
Sinful Angel Bab 18
Penampilan serasi Bisma dan Tya mencuri perhatian hadirin di pesta Radhika dan Prita. Membuat Prita kesal bukan main, merasa kalah dari segi penampilan, jelas tersaingi.
Gentleman, Bisma menyapa Radhika tanpa menanggalkan tata krama. Tetap menjaga attitude dan kesopanan meski tinjunya gatal ingin melayangkan bogem mentah setiap kali melihat sosok mantan sahabat yang telah menusuknya dari belakang.
Rona berbisik-bisik kepo pada suaminya tentang sosok wanita yang dikenalkan Bisma sebagai istri. Merasa situasi membuatnya ikut bingung, Vero membujuk istrinya untuk undur diri lebih awal daripada berakhir salah bicara, mengirimkan pesan ultimatum ke ponsel Bisma sebelum berpamitan.
Wahai tukang teh! Kamu hutang penjelasan padaku!
Selama acara berlangsung, delikan sinis Prita mengintimidasi si mantan suami juga Tya. Dia masih tak percaya Bisma sudah move on darinya. Menggores kesombongan yang selama ini diagungkan sebab merasa didewikan dan dijadikan rebutan dua pria yang kini hancur jalinan persahabatannya.
Hal yang paling membuatnya tak suka adalah laku romantis Bisma pada pasangan di khalayak umum. Dulu, Bisma yang dikenalnya sangat menjaga sikap dan cenderung menghindari mempertontonkan kemesraan saat berada di ranah publik. Sering tampak risi dan tak nyaman saat Prita melakukan skinship terlalu berlebihan.
Namun, beberapa saat yang lalu mata dan kepalanya menyaksikan jelas bagaimana Bisma mengecup mesra punggung tangan Tya di depannya. Seolah tengah mendeklarasikan bahwa istri barunya ini lebih bervalue dibandingkan dirinya, sehingga perlakuannya pun jelas berbeda. Dan penegasan perihal dirinya tidak lagi menjadi bagian penting bagi Bisma menohok egonya, tetapi bukannya malu, Prita justru merasa marah.
Selepas mencicipi satu macam hidangan sebagai adab sopan santun, Bisma mengajak Tya bergandengan lagi, menghampiri Prita yang ekspresi mukanya luar biasa masam. Menggerus kecantikan rupa yang diagungkannya.
“Prita. Aku tak bisa berlama-lama. Istriku jarang begadang, jadinya dia sudah mengantuk,” jelas Bisma sembari merangkul pinggang Tya.
“Maaf ya, Mas. Gara-gara aku mengantuk, Mas jadinya harus meninggalkan pesta lebih awal,” kata Tya pelan pada Bisma, dengan nada bicara yang dibuat semenyesal mungkin.
Tya tak menimpali kalimat Prita, insting tajamnya membaca bahwa mantan istri kliennya ini memang sedang memancing keributan dengannya untuk menjatuhkan image Bisma tentu saja. Akan tetapi, andai Bisma memintanya menjambak wanita sok cantik beraura gelap di depannya ini, dengan senang hati Tya akan mencakarnya.
“Enggak apa-apa kok, Sayang. Bagiku, kamu lebih penting dari apapun. Mana tega aku maksa kamu tetap di sini sedangkan istriku ini ngantuk berat. Lagi pula, meluk kamu sambil tidur lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di tempat bising ini,” ujar Bisma manis, membuat Tya agak bergidik juga mulas-mulas terlibat sandiwara tak tanggung-tanggung yang mau tak mau harus diimbanginya kali ini, sedangkan air muka Prita makin kecut saja.
Tya memukul pelan bahu Bisma dengan gerakan manja. Lantas tersipu malu-malu kucing. “Ish, Mas. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Malu didengar orang,” balas Tya yang kemudian meraba pipinya sendiri.
“Kami pamit. Sekali lagi selamat atas anniversary pernikahan juga kehamilanmu. Sampaikan salamku pada Dhika.”
Prita mengepalkan tinju penuh emosi saat mantan suami dan istrinya itu berbalik badan. Sorot matanya menghunus tajam pada punggung pasangan berbaju hitam yang semakin menjauh dari pandangan. Membuka tas kecil di meja, Prita menghubungi nomor sopirnya dan menyerukan titah.
“Bersiap di parkiran sekarang juga!”
Bersambung.