Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 116



Sinful Angel bab 116


Guyuran hujan sudah tak sederas dua jam yang lalu. Belum sepenuhnya mereda, masih menyisakan rintik-rintik air yang lebih halus rinainya.


Sudah dua jam pula Bisma menyusuri jalanan, berjalan kaki tak tentu arah dengan pakaian kuyup membungkus tubuh, sekujur badannya pun basah seluruhnya dari ujung rambut hingga alas kaki.


Entah sudah sejauh mana Bisma menyusuri jalanan dan menyisir masuk ke setiap gang-gang kecil, berharap menemukan Tya yang mungkin sedang berteduh dari derasanya air hujan.


Dia juga bertanya pada setiap orang yang dijumpainya di pinggir-pinggir jalan, seperti pada pedagang rokok, pedagang makanan, juga toko dan kios yang dilaluinya sembari menjelaskan ciri-ciri Tya, berharap ada yang melihat istrinya melintas. Meskipun sampai detik ini sama sekali belum ditemukan petunjuk ke mana Tya pergi.


“Kamu pergi ke mana? Tak punya sanak saudara, lantas ke mana tujuanmu dalam kondisi hamil sedangkan di luar banyak bahaya yang mengintai? Cepat pulanglah kembali padaku, Sayang. Kumohon, kasihanilah aku,” rintihnya perih, rongga dadanya kembang kempis.


Bisma melanjutkan pencariannya sembari tersengal-sengal tersiksa perih hati, lantaran pikiran buruk lainnya melintas menghantuinya, takut Tya berpikiran pendek dan berbuat hal nekat. Andai hal buruk terjadi pada Tya, baru memikirkannya saja Bisma merasa kewarasannya hilang direnggut dari nalarnya.


Buru-buru kecamuk buruk itu ditepisnya. Cintyanya tidak mungkin berbuat semacam itu. Tak ingat dengan rasa lelah, Bsima terus melanjutkan mencari Tya, sampai akhirnya dia melihat seseorang yang dikenalnya turun dari mobil mewah di depan sebuah kedai bakso.


“Khalisa dan Yudhis?” gumamnya dengan bibir pias didera hawa dingin.


Bisma memokuskan pandangan, ternyata memang benar itu adalah Khalisa dan suaminya. Khalisa adalah satu-satunya teman yang dimiliki Tya. Seingatnya, Tya tak memiliki teman akrab lainnya selain Khalisa, seberkas harapan muncul di tengah semrawut frustrasinya. Berharap Khalisa tahu ke mana Tya pergi.


Bisma mempercepat langkah setengah berlari, mencegat Khalisa dan Yudhis yang hendak masuk ke dalam kedai. Membuat Khalisa tersentak kaget.


“Pak Bisma?” imbuh Khalisa terkesiap. Makin dibuat terkejut saat meihat wujud Bisma yang basah kuyup tak karuan.


“Anda kenapa basah kuyup begini? Di mana mobil Anda?” Yudhis pun ikut terkejut dengan kemunculan Bisma yang acak-acakan dan terlihat tak baik-baik saja. Spontan memindai dari atas sampai sepatu yang dipakai Bisma. Bukan bermaksud berbuat tidak sopan, Yudhis hanya khawatir kemungkinan Bisma menjadi korban kejahatan dan terluka. “Apakah Anda dirampok?”


Bisma menggeleng cepat. “Bukan. Tapi maaf, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan pada istri Anda, Pak Yudhis. Ini sangat mendesak, hal yang sangat penting. Ini tentang istri saya, Tya. Barangkali istri Anda tahu sesuatu,” pinta Bisma langsung menodong saja, tidak ingin membuang waktu sedetik pun. Bergerak gesit lebih utama.


“Tentang Mbak Tya? Ada apa dengan Mbak Tya?” tanya Khalisa cepat, tiba-tiba diserbu was-was saat melihat air muka Bisma amat keruh ketika menyebut nama Tya.


