
Sinful Angel Bab 86
Mang Eko senyum-senyum sendiri setelah mengintip spion dalam. Di mana pantulan adegan di kursi penumpang terpampang nyata. Bisma merangkul Tya rebah di dadanya sembari menjelaskan tempat-tempat penting di Puncak yang terlewati. Telaten menjawab setiap pertanyaan Tya diselingi candaan.
Sikap Bisma pada pasangannya sekarang terlihat berbeda dengan dulu. Biasanya Bisma hanya akan bersikap mesra lebih intim hanya ketika di rumah, sedangkan saat di luar rumah seperlunya saja. Kendati benak Mang Eko bertanya-tanya kenapa, tetapi dia tak mempermasalahkannya. Majikannya akhirnya memutuskan mengakhiri masa lajang saja dia sudah bersyukur, sempat khawatir Bisma tak tertarik lagi pada wanita.
Ya, Bisma memang tengah berupaya mengubah kebiasaan kakunya terhadap pasangan di luar rumah. Vero pernah mengatakan padanya, para istri terkadang membutuhkan pengakuan secara gamblang di depan publik bahwa sang suami memang mencintainya dan menganggapnya berarti. Bukan show off berlebihan dan tidak harus di setiap suasana, tetapi lebih pada ekspresi rasa secara nyata yang masih dalam batas-batas wajar.
Pasca perceraiannya dengan Prita, Bisma banyak merenung. Terbersit pemikiran kemungkinan Prita berpaling pada Radhika karena dirinya yang terlalu kaku dan enggan bersikap romantis di luar rumah meski hanya satu kali. Walaupun tentu saja kehancuran rumah tangga mereka bukan melulu tentang hal itu. Sedangkan Radhika tak segan bersikap mesra pada Prita di setiap kesempatan selepas dua orang itu mengumumkan pernikahan. Bisma ingin belajar dari pengalaman, selalu berpikir dirinya pun tak luput dari kesalahan.
“Tempatnya kayaknya udah penuh banget,” kata Bisma begitu mereka sampai di resto Sate Maranggi paling enak di Puncak.
Tya ikut menoleh ke luar jendela. Benar saja, resto sangat penuh. Asap pembakaran sate tak henti mengepul. Tempat parkir pun penuh sesak, agak sulit mencari lahan lengang.
“Duh, maaf, Mas. Pilihan menuku kayaknya kurang tepat. Enggak nyangka tempatnya benar-benar seramai ini, kukira cuma ulasan media sosial,” ujar Tya merasa tak enak hati.
“Hei, enggak masalah. Setahuku di sini memang selalu penuh.” Bisma mengulas senyum menenangkan. “Kita turun di sini saja dan pesan menu yang kamu inginkan. Kalau enggak kebagian tempat duduk, kita bisa makan di mobil. Masih banyak cara biar tetap bisa menikmati Sate Maranggi. Lagian belum afdol kalau ke Puncak belum makan menu ini.”
Bisma turun lebih dulu disusul Tya kemudian. Poppy dan bu mandor juga ikut turun, sementara Hadi dan pak mandor mencari tempat parkir. Tak lupa Bisma berpesan pada Mang eko sebelum beranjak masuk ke area resto.
“Mang Eko, cari tempat parkir yang strategis, agak ajuh dari sini juga enggak apa-apa, yang penting jangan di lahan yang sempit dan pengap. Jaga-jaga kalau di resto enggak kebagian tempat duduk.”
“Baik, Den. Paling lahan parkir minimarket di depan yang tempat parkirnya luas dan enak. Tapi, kira-kira diizinkan ikut parkir tidak ya?”
“Gini saja, Mang. Minta tolong izin parkir kira-kira satu jam saja. Bilang saja tarifnya enggak masalah. Sekalian beli minum juga buat kita semua di minimarket. Terus biar Tya, Poppy sama bu mandor pada belanja di sana nanti."
Poppy yang pertama masuk ke area resto hendak mencari tempat duduk. Bukan cuma dari luarnya, di dalamnya memang benar penuh sesak.
“Pak, paling cuma ada tempat duduk buat dua orang dan itu juga di pojok. Pasti pengap dan kurang nyaman.” Poppy melapor pada Bisma yang sedang menunggu di area luar. Menunjuk tempat duduk sempit yang tersisa.
