Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 135



Sinful Angel Bab 135


Rintik gerimis berpadu hawa dingin menyergap semakin kuat begitu Bisma sampai di vilanya di Pangalengan. Pengurus vila yang sudah dihubungi sebelumnya menyambut Bisma dan Tya yang baru turun dari mobil. Tergopoh-gopoh membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan masuk.


“Den Bisma, selamat datang,” sambut seorang pria usia enam puluhan yang memang sudah sejak lama bekerja sebagai pengurus vila. Menyambut sopan dan ramah.


“Makasih, Mang Jaka. Bagian dalam vila sudah dibersihkan dan dibenahi rapi kan? Istriku sedang dalam masa pemulihan juga sedang hamil, aku harus memastikan kebersihan tempat yang akan dipakainya beberapa hari ke depan,” kata Bisma yang makin hari semakin posesif saja terhadap segala sesuatu yang bersinggungan dengan Tya.


“Sudah, Den,” sahut pria paruh baya yang dipanggil Mang Jaka itu. “Vila sudah siap dipakai. Bahkan semua gorden pun sudah diganti dengan yang bersih. Sebaiknya segera masuk, makin malam udara di sini semakin dingin. Nanti masuk angin. Saya sudah siapkan bandrek, pisang kukus dan kacang tanah rebus di dalam, masih hangat.”


Bisma menggandeng Tya masuk, disusul Teh Erna dibantu Mang Jaka mengangkut barang-barang bawaan di bagasi.


Tya dan Bisma mencicipi makanan yang sudah dihidangkan sembari bersantai sejenak, ditutup meneguk segelas bandrek guna menghangatkan badan.


Masuk ke dalam kamar mereka yang bernuansa klasik pedesaan lengkap dengan kelambu putih melingkupi peraduan, tanpa basa-basi Tya langsung naik ke atas kasur, membungkus tubuhnya yang terasa menggigil dengan selimut tebal yang terlipat. Bahkan jaket yang dipakainya tak mampu menghalau udara rendah di sini, terasa lebih dingin dari Puncak dan ini merupakan kali pertamanya datang ke sini.


“Mas, aku kayaknya enggak kuat bersih-bersih sebelum tidur deh. Haduh… ini asli dingin banget,” cicit Tya dengan bibir yang mendesis karena dingin. “Maaf ya.”


“Ya sudah, kamu selimutan saja. Aku ke kamar mandi dulu ya, mau bersih-bersih sama ganti baju.” Bisma mengusap puncak kepala Tya sebelum berlalu.


“Emangnya Mas enggak dingin?” Tya memekik horor mengundang Bisma menghentikan langkah dan menoleh pada Tya. Membayangkan air dingin meyentuh kulit sudah mampu membuat Tya bergidik, merasa bertambah menggigil.


“Dingin lah, Sayang. Cuma aku sudah terbiasa dengan udara dingin di sini. Lagian bersih-bersihnya juga pakai air hangat. Dan yang pasti dinginnya udara di sini kali ini enggak seberapa, soalnya sekarang ada kamu yang bikin aku hangat,” goda Bisma penuh arti.


Bisma mengedipkan sebelah matanya dan melayangkan fly kiss pada wanita cantik yang penampakannya sekarang sudah mirip kepompong, menggulung dirinya dengan selimut super tebal ke sekujur badan.


Tak butuh waktu lama Bisma melakukan ritual bersih-bersihnya. Tya mengerutkan dahi saat melihat bIsma keluar dari kamar mandi dengan membawa sebuah wadah bersih berisi air hangat di tangan kiri, sikat gigi di tangan kanan dan handuk kecil tersampir di bahu.


Lantas Bisma duduk di tepian ranjang, tepat di dekat area di mana Tya berbaring.


“Ayo, sikat gigimu dan cuci mukamu dulu. Di sini saja.”


Perhatian manis Bisma lagi-lagi membuat Tya terharu. “Padahal enggak usah repoot-repot begini, Mas. Biar nanti aku ke kamar mandi saja.”


“Kalau ke kamar mandi sekarang pasti enggak kuat dengan udara dinginnya karena kamu belum terbiasa. Tapi kalau enggak bersih-bersih, nanti tidurmu enggak akan nyenyak. Jadi sengaja aku bawakan ke sini. Ayo.”


Patuh, Tya menerima semua perhatian Bisma tanpa kecuali, membuatnya merasa semakin dipuja dan dicinta.


