
Sinful Angel Bab 32
Memasuki waktu sore, rintik gerimis turun bersama awan kelabu menyelimuti di atas kepala. Kedua mata Tya mengatup erat, terlelap dalam setelah perawat menyuntikkan obat satu jam yang lalu. Obat yang memiliki khasiat mengurangi nyeri pada luka-luka di tubuhnya serta merayu kantuk.
Tidur nyenyaknya bukan hanya karena efek obat saja, melainkan karena lelah jiwa raga juga. Semalaman, Tya tak mau memejamkan mata meski Bisma dan perawat mengingatkan serta menyarankan, kesedihan yang menimpanya lebih mendominasi, mengalahkan tuntutan tubuhnya yang meminta istirahat.
“Suster, Tya baru saja tertidur pulas. Sementara dia tidur, saya ada keperluan keluar. Tidak akan lama, mungkin sekitar dua atau tiga jam. Saya ingin meminta tolong untuk mengecek kondisi Tya secara berkala selama saya pergi. Saya khawatir Tya berpikiran pendek, mengingat psikisnya sedang terguncang sekarang. Jangan sungkan menghubungi nomor ponsel saya jika terjadi hal darurat.”
Bisma meminta tolong dengan sopan pada perawat yang berjaga sebelum bergegas pergi. Dia pergi keluar untuk mencari hotel terdekat. Hendak mandi dengan benar dan berganti pakaian setelah tadi pagi hanya membasuh diri ala kadarnya di kamar mandi ruang perawatan Tya. Juga bermaksud mengisi perut dan membeli makanan ringan.
Sementara itu, Tya benar-benar tidur sangat nyenyak sekarang. Wajah sembabnya yang dihiasi luka tampak damai mengukir senyum tipis, tengah bermimpi indah, adegan kilas balik beberapa jam sebelum kejadian kecelakaan. Alam bawah sadarnya ingin membalik keadaan. Inginnya realita sesungguhnya hanya mimpi sedangkan mimpinya yang sedang berlangsung adalah kenyataan.
Di Jum’at pagi kemarin, Caca begitu ceria gembira. Tampak bugar pasca dua hari kepulangannya dari rumah sakit, tak seperti biasanya. Pagi-pagi sekali Caca mandi dan berganti pakaian. Membantu Tya memasak sup iga di dapur, bersemangat mengambil bahan makanan dari kulkas baru.
“Wah, pagi ini sarapannya mewah sekali. Makan daging,” ujar Caca ceria sembari menyerahkan baskom berisi wortel yang sudah dipotong-potong serasi pada Tya.
“Mumpung ada rezeki. Biar kamu juga makan makanan bergizi. Udah, duduk saja sana, biar Mbak yang masak. Kamu kan baru mendingan,” pinta Tya yang sedang memasukkan wortel ke dalam panci sup.
“Tapi kali ini aku beneran ngerasa lebih cepet sembuh dari sebelum-sebelumnya lho, Mbak. Apalagi bangun pagi ini seger banget. Apa mungkin obatnya beda ya? Kayaknya lebih mujarab. Atau mungkin karena semalam ibu datang dalam mimpiku ya? Katanya mau jengukin aku sama mau bilang makasih sama Mbak karena udah jagain aku.” Caca mencerocos penuh semangat. Bola matanya berbinar saat bercerita.
“Oh, ya?” Tya terkekeh, mengusak sayang kepala Caca. “Kalau nanti ibumu datang lagi di mimpimu, sampaikan juga ucapan makasih Mbak buat ibu ya. Terima kasih sudah mengirimkan malaikat baik hatinya jadi adik Mbak.”
Tawa Tya berderai renyah. “Hei, kenapa perasaan Mbak enggak enak ya? Memangnya apa syaratnya?”
“Boleh enggak, aku kepingin makan ayam goreng krispinya nanti siang? Makan siang di restoran ayam yang Mbak bilang itu, kayak orang-orang yang pernah kita lihat sewaktu mulung.”
“Tapi kan kamu baru sembuh. Mbak takut kamu kenapa-napa kalau makan yang terlalu garing begitu,” jawab Tya khawatir.
“Aku beneran sudah sangat sehat lho, Mbak. Beneran deh, bila perlu Caca buktikan dengan mengangkat tabung gas.” Caca menjelaskan penuh antusias tentang kondisi yang dirasakannya.
Tya menutup panci untuk mematangkan wortel yang baru masuk, berbalik dan balas memeluk Caca. Sorot mata penuh harap Caca membuat Tya tak tega melarang meski agak cemas, ia mengangguk mengiyakan.
“Boleh. Nanti siang kita makan di restoran ayam krispi yang kamu mau. Mau sekalian beli baju baru juga enggak? Buat dipakai ke tempat belajar. Biar ikut kelasnya makin semangat juga mumpung ada uang lebih,” tawar Tya bersungguh-sungguh.
“Asyik. Mau Mbak, mau. Tapi pengen yang warna putih ya. Pinginnya seragam putih-putih kayak orang yang sekolah biasa. Aku belum pernah punya baju putih bersih kayak gitu, biasanya dikasih bekas orang sudah enggak kinclong warnanya.”
“Boleh dong. Nanti siang dandan yang cantik. Jangan lupa bawa obatnya. Nanti mau makan dulu atau beli baju dulu?” tanya Tya kemudian.
“Aku maunya makan dulu, Mbak. Baru setelahnya beli baju baru.”
Bersambung.