
Sinful Angel Bab 53
Mematikan lampu utama, Bisma berbaring merebahkan tubuh penatnya di atas ranjang luasnya. Mengatupkan kedua mata, dia ingin segera mengistirahatkan daksa pegal-pegalnya sebab esok hari dia harus berangkat ke Bali untuk menghadiri acara penting.
Aroma harum yang sempat mengganggunya di dalam mobil ketika perjalanan pulang, kini mulai merebak lagi entah dari mana datangnya. Wajah cantik nan sendu Tya langsung membias begitu saja di kepalanya saat keharuman menggelitik itu kembali tercium. Yang hanya aromanya saja mampu membawa insting kelelakiannya melalang buana.
"Hei, jangan mikir yang macam-macam wahai otak!"
Lebih parahnya lagi, semakin matanya berusaha memejam, bayangan di rumah sakit ikut berkelebat merecoki. Yaitu pada saat Bisma tak sengaja memergoki Tya sedang kesusahan berganti pakaian.
Lekuk indah pinggang rampingnya, bagian membusung depan belakang yang proposional ukuran porsinya, kedua kaki jenjangnya, semuanya terekam rapi dalam ingatan Bisma sebagai seorang pria jantan yang tak munafik terpesona akan hal-hal demikian. Sangat normal dan lumrah, terkecuali jika Bisma menyukai tongkat bisbol dan bahu bidang berotot.
“Haish, sial! Cuma gara-gara aroma harum berbeda yang berasal dari perawatan spa, bisa-bisanya bikin kepalaku mabuk kepayang begini!” umpatnya kesal. Bisma menegakkan diri dari baringannya dalam sekali sentak. Turun dari ranjangnya dan mondar-mandir sembari menggerutu.
“Kenapa aroma berbahaya ini ikut masuk ke kamarku? Enggak mungkin kan, kalau kamar Tya memiliki lubang yang tembus ke kamarku?” Bisma menajamkan penciuman. Mengendus-endus mencari sumber biang kerok yang membuat waktu istirahatnya malah terganggu resah dan gelisah.
Setelah ditelusuri, ternyata berasal dari jas yang menggantung pada hanger khusus jas dan jaket, terletak di sudut kiri kamar. Jas yang tadi dibawanya turun dari mobil ikut membawa keharuman persis seperti yang menempeli tubuh Tya. Sepertinya klinik kecantikan yang katanya salah satu yang terbaik untuk para istri di kota kembang ini, pamornya bukanlah isapan jempol belaka. Terbukti dari hasil yang berbicara, mampu membuat para suami gundah gulana.
Bisma memilih keluar dari kamar saja padahal malam sudah larut. Menuju dapur untuk mengambil camilan ringan dan sebotol air mineral. Bisma kemudian melenggang ke ruang televisi yang berada di area tengah bangunan rumahnya. Menyalakan home teater dan memilih menonton film action, menghindari film bergenre romantis karena jika tetap menontonnya maka kegundahannya yang telah menduda sekian lama sudah pasti akan menjadi-jadi. Dia takut naluri primitifnya memprovokasinya nekat menerobos kamar Tya dan berakhir memaksakan hasrat.
Sementara itu, Tya pun ternyata masih belum tertidur di kamarnya. Berguling-guling tak menentu, tak mampu memejamkan mata. Meraba pelipisnya, Tya mendadak merona begitu saja. Meski cuma demi kepentingan sandiwara, jantungnya malah melompat-lompat saat Bisma mendaratkan kecupan di sana tadi sore.
Perlakuan penuh perhatian berharga seorang pria untuk wanita sepertinya merupakan hal baru baginya, meski Tya tahu bahwa adegan mesra itu terbungkus kepentingan yang memiliki tujuan lain.
Menatap dinding yang ditempeli lampu tidur temaram, Tya bergumam dalam tawa kecilnya, merasa aneh dengan dirinya sendiri.
“Ini bukan momen pertama bagimu bukan, Tya? Si bangsat Jordan lah yang merenggut semua yang berharga dari dirimu sebagai bayaran sesuap nasi yang kamu makan untuk hidup. Tapi kenapa kali ini terasa berbeda? Sedangkan dulu semuanya terasa menjijikkan.”
Obat yang satu jam lalu diminumnya mulai bereaksi. Tya lebih beruntung dari Bisma karena berangsur terayu kantuk. Sedangkan Bisma masih terjaga di ruang televisi, sembari sesekali uring-uringan kesal melampiaskan keresahannya pada setiap scene film yang sedang ditontonnya.
Bersambung.