“Sebaiknya kita bicara sambil duduk. Pak Bisma, mari kita bicara di dalam kedai saja, biar lebih enak ngobrolnya.”


Mereka bertiga bergegas masuk. Bisma bercerita poin-poin masalah secara garis besarnya saja, tidak menerangkan detail dan gamblang. Menekankan pada inti ke mana kemungkinan tujuan Tya pergi, sebab penolakan keras dan kukuh sang bunda terhadap Tya rasanya kurang pantas jika diumbar. Menjaga marwah Tya sebagai istrinya yang mengalami penolakan bundanya karena masa lalunya, juga harga diri bundanya sebagai orang tua. Tetap menjadi pakaian bagi keluarganya tanpa terkecuali di situasi genting sekali pun.


Khalisa yang semula bersemangat hendak menyantap bakso, langsung kehilangan selera ketika mendengar Tya pergi dari rumah. Khalisa malah menangis, terlebih saat mengetahui Tya sedang mengandung.


“Mbak Tya tidak pernah membahas apa pun tentang hal ini. Tapi, kenapa dia tidak mencari saya saja kalau memang punya masalah dan memiliki rencana pergi dari rumah? Mbak Tya tidak punya teman akrab selain saya. Bagaimana ini?” tutur Khalisa yang juga diserbu kecemasan sekarang.


“Mbak Tya pergi seorang diri tanpa tujuan dalam kondisi hamil sangatlah berbahaya. Yang paling saya takutkan adalah kemungkinan Mbak Tya bertemu dengan para pria brengsek yang mengetahui masa lalunya. Bagaimana kalau Mbak Tya dijahati? Gimana ini, Bang. Gimana ini?” sambung Khalisa sembari sesenggukan di bahu Yudhis. Kalut juga takut terjadi hal buruk pada sosok yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri itu.


Bisma tak berlama-lama bertukar kata. Khalisa dan Yudhis pun berjanji akan ikut mencari dengan sungguh-sungguh. Bisma memutuskan menutup pembicaraan dan berpamitan.


“Anda mau ke mana sekarang?” tanya Yudhis saat Bisma bangkit dari duduknya.


“Saya mau lanjut mencari Tya lagi,” jawabnya tanpa ragu.


“Maaf kalau saya sok tahu. Tapi, sebaiknya Anda pulang dulu dan berganti pakaian, Pak. Mengisi perut dulu barulah lanjut mencari. Untuk mencari Bu Tya Anda harus tetap kuat dan sehat. Saat ini wajah Anda sangat pucat dan pakaian pun basah kuyup.” Yudhis memberi saran. Dia khawatir Bisma tumbang di jalanan.


“Tidak ada waktu untuk itu. Saya akan lanjut mencari,” tegas Bisma tak dapat dicegah.


“Semoga segera ada kabar baik. Tapi, sekarang Anda mau pergi ke mana? Saya dan Khalisa bersedia mengantar. Bukankah mobil Anda diparkirakan sangat jauh dari sini?”


Bisma sebenarnya buntu, tak tahu harus mencari ke mana. Kemudian dia teringat dengan sebait kalimat dalam surat Tya yang menuliskan bahwa Tya sudah berpamitan pada bundanya. Baru tersadar, sudah pasti alasan kuat kepergian Tya disebabkan oleh ibunya sendiri.


“Saya mau ke rumah sakit Satya Medika untuk menemui bunda saya. Jangan merepotkan, saya bisa naik taksi.”


“Ayo, saya antar saja, Pak Bisma. Di kondisi Anda sekarang, sebaiknya jangan berpergian sendiri, demi keselamatan Anda.” Yudhis tak mungkin membiarkan Bisma yang mirip orang linglung bepergian sendiri. “Jangan menolak bantuan saya, Pak Bisma. Saat ini saya memaksa. Anda harus tetap baik-baik saja agar dapat berjuang maksimal dalam mencari istri dan anak Anda.”


