
Sinful Angel Bab 46
Bisma celingukan di depan kamar Tya, gegas masuk menggandeng Tya dan menutupkan pintu kamar rapat-rapat.
“Ini kamarmu, semoga kamu suka. Kamarku ada di sebelah, supaya kamu mudah memberitahu saya kalau ada hal penting yang ingin disampaikan.”
Tya mendudukkan diri di tepi ranjang besar berseprai kain halus nan lembut itu. Telapaknya mendarat merasakan serat halus kain menyapa indra peraba, lantas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar berfurnitur artistik yang dari sudut pandangnya sangat mewah.
“Lebih dari suka, Pak. Kamarnya sangat bagus,” sahut Tya tak munafik.
Bisma berdiri menjulang di hadapan Tya dengan kedua tangan masuk ke saku celana bahannya. Membuang napas kasar hingga berbunyi nyaring membuat Tya mendongak.
“Tya, sudah saya bilang biasakan panggil saya Mas guna menyempurnakan skenario, jangan panggil Bapak. Khawatir lidahmu terpeleset memanggil saya kaku begitu saat sedang berada di keramaian, kalau kita sedang berdua saja masihlah aman. Tapi kalau di depan orang lain itu lain cerita, bisa memicu kecurigaan yang mengakibatkan alasan sesungguhnya kita bersama terendus sekitar dan itu dipastikan akan membuahkan perso’alan lain yang sangat memusingkan,” jelas Bisma yang agak menekankan nada bicaranya.
Tya mengusap tengkuk. Jujur saja rasanya aneh harus memanggil Bisma dengan sebutan demikian dalam kurun waktu yang belum pasti sampai kapan harus dilakukan. Sejumput rasa takut menyeruak dalam kalbunya, takut dirinya malah nyaman dengan panggilan itu untuk Bisma yang nantinya jelas akan melukai dirinya sendiri. Sebab ditilik dari sudut manapun rasanya tak pantas mengharap lebih, sadar betul siapa dan di mana posisi diri.
“Maaf, Pak. Mulai hari ini akan saya usahakan untuk lebih membiasakan diri lagi tentang panggilan untuk Anda,” sahut Tya mantap. Tak punya pilihan selain patuh dan menyanggupi demi membalas budi atas pertolongan besar Bisma untuknya.
“Kenapa harus ponsel baru? Ponsel saya yang lama kan masih bisa dipakai?” Bola mata sendu nan teduh Tya menatap Bisma penuh tanya. Tya jelas-jelas bertanya karena tak paham, sedangkan yang ditatap lekat malah mendadak panas dingin. Tak dipungkiri, daya tarik sensual Tya memanglah kuat bak magnet yang mampu memantik sisi primitifnya sebagai pria normal begitu mudah, bahkan dalam kondisi belum pulih benar pun appeal dalam diri Tya seakan tidak berkurang.
“Ehm, begini, Tya. Saya Menyarankan lebih baik kamu menggunakan nomor baru juga ponsel baru berdasarkan dua alasan. Alasan yang pertama, nomor baru jelas membuat situasimu lebih aman, menghindarkanmu dari jeratan lanjutan Marsha yang mungkin saja mengusikmu lagi. Yang kedua, tidak mungkin saya membiarkanmu memakai ponsel yang, maaf, sudah usang. Setidaknya ponsel istri dari Bisma Putra Prasetyo harus memakai jenis yang seimbang dengan saya strata kualitasnya. Kalau saya membiarkanmu pakai ponsel lamamu, orang-orang akan bergosip dan mencap saya sebagai suami pelit. Juga, saya sengaja memilih yang lebih mahal dari yang terlihat dipakai Prita di pesta. Kita tidak tahu kapan di mana kita akan bertemu muka lagi dengan mantan istri saya yang ternyata masih hobi mengusik kehidupan pribadi saya itu. Jadi, segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang dan sempurna.”
Tya mengangguk-angguk paham dan raut penuh tanyanya mencair seketika. “Saya paham sekarang, Saya tidak berpikir sampai ke sana. Anda benar, Pak. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.”
“Kalau butuh apa-apa, panggil saja The Erna dan Mang Eko. Biasanya mereka ada di paviliun belakang rumah. Seluruh kebutuhanmu mulai dari dalaman sampai baju rumahan semuanya sudah tersedia lengkap di lemari dekat pintu kamar mandi. Dan untuk mukena serta sajadahnya, ada di laci besar meja rias. Saya tinggal ke kamar dulu, sebentar lagi Magrib. Kita bertemu lagi saat makan malam nanti. Ingat, ubah panggilanmu pada saya, jangan sampai lupa.”
Sepeninggal Bisma, Tya tercenung memandang lurus ke arah laci paling besar di meja rias. Bangkit dari duduknya, Tya menghampiri dan membuka laci tersebut. Benar saja, di dalamnya berisi sajadah Turki berwarna hijau yang ditaruh bersebelahan dengan mukena putih bersih. Seketika Tya terduduk di lantai. Butiran bening meluruh di pipinya. Dengan tangan bergetar, Tya meraba dua buah benda itu dengan rasa tak pantas, merasa dirinya kotor.
“Masih layakkah aku yang kotor dan berlumur dosa memakai mukena sebersih ini? Masih pantaskah aku yang hina bersimpuh di atas sajadah indah ini?”
Bersambung.