
Sinful Angel Bab 27
Di ruangan pribadi di perusahaan barunya, Bisma terlihat melamun menatap keluar jendela selepas menyelesaikan setumpuk pekerjaan. Gedungnya memang tidak semewah dan semegah yang diwarisinya dulu, tetapi dia patut berbangga karena gedung ini meski hanya separuh besarnya merupakan hasil jerih payahnya bangkit kembali.
Sudah empat hari lamanya Bisma menimbang-nimbang. Di hari Minggu malam, dia hanya membaca pesan dari Tya tanpa membalasnya. Bingung entah harus berkata apa, karena sebelumnya dia pernah berucap bahwasanya semua yang dipakaikan pada Tya pada malam itu menjadi milik Tya.
Hanya saja dia terlupa, jika cincin berlian couple yang dimintanya dipakai Tya memang tidak termasuk di dalamnya karena itu adalah cincin spesial yang diberikan bundanya. Perhiasan turun temurun yang bukan hanya sekadar indah, tetapi juga mengandung makna kasih sayang orang tua dengan isi harapan rumah tangga anaknya yang belum dikaruniai keturunan tetap langgeng dan segera mendapat momongan.
Bisma masih, ingat. Kala itu dia baru pulang dari Belanda dan langsung mampir ke rumah orang tuanya sesuai pesan sang bunda. Viona memberikan perhiasan itu sebelum perayaan ulang tahun pernikahan Bisma yang ketiga dengan Prita dihelat, yang rencananya akan digelar dia hari mendatang. Namun, Bisma tak sempat menunjukkan dan memberikannya.
Sore itu selepas selesai berbincang dengan bundanya, dia ingin memberi kejutan kepulangan dadakannya pada Prita yang semula dijadwalkan besok siang. Prita saat itu kabarnya sedang berada di perusahaan. Alih-alih memberi kejutan, justru malah dirinya yang dibuat terkejut bakal disambar petir. Ketika sampai di perusahaan, Bisma disuguhi adegan istrinya dengan Radhika yang sedang bercumbu panas di kantornya sendiri.
Mau meminta dikembalikan, Bisma merasa gengsi, seperti menjilat ludah sendiri. Akan tetapi cincin itu bukan sekadar perhiasan, memiliki arti mendalam.
“Arghh! Kenapa aku bisa sampai lupa tentang cincin itu!” Bisma menggerutu frustrasi sembari membuka tutup layar kunci ponsel.
Setelah hampir pusing tujuh keliling, akhirnya Bisma membalas pesan Tya. Teringat jadwalnya ke Bogor besok, Bisma bermaksud membuat janji bertemu.
Pesannya langsung dibalas, Bisma hampir saja terperanjat. Tya mengatakan ingin segera mengembalikan cincin itu sebab takut menghilangkannya. Setelah bertukar pesan beberapa kali, akhirnya mereka memutuskan bertemu di dekat tempat tinggal Tya saja, di sebuah kedai bakso yang tak jauh dari sana.
Pintu ruangannya diketuk. Bisma memutar kursi yang didudukinya. Sekretarisnya yang bernama Popy mendorong pintu setelah dipersilakan. Popy merupakan sekretaris Bisma sejak lama. Sejak dari masih menjabat di Sinar Abadi Grup. Wanita berambut model bob dan berkacamata itu terlihat gugup. Terpampang jelas di wajahnya. Tampak ragu untuk berbicara.
“Ada apa, Popy?” tanya Bisma cepat, menegakkan punggungnya yang sedang bersandar di kursi kerjanya. Gelagat Popy yang terlihat serba salah membuat Bisma mengerutkan kening. “Kamu mengetuk pintu ruanganku pasti karena ada informasi penting yang mau kamu sampaikan bukan? Kamu pasti tahu, aku tak suka jika waktuku tersita untuk hal-hal yang tidak berfaedah.”