Selesai dengan kegiatan bersih-bersih, Bisma juga membantu Tya berganti pakaian dengan piyama hangat nan nyaman tanpa membuat Tya beranjak dari kasur. Bisma pun tak lupa menyiapkan obat serta vitamin yang harus diminum Tya sebelum tidur, memastikan Tya menelan pil dan kapsul dari dokter dengan meminta Tya membuka mulut lebar-lebar setelah menelan obatnya.


“Good girl!” ujar Bisma sembari mengusak rambut Tya gemas.


“Ih, aku bukan anak kecil!” sanggah Tya dengan bibir mengerucut.


Tya memejamkan mata, menghidu rakus saat aroma maskulin suaminya memenuhi seluruh indra penciumannya.


“Mmhh, aroma Mas selalu seenak ini. Entah Bunda mengidam apa sewaktu hamil Mas sampai aroma maskulin Mas itu udah kayak obat tiada duanya, pengobat jiwa ragaku,” cicit Tya senang.


“Benarkah? Masa sih?” Pujian Tya membuat Bisma melambung. Dipuja oleh yang dicinta memang berbeda. Efeknya sangat dahsyat, mampu membuat rongga dadanya terasa mengembang tak karuan.


“Iya, beneran. Aku bukan lagi modus lho, bukan kayak seseorang,” kekeh Tya sembari menyikut perut berotot Bisma.


Bisma ikut tertawa kecil, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tya.


“Akh, seandainya cuaca di sini enggak sedingin ini, aku ingin sekali kita lebih terbuka seperti komitmen yang sudah disepakati. Buka-bukaan seperti dua hari yang lalu. Tapi tubuhmu masih menyesuaikan diri dengan udara dingin di sini, aku enggak mau kamu masuk angin,” desah Bisma berat.


Tya mengelus sayang lengan kekar Bisma yang memeluknya posesif.


“Maaf ya, Mas. Padahal kita ke sini mau sekalian bulan madu, tapi aku malah kedinginan kayak gini. Gimana kalau buka-bukaannya diganti besok siang? Walaupun siang hari, aku yakin di sini cuacanya tetap sejuk dan mendukung, mengingat malam harinya saja sedingin ini.”


Kecupan sayang mendarat di pipi mulus Tya. “Jangan dipaksa, aku cuma pingin isengin kamu. Masih banyak waktu untuk kita. Lagian aku juga takut anak kita ngambek sama Papanya kalau terlalu sering dijenguk dan dokter pun menyarankan jangan terlalu sering dulu di trimester pertama ini. Yang penting buatku sekarang, kamu dan bayi kita sehat.”


Tasbih syukur menggema di sanubari Tya. Bentuk kebagiaan nyata yang kini dirasakannya tak luput dari kuasa Sang Pencipta.


Tya pun Teringat pada suatu kalimat yang pernah di dengarnya pada suatu kajian ilmu yang berbunyi. ‘Terkadang Allah memberi cobaan untuk menguji kesabaranmu. Maka perlihatkanlah kesabaran yang indah kepada-Nya, karena sesungguhnya di balik cobaan itu Allah sudah mempersiapkan sesuatu yang mengembirakan bagi orang-orang yang bertawakal’.


“Makasih, Mas. Sudah sayang padaku dan bayi kita. Bolehkah aku bilang kalau sekarang rasanya dunia ini hanya milik kita berdua?” cicit Tya berlumur senyum.


“Hei, ibu hamil ini pandai sekali menggombal rupanya. Benar-benar berbahaya, bikin aku enggak tahan ingin buka-bukaan sekarang juga.” Bisma berujar sembari mengecup gemas leher jenjang Tya.


Mendengar kata terbuka berulang kali membuat Tya teringat sesuatu. Awalnya masih ragu, tetapi dipendam sendiri terus pun rasanya salah, karena ia pun sudah setuju dengan komitmen saling terbuka dengan suaminya.


“Mas?” panggil Tya dengan nada berbeda.


“Ya, kenapa, hmm? Kamu lapar? Mual?”


Tya menggeleng. “Bukan itu.”


Tya bergulir mengubah posisi berbaringnya supaya berhadapan dengan Bisma. Sorot matanya serius bercampur bimbang.


“Begini, Mas. Karena kita sudah berkomitmen untuk sama-sama terbuka, ada hal penting yang ingin kuceritakan. Bukan bermaksud menjelekkan pihak manapun, tapi kurasa Mas harus tahu tentang kekhawatiran yang menderaku. Ini tentang rekan bisnis Mas, tentang Pak Markus.”


Bersambung.