama kamu secara langsung."
Bersambung.