Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 76



Sinful Angel Bab 76


Waktu terus bergulir, kedua mata Bisma tak kunjung memejam. Semula hatinya bersorak kala ide perihal tikus berhasil mengelabui Tya. Gegap gempita lantaran keinginan mendadaknya memeluk Tya dalam tidurnya kesampaian.


Sebuah keinginan yang terbersit buah dari isi kepalanya berjalan-jalan ke mana-mana di saat sedang berupaya meraih kantuk, terbayang-bayang momen ketika tertidur sembari mendekap Tya di bawah satu selimut yang sama. Meski ketika itu dirinya sedang kurang sadar sepenuhnya, tidak mengurangi sensasi desir menyenangkan yang dirasakannya.


Bayangan lukisan hangat itu merecoki benak Bisma tanpa ampun. Maklum, sudah bertahun-tahun tidurnya hanya disergap kebekuan. Kulit lembut Tya, tubuh ramping nan hangat Tya, kehalusan yang tersentuh telapak tangan serta aroma harum yang menguar dari tubuh Tya menjadikan tidurnya begitu lelap dihiasi mimpi indah. Tak seperti malam-malam di tiga tahun terakhirnya yang sering gelisah sebab hati yang terluka terus dibiarkannya mengerang marah.


Atmosfer tersebut terus berputar-putar di kepala membuat Bisma ingin merasakan sensasi lelap itu lagi. Namun, masalah lain muncul saat misinya sukses. Sekarang bukan hanya sensasi lelap yang mendamba diraihnya, keinginan lainnya terbersit serakah saat kulitnya bersentuhan langsung dengan Tya meski sebagian besar masih terhalang kain. Apalagi saat ruang pandangnya akhirnya dapat melihat jelas bahwa Tya hanya memakai gaun tidur seksi berwarna merah marun, dengan panjang selutut bertali spaghetti melintang di pundak, membungkus lekuk indah menggiurkan.


“Hei, kenapa tanganku gatal ingin menarik tali baju ini?” gumamnya saat matanya tertuju pada seutas tali seukuran mie di pundak Tya.


Seketika ada yang tidak beres dengan reaksi tubuhnya. Tiba-tiba kegerahan disertai dahaga menerjang, ingin meneguk madu manis kenikmatan itu lagi, di saat mereka bukan hanya sekadar berpelukan sewaktu malam tak terduga di Bali, tetapi gengsi untuk gamblang mengakui.


Bisma membuka kancing atasan piyamanya menggunakan tangan kiri sebab tangan kanannya menjadi bantalan kepala Tya sekarang, mengibas-ngibaskan sisi piyama guna mengurangi rasa panas.


“Arghh! Kenapa malah jadi gerah begini?” desahnya frustrasi. “Kenapa pertahananku mendadak payah? Terus siapa juga yang menyuruhmu bangun!” kesalnya marah, mengomeli dan memelototi inti raga maskulinnya yang menegang di balik celana piyama.


Meski begitu, Bisma tak berniat untuk melepaskan pelukannya. Tidak mau menyia-nyiakan keberhasilannya menerobos kamar ini. Kembali mendekap Tya dan mencoba memejamkan mata meski harus mati-matian menahan nyeri tersulut hasrat di bawah sana.


*****


Pagi ini Tya terlihat sedang berada di kamar Bisma tanpa sungkan sementara pemilik kamar sedang membasuh diri. Tya tengah berbincang bersama Mang Eko membahas masalah tikus.


Terbangun di waktu menjelang subuh tadi, Tya tidak mendapati Bisma di tempat tidurnya. Saat keluar dari kamar dan mencari, ternyata Bisma sudah bangun, sedang bekutat di ruang kerja, menyiapkan beberapa amunisi pekerjaan yang akan dibawanya ke luar kota. Tya tak terbiasa hanya berpangku tangan, ikut membantu Bisma berbenah.


“Jadi, tikusnya sudah tertangkap ya?”


“Kayaknya keburu kabur, Neng. Mamang sudah menyisir seluruh kamar, tapi tidak menemukan keberadaan si tikus. Bahkan jejaknya juga tidak ada. Tapi Mamang juga bingung lewat mana tikus itu bisa masuk?” sahut Mang Eko.


“Nah itu dia, Mang. Saya juga bingung, rumah gedong rapi dan bersih begini kok bisa kemasukan tikus.Tapi mungkin bisa coba periksa seluruh rumah, barangkali memang ada lubang tikus tersembunyi.” Tya menukas sembari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar luas itu.


“Benar juga ya, Neng. Kalau gitu, nanti siang Mamang panggil tukang juga buat bantu periksa rumah ini. Karena sekarang di sini sudah aman, Mamang mau manasin mobil dulu yang bakal dipakai Den Bisma berangkat ke Puncak.” Mang Eko pamit ke garasi, meninggalkan Tya di kamar Bisma.