“Ya sudah, kita makan di mobil saja.”
Bisma mengajak Tya memesan menu sebelum kembali ke mobil mereka. Memesan berporsi-porsi sate full daging dan sate yang dicampur lemak nan lezat untuk disantap semua orang. Tak ketinggalan ketan bakar dan sambal oncom dipesan sebagai pelengkap makan sate.
“Pesan lagi saja. Makan sampai kenyang," usul Bisma sungguh-sungguh.
“Jangan, Mas. Perutku sudah kenyang banget. Maaf, kalau aku mendadak rakus. Aku juga enggak tahu kenapa selera makanku melonjak naik begini. Mungkin karena di sini cuacanya dingin banget ya.” Tya tertawa kering, antara malu juga tak percaya melihat isi piringnya benar-benar ludes. Bahkan ketan bakar yang tidak dimakan Bisma pun sudah mendarat cantik di lambungnya.
Mereka hanya berdua di dalam mobil. Mang Eko memilih makan bersama pak mandor dan istrinya, tidak mau jadi obat nyamuk di antara pengantin baru yang sedang dimabuk cinta itu.
“Mungkin juga. Tapi baguslah, biar enggak lemes, biar kuat begadang.” Bisma menyengir jahil dengan maksud terselubung yang tesirat dari nada bicaranya sebelum meneguk Teh Kotak jasmine yang dibeli dari minimatket, dan tak lupa menyodorkan satu untuk Tya.
Selesai dengan urusan mengisi perut. Bisma meminta Tya membeli apa saja yang diinginkan di minimarket. Memberi Tya kartu lain dari dompetnya. Juga memerintahkan Poppy mengajak bu mandor untuk ikut berbelanja.
“Beli apa saja yang kamu perlukan. Biar minimarket juga sama-sama diuntungkan karena kita memakai sepertiga lahan parkir mereka walaupun parkirnya enggak gratis. Bayar pakai kartu ini, termasuk belanjaan Poppy dan bu mandor ya.”
“Tapi, aku harus beli apa, Mas?” Tya menatap wajah Bisma juga kartu di tangannya kebingungan. Semua yang dibutuhkannya sudah siap sedia di rumah Bisma. Di villa juga tak kalah lengkapnya.
“Apa saja. Terserah kamu. Tuh, Poppy sudah nunggu.”
Poppy lah yang paling semangat memilih, memenuhi keranjang merahnya dengan berbagai macam snack juga minuman instant, memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Sementara bu mandor lebih memilih membeli minyak goreng dan sembako lainnya yang agak sulit didapat di sekitar perkebunan lantaran lokasi perkebunan terbilang jauh dari pusat kota.
Sementara Tya malah mematung bingung. Dulu, ia selalu ingin bisa jajan sepuasnya di minimarket, tetapi sekarang saat kesempatan itu datang, semua jajanan yang berjejer di rak minimarket tampak biasa saja. Hatinya sudah penuh dengan rasa bahagia yang diberikan Bisma, sehingga ia merasa cukup, tak kekurangan suatu apa pun lagi.
Lantas matanya menangkap keberadaan coklat merek terkenal berukuran paling besar yang dulu pernah satu kali dibelinya untuk dimakan berdua bersama Caca. Coklat yang kata Caca paling enak. Terasa mewah saat menyantapnya dulu, karena memang tidak mudah bagi Tya yang harus berhemat untuk membelinya kala itu.
Tya membeli coklat berbungkus merah dan ungu berukuran besar itu beberapa buah. Lantas saat keluar dari pintu minimarket, Tya menahan lengan bu mandor.
“Bu, maaf, jika berkenan, tolong coklat ini diterima. Buat anaknya yang tadi mau mengaji itu.”
“Wah, Bu Bos, jangan repot-repot. Hari ini pak bos dan Bu Bos sudah banyak mentraktir kami. Sate Maranggi yang dibungkus buat dibawa pulang saja sudah banyak sekali, cukup buat makan seerte. Belum sembako ini.” Bu mandor mengangkat kantung belanjanya sungkan.
“Enggak apa-apa, Bu. Ini cuma tambahan saja. Saya teringat dengan adik saya yang sudah berpulang saat melihat anak perempuan ibu tadi sore. Ini coklat kesukaan Caca, adik saya. Tolong diterima ya.”
Bersambung.