“Maaf, Pak. Itu, anu ... begini_” Popy meremat jemarinya sendiri, agak ragu melanjutkan ucapannya.
“Anu apa? Kalau bicara itu yang jelas,” tegas Bisma mulai tak sabaran.
Popy membetulkan letak kacamatanya gugup sebelum lanjut menjawab. “I-itu, Pak. Di depan ada Bu Prita Arhdya, katanya mau bertemu Bapak. Saya sudah bilang Anda sibuk pun beliau tak percaya, memaksa ingin bertemu, katanya mau kasih kado selamat. Bu Prita bawa karangan bunga.”
Alarm waspada berbunyi nyaring di kepala Bisma. Perkiraan Vero kini menjadi kenyataan. Prita jauh-jauh datang dari Jakarta pasti hanya untuk mengusik ketenangannya. Bisma langsung bangkit tanpa aba-aba, mengagetkan Popy hingga berjengit.
Apa? Ucapan selamat? Gawat! gerutu batinnya.
Ragu-ragu, Popy menganggukkan kepala. “Iya, Pak. Bu Prita bertanya perihal pernikahan dan istri baru Anda.”
Jantung Bisma berdegup tak karuan. “Terus, kamu jawab bagaimana?” tanyanya resah, khawatir sandiwaranya terbongkar.
“Selain karena saya tak paham dengan pertanyaan Bu Prita. Hal-hal privasi Anda bukan ranah saya untuk berbicara. Saya katakan pada Bu Prita, bahwa pekerjaan saya adalah membantu mengurusi perusahaan, bukan kehidupan pribadi Anda. Saya juga mengatakan agar Bu Prita bertanya sendiri saja pada Anda jika menyangkut hal-hal pribadi, karena itu bukan porsi saya. Dan beliau terlihat kesal mendengar jawaban saya.”
Bahu Bisma merosot, luar biasa lega. Seperti biasa, Popy selalu dapat diandalkan. Cakap dan kompeten dalam pekerjaannya. Meluruhkan kekhawatiran yang di detik sebelumnya mencekiknya hebat. “Bagus. Tetap begitu jika ada yang menanyakan hal serupa siapapun itu.”
“Baik, Pak. Tapi, Bu Prita masih ada di depan, kukuh menunggu di kursi lobi dan tetap memaksa ingin bertemu Anda. Apa yang harus saya katakan dan saya lakukan?”
Bisma terlihat berpikir, tak butuh waktu lama kemudian memberi titah.
“Kamu Terima saja karangan bunganya. Lalu katakan pada Prita bahwa aku sedang tak memungkinkan menerima tamu. Tak bisa diganggu, karena aku sedang bersama istriku.”
“Hah? I-istri? Mak-maksudnya bagaimana, Pak?” tukas Popy tak paham. Pertanyaan Prita dan kalimat bosnya membuat Popy pusing sendiri. Popy juga agak ngeri-ngeri sedap, khawatir bosnya yang kelamaan menduda mendadak terserang virus halu.
“Ya pokoknya jawabnya harus begitu. Persis seperti yang kucontohkan. Aku mengandalkanmu.” Bisma menekankan kata-katanya.
“Y-ya, baik, Pak.
Popy undur diri dengan segudang pertanyaan berseliweran di benaknya. Meninggalkan sang bos yang kini mengunci diri di ruangannya.
Saran Vero tentang bersegera menikah lagi sepertinya harus cepat-cepat direalisasikan agar Prita tidak terus-menerus merongrong ketenangannya.
Namun, masalah besarnya si sini adalah, yang diketahui Prita sebagai istrinya adalah Tya, terlanjur mengenalkan sosok Tya sebagai pasangannya di tempat umum.
Sebuah ide terbersit walaupun terbilang gila. Bisma bertanya-tanya sendiri. Apakah Tya bersedia disewa dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan untuk berpura-pura menjadi istrinya?
Bersambung