Tya hendak melangkah keluar. Akan tetapi, ia kembali teringat ceramah Ustazdah Farhana, tentang hak dan kewajiban yang wajib dipenuhi seorang istri, jika tidak ditunaikan maka berdosa hukumnya selama janji pernikahan masih mengikat.


“Aku ini sudah banyak dosa di masa lalu, masa mau menumpuk dosa lebih banyak lagi?” desahnya berat menghela napas panjang.


Kakinya urung meninggalkan kamar. Tya menghampiri lemari baju dan memilihkan outfit untuk dipakai Bisma hari ini. Mulai dari underwear hingga kaus kaki. Menaruhnya rapi di atas ranjang. Terserah mau dipakai atau tidak, yang pasti Tya ingin belajar menunaikan kewajiban dari status yang disandangnya sekarang.


Gegas ke dapur, Tya memastikan sarapan sudah tersaji. Teh Erna terlihat berkutat di sana, sedang memotong-motong baby buncis.


“Sesuai jadwal meal plan yang sudah ditulis Den Bisma. Pagi ini sarapannya bubur kentang pakai oseng buncis daging. Bubur kentangnya sudah jadi, tinggal bikin buncis dagingnya, Neng,” jawab Teh Erna sembari menunjuk panci granit putih di atas kompor, berisi bubur kentang yang masih mengepul.


“Biar saya saja yang bikin buncis dagingnya,” kata Tya cepat.


“Tidak usah, Neng. Neng Tya duduk saja, biar teteh yang masak. Tangan kanannya kan baru sembuh, Teteh ngeri tangannya sakit lagi,” tutur Teh Erna cemas.


“Saya beneran sudah baikan kok, jangan khawatir. Biar saya yang memasak. Teh Erna tolong arahkan saya dalam hal takaran bumbu, supaya sesuai dengan selera Mas Bisma,” pinta Tya setengah memaksa, gegas mengambil alih spatula yang tergeletak di dekat Teh Erna.


“Alhamdulillah, Neng. Kalau sudah baikan sepenuhnya, kapan mau mindahin barang-barang Neng Tya ke kamar Den Bisma? Pasti Den Bisma dan Neng Tya sudah menanti lama kan momen sekamar bareng, namanya juga suami istri pasti pinginnya selalu saling menemani,” tanya Teh Erna menggoda Tya, antara polos dan kepo. Sedangkan yang ditanya seketika belingsatan terkekeh kering.


Pemandangan berbeda menyambut Bisma yang baru selesai mandi. Di atas tempat tidurnya terdapat sesuatu tak biasa. Sesuatu yang sudah lama raib dari pagi harinya.


Senyumnya merekah lebar sembari mendekati ranjang. Wajahnya berseri-seri lantas bergumam, “Selera Tya bagus juga,” cicitnya senang.


Bisma sudah rapi, segar dan wangi. Gegas menuju ruang makan di mana bunyi-bunyian riuh aktivitas khas pagi hari terdengar menyenangkan.


Tya bedeham saat Bisma menarik kursi makan. Dia gugup juga gembira melihat Bisma muncul di dapur mengenakan pakaian dan semua printilan yang dipilihkannya tadi. Teh Erna memicing sejenak sembari mengulum senyum penuh arti. Undur diri dengan sopan untuk mengerjakan pekerjaan lain, tak ingin menjadi obat nyamuk.


“Jadi, hari ini Mas mau ke Puncak?” tanya Tya setelah menaruh secangkir kopi hitam ke hadapan Bisma. Duduk saling berhadapan.


“Iya, mau ngontrol kebun teh baru yang dibeli bulan kemarin. Katanya sudah siap panen, tapi aku harus memeriksa langsung kualitasnya dulu sebelum dipetik, memastikan sesuai dengan standar Agra Prime."


“Sama siapa perginya?” tanya Tya lagi.


“Sama Poppy dan staf produk analis.”


“Nginap? Berapa hari?” cecar Tya, tidak seperti sebelumnya yang tak pernah bertanya detail.


Bisma mengangguk. “Hmm, nginap. Paling sekitar dua hari.”


“Oh, jadi harus nginap ya,” desah Tya dengan nada rendah yang tak disadarinya. Menunduk memilin jemarinya sendiri.


Bisma yang mendengar nada bicara Tya agak setengah mengeluh, memicing sembari menggigit pipi dalamnya menahan tawa geli.


“Kenapa? Takut kangen ya?” godanya tanpa malu sedikit pun membuat Tya seketika gelagapan, sedangkan Bisma justru malah senyum-senyum kegirangan.


Bersambung.