Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 28



Sinful Angel Bab 28


Hujan deras mengguyur daerah Bogor di hari Jum’at siang ini. Air hujan tumpah ruah, menggenangi jalanan, menaikkan volume di setiap aliran got dan sungai.


Fortuner putih yang dikemudikan Bisma bak siput. Merayap sedikit demi sedikit beruntun dengan kendaraan lainnya. Melajukan kendaraannya dengan sabar mengambil lajur gerbang tol Jagorawi yang berjarak sekitar dua kilo meter di depan.


Bisma bisa saja menepi mencari tempat beristirahat. Melepas penat pikiran dan tubuhnya yang pasti lelah selepas melakukan survey lahan di Kabupaten Bogor tepatnya di daerah kaki Gunung Salak. Juga, menyetir dalam kondisi jalanan banjir memiliki risiko tersendiri. Bisa merusak mesin mobil kalau banjirnya semakin tinggi, juga berpotensi terseret arus jika air meluap naik menderas.


Namun, Bisma sudah memiliki janji jam lima sore nanti dengan Tya. Tak lupa mengirim pesan pada Tya bahwa dirinya sedang on the way menuju Jakarta. Pesan yang dikirim sudah centang dua, sampai dengan lancar ke nomor si penerima hanya saja belum dibaca. Sembari menyetir, sesekali Bisma melirik gawai persegi panjangnya dan masih belum terlihat tanda-tanda mendapat balasan.


Janji temunya kali ini selain terkait urusan pengembalian cincin, Bisma juga sudah membulatkan tekad hendak bernegosiasi serius dengan Tya sebelum kerunyaman yang meletus tak sengaja ini semakin semrawut. Berharap Tya bersedia disewa jasanya menjadi istri sementara untuknya.


“Tumben Tya masih belum balas pesanku? Biasanya gercep,” ucap Bisma bermonolog sendiri sembari menginjak pedal gas pelan, sedang mengantre masuk di gerbang tol. Pasalnya baru kali ini Tya telat membaca dan membalas pesannya.


“Jangan-jangan Tya lupa kalau sudah ada janji denganku? Atau mungkinkah, dia sedang menemani klien?” Bisma bertanya-tanya pada udara. Sejumput rasa aneh mengganggu menyelinap ke dalam sanubarinya saat membayangkan Tya kemungkinan tengah bekerja, sedang memainkan peran sebagai kekasih pria lain.


Air langit berhenti mengucur ketika si Fortuner putih sudah membaur di tol dalam Kota Jakarta. Bisma Menggunakan aplikasi peta digital mencari alamat kedai bakso yang dikirimkan Tya semalam, menghidupkan maps sebagai pembimbing jalan, bergegas sebab penunjuk waktu hampir merapat ke angka lima.


Bisma akhirnya tiba di tempat tujuan sepuluh menit sebelum pukul lima tepat. Membuang napas lega telah berhasil sampai tepat waktu. Kedai baksonya bersih juga luas. Walaupun banyak pengunjung, suasana di dalamnya tetap nyaman meski bukan tempat mewah.


Memeriksa ponselnya lagi begitu masuk ke dalam kedai, Bisma menghentikan langkah kaki saat mendapati pesan yang dikirimkan sejak pukul satu siang tadi masih belum dibaca Tya. Bisma menyapukan pandangan mencari-cari Tya di dalam kedai, tetapi wanita cantik bermata teduh itu tak ditemukannya.


Bisma memutuskan menelepon Tya secara langsung saja untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai. Tak butuh waktu lama teleponnya di angkat.


Wajah Bisma berubah ekspresinya, hilang keceriaannya begitu mendengar suara yang mengangkat telepon. Bukan suara Tya, melainkan orang lain. Mendadak Bisma memutar badan, melangkah lebar menuju mobilnya yang terparkir setengah berlari setelah mendengar penjelasan si penerima telepon.


"Maaf, Pak. Yang punya ponsel ini mengalami kecelakaan lalu lintas bersama dengan adiknya. Adiknya meninggal di tempat, sedangkan kakaknya terluka parah, keduanya dibawa ke RSUD Kebayoran Baru."


Bersambung.