*****


Bisma sampai di rumah sakit di mana Viona dirawat inap. Mengayunkan kaki tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Tak memedulikan lirikan orang yang memperhatikan kondisi kusut masainya dengan sekujur tubuh menyisakan jejak basah di mana-mana.


Rahangnya mengetat, tangannya mengepal kuat dan manik mata tajamnya kembali mengkilap oleh tirai air mata saat pintu ruang perawatan sang bunda mulai terlihat. Disiksa nyeri batin, terjebak dalam dilema antara dua orang yang sangat berarti baginya.


“Bisma?” Nara yang sedang membukakan botol air mineral untuk bundanya, tersentak kaget saat melihat kedatangan adiknya dalam wujud tak biasa. Kacau balau dengan mata memerah. Tak mengetuk pintu maupun mengucap permisi.


Tak menjawab sapaan kakaknya, Bisma menghampiri Viona yang juga terkejut melihat kedatangannya yang menguarkan aura kepedihan luar biasa.


“Bisma, ada denganmu, kenapa kamu basah kuyup?” tanya Viona kemudian.


Dengan tatapan penuh luka dan pelupuk menggenang, Bisma membuka mulutnya yang bergetar. Inginnya dia berteriak meluapkan ledakan amarah, tetapi bagaimanapun juga, di hadapannya sekarang adalah wanita yang telah melahirkannya.


“Apakah Bunda yang meminta istriku pergi dari hidupku?” desaknya dengan suara serak terbungkus lara.


Viona membuang muka, sedangkan Nara langsung terhenyak mendengar kalimat adiknya.


“Apa maksud ucapanmu?” tegas Viona.


“Tya sudah berpamitan sama Bunda kan? Katakan ke mana dia pergi. Ke mana istri dan anakku pergi, Bunda. Tolong beritahu aku!” raungnya terluka, marah, bersama buliran kecewa yang kembali mengalir panas dari bola matanya. Memegangi erat sisi ranjang dan merosot di sana.


Seketika kedua mata Viona membulat, menoleh cepat pada putra bungsunya yang tengah meraung pilu. Sementara Nara langsung menghubungi Arkana, meminta suaminya datang secepat mungkin ke rumah sakit.


“Apa kamu bilang? Anak?” imbuhnya dibuat terperanjat.


“Tya sedang hamil, Bunda. Tya sedang mengandung anakku, tapi mendadak istriku pergi entah ke mana dengan anakku di rahimnya dan semuanya dilakukan Tya demi aku. Agar aku tidak menjadi anak durhaka yang menentang bundanya!”


“Ha-hamil? Ka-kamu jangan bercanda Bisma!" tukas Viona yang kini memucat.


“Aku tidak bercanda, Bunda. Aku akhirnya akan jadi seorang ayah. Tapi kenapa… kenapa Bunda tega menghancurkan hal yang kuimpikan sejak lama. Kenapa Bunda tidak bersedia sedikit saja memandang sisi baik Tya? Mengambil waktu sedikit lebih lama untuk memahami pun tak mengapa, tapi jangan pisahkan Tya dan bayinya dariku. Mungkin masa lalu Tya pernah berkubang nista, tapi saat bertemu denganku dia sedang tertatih dalam taubatnya. Bunda tahu, aku sangat bahagia mengetahui akan menjadi seorang ayah, tapi sekarang semuanya raib dariku. Kenapa kita harus jadi begini, Bunda? Aku sayang Bunda, tapi aku juga mencintai dan menyayangi Tya dengan segenap jiwa."


Bisma terus meracau terbungkus kesedihan dan keterpurukan yang nyata. Meraung-raung frustrasi sembari menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila.


"Tolong Bunda, katakan ke mana Tya pergi. Aku harus menemukannya. Jiwa ragaku sakit dan hancur, Bunda. Tolong Bunda, ke mana istriku yang sedang mengandung itu pergi. Tya sebatang kara. Kasihan istriku, Bunda."


Bersambung.