
Sinful Angel Bab 31
Sepasang suami istri tetangga baik Caca di kolong jembatan, malam-malam datang ke rumah sakit setelah mendengar berita kecelakaan lalu lintas yang melibatkan nama Tya dan Caca. Caca meninggal dunia di tempat dan si sopir bajay yang kritis saat dibawa ke rumah sakit menutup mata dua jam lalu setelah tim medis mengupayakan pertolongan maksimal.
Tya secara langsung meminta bantuan pada suami istri itu untuk menyiapkan mengurus pemakaman Caca, di tempat di mana ibu kandung Caca dikebumikan.
“Pak Sarif, maaf sekali kalau saya lancang. Tapi, entah pada siapa lagi saya meminta tolong mengingat Caca sudah tidak punya keluarga dan kondisi saya pun seperti ini. Tak bisa ke sana kemari sendiri. Saya minta tolong dengan sangat, kiranya Pak Sarif dan Ibu sudi mengurus persiapan pemakaman Caca besok pagi. Di TPU tempat di mana almarhumah ibunya Caca dulu dikebumikan. Saya cuma punya uang sejuta lebih saat ini untuk mengurus biaya pemakaman dan tektek bengeknya sampai selesai, besok saya usahakan mencari pinjaman, yang penting, Caca bisa dikebumikan dengan baik dan layak.”
Pak Sarif berprofesi sebagai pemulung juga sedangkan istrinya membuka warung kecil-kecilan di depan tempat tinggal mereka.
“Akan kami usahakan Mbak Tya. Maaf kalau kami tidak bisa membantu secara materi karena ekonomi kami pun pas-pasan. Kalau ternyata jumlah ini tidak cukup untuk menyiapkan dan mengurus pemakaman sampai selesai, biar nanti saya bantu pinjam ke bos pengepul rongsok. Tapi harus ada jaminannya,” jelas Pak Sarif apa adanya sesuai realita kehidupan mereka yang tidak mudah.
“Saya paling bisa kasih jaminan barang-barang di kontrakan saya, ada kulkas kecil, kipas angin sama lemari plastik yang saya beli beberapa hari lalu, masih baru. Saya serahkan kunci kontrakan saya pada Bapak, biar gampang ambil barangnya. Lagi pula tidak ada barang berharga di dalamnya selain yang baru itu.”
Tya meminta tolong pada istri Pak Sarif untuk mengambilkan tas kecil di meja dekat ranjang, berisi barang-barang penting termasuk ponsel yang beruntung tas berwarna merah itu diamaankan oleh si ibu penjual ketoprak di TKP. Dengan susah payah Tya mengeluarkan kunci kontrakan serta uang bonus dari Bisma serta jatah sisa dari Marsha yang hanya menyisakan sejumlah itu setelah dibelanjakan barang-barang rumah tangga dan kebutuhan Caca, dibayarkan kontrakan untuk dua bulan mendatang dan sisa setelah melunasi hutang ke warung. Menyerahkan semua lembaran rupiah yang dimilikinya dan kunci kontrakan pada istri Pak Sarif.
“Saya minta tolong sekali, Pak, Bu. Maaf merepotkan.”
Dua orang yang menjenguk itu dibuntuti Bisma yang sejak tadi menguping di depan pintu. Beberapa saat yang lalu, Bisma sedang bertukar kata dengan pihak rumah sakit perihal penyiapan ambulans untuk mengantar jenazah Caca besok. Saat kembali dan hendak masuk ke ruangan Tya, Bisma memilih tak merecoki Tya yang sedang bercengkerama dengan tamu yang menjenguk. Hanya saja tetap pasang telinga setajam anak panah di depan pintu ruang perawatan Tya, ingin mendengar perbincangan Tya di dalam sana yang ternyata membahas tentang pemakaman. Hatinya tergerak untuk andil lebih mendalam meski dia dan Tya baru saling mengenal singkat. Tak bisa membuang peduli, seolah ada sesuatu yang mengusik hati.
“Pak, Bu. Tunggu.” Bisma menghentikan langkah Pak Sarif dan istri. Tetap sopan, tidak lancang meski dirinya jelas superior dibanding dua orang usia empat puluhan yang dihadangnya. Baik dari segi penampilan maupun wibawa.
“Maaf, mengganggu waktunya sebentar. Tentang pengurusan biaya pemakaman Caca dan perintilannya, saya yang akan menanggung semuanya. Tidak perlu mencari pinjaman. Mohon dibantu, Pak, Bu. Semoga jumlah ini cukup dan berkenan.”
Bisma menyerahkan amplop berisi uang pada Pak Sarif. Pak Sarif dan istrinya saling berpandangan, tampak kebingungan dengan sosok perlente yang tiba-tiba mencegat mereka dan menyinggung tentang Caca, bahkan memberi uang untuk biaya pemakaman Caca. Dilihat sekilas pun, Bisma ini jelas bukan orang dari kalangan mereka juga rasanya tidak mungkin memiliki hubungan keterkaitan dengan Caca.
“Ba-baik, Den. Tapi maaf, Aden ini siapa ya? Kenal dengan Caca dari mana? Soalnya kami baru pertama kali lihat orang keren kenal Caca,” jelas mereka penasaran, memindai Bisma dari rambut hingga sepatu.
“Perkenalkan, Pak. Saya calon suaminya Tya.”
*****
Di Sabtu pagi yang cerah ini, Tya yang masih dalam kondisi lemah dan terluka memaksa ingin ikut dalam ambulans yang mengangkut jenazah Caca. Kukuh ingin mengantar si gadis penolongnya ke peristirahatan terkahirnya. Beruntung kedua kakinya hanya memar dan luka luar, karena yang terluka parah adalah lengan kanannya.
Bisma tak jauh-jauh dari wanita yang pernah disewanya menemani ke pesta mantan itu. Menggandeng Tya yang tengah dirundung duka. Bisma yang pernah mengalami, sangat tahu bagaimana rasa sedih kehilangan ditinggal keluarga tercinta yang teramat berarti, yakni ketika ayahnya menutup mata.
Pak Sarif dan istrinya sudah menunggu di lokasi. Matahari bersinar lembut dan angin berembus tenang menyambut jasad Caca dipeluk Bumi. Tya mengantar Caca dengan isakan dan do’a semampunya yang diketahuinya. Maklum, tidak banyak yang dihafalnya karena keterbatasan kesempatan belajar juga keterbatasan lingkungan tumbuh kembang.
Pemakaman berlangsung lancar. Bisma mundur beberapa langkah memberi ruang pada Tya yang masih ingin duduk di sisi gundukan tanah merah bertabur bunga. Tidak terlalu jauh, karena Tya masihlah harus diawasi dan sebentar lagi waktunya Tya harus kembali ke rumah sakit.
Tya mengulurkan tangan kiri mengusap pusara bertuliskan nama Asya Putri, yakni nama lengkap Caca. Mengukir senyum meski bola matanya senantiasa basah sejak kemarin.
“Caca, adikku sayang. Kamu tahu? Bertemu denganmu dan berkesempatan menjadi kakakmu adalah hal terbaik dalam hidup Mbak yang hina dan sebatang kara ini. Terima kasih karena kamu enggak pernah memandang dan menganggap jijik sama Mbak yang kotor ini. Terima kasih sudah menolong dan sayang sama Mbak. Rela menolong orang asing seperti Mbak yang sedang kesulitan dengan setulus hati padahal kamu juga hidup susah. Caca yang kaya hati, Mbak yakin kamu pasti berlimpah berkah dan jadi bidadari di sana. Dan Mbak yakin, kamu bahagia di sana.”
“Tya, sudah waktunya kembali, negosiasi pengecualian kesempatan keluar rumah sakit cuma sampai tengah hari.” Bisma menyentuh pundak Tya, mengingatkan.
Menyentuh gundukan tanah penuh sayang, Tya memanjatkan do’a lagi dari lubuk sanubari terdalam sebelum meminta Bisma membantunya bangkit. Melambai kecil ke arah TPU ketika mobil melaju.
“Selamat jalan, Caca,” gumam Tya pelan, bersama senyum perih berpadu buliran bening membasahi pipi.
Bersambung.