Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 9



Sinful Angel Bab 9


Bisma memilih sarapan di JW Eat Out. Selain karena akhir-akhir ini agak bosan dengan menu bufet hotel, dia memiliki janji bertemu dengan pemilik Date House dan agen yang dipilihnya di tempat ini.


Menu yang dipesannya datang tanpa menunggu lama. Terdiri dari caesar salad lettuce, flat bread meat lovers dan secangkir kopi hitam tanpa gula.


Semalam, Bisma tak sempat mengisi perut lagi sesampainya di Jakarta. Perpaduan dari lambung keroncongan dan aroma lezat hidangan membuatnya makan dengan lahap dan cepat. Mengisi ulang perutnya yang sejak terbangun subuh tadi aktif berbunyi meminta jatah asupan.


Tepat saat Bisma meneguk kopinya. Tiga orang wanita berjalan beriringan menuju ke arahnya. Yang paling depan memakai setelan span warna coklat. Wanita di sebelah kanan yang berjalan berlenggak-lenggok memakai gaun ketat hijau tua, sedangkan di sebelah kiri yakni sosok yang berjalan paling belakang memakai jeans belel dan hoodie pink menutupi kepala, dilengkapi kacamata hitam.


Tampaknya mereka lah sosok yang ditunggu-tunggu. Bisma sudah menginformasikan ciri-ciri dirinya, bahwa hari ini dia memakai kemeja hitam dan celana warna khaki agar saat sampai di tempat bertemu janji orang-orang yang dimaksud lebih mudah menemukan keberadaannya.


Si wanita berbedak tebal usia lima puluhan yang berjalan memimpin dua wanita muda di belakangnya menghampiri tempat duduk Bisma dan menyapa sopan.


“Maaf, apakah benar Anda Pak Bisma Putra Prasetyo?”


Bisma berdiri membuang kegugupan, mengangguk tipis. “Benar. Dengan Bu Marsha?” jawabnya setengah hati mengiyakan. Merasa gelisah sendiri sebab saat ini dia merasa seakan hendak berbuat asusila.


“Ya, saya Marsha, pimpinan jasa Date House. Ternyata Anda masih muda dan berkelas, saya kira duda tua,” candanya dibuat-buat. Sorot matanya berbinar serakah, memindai Bisma dari kepala hingga ujung kaki yang bagaikan bak gepokan uang di matanya.


“Silakan, duduk.” Bisma mengulurkan tangan, mempersilakan tamunya duduk. “Silakan pesan minuman sesuai selera,” tawarnya tak melupakan adab tata krama terhadap tamu di manapun berada.


Dua wanita duduk berhadapan dengan Bisma, sedangkan yang memakai jeans agak lusuh duduk di meja lain yang tak terlalu jauh.


“Kami pesan teh saja, biar cepat. Sebaiknya kita langsung pada intinya saja yaitu terkait negosiasi tarif, Pak Bisma. Karena jam sepuluh saya harus pergi ke tempat klien lain. Saya juga sudah mengajak agen terbaik di Date House. Anda bisa langsung berbincang tentang apa yang harus dilakukannya Lily di pesta yang akan Anda hadiri. Biasanya untuk Lily kita memasang tarif lima juta perjam ditambah biaya akomodasi untuk gaun dan perintilannya. Jam terhitung dari waktu berangkat. Semisal pulang dan pergi empat jam dikali lima juta ditambah akomodasi sekitar 5 juta plus kompensasi pindah jadwal negosiasi totalnya sekitar 30 jutaan. Bagaimana Pak?” jelas wanita bernama Marsha itu to the point, seraya menunjuk wanita yang duduk di sebelah kanannya.


“Lebih cepat lebih bagus. Tentang tarifnya saya tak keberatan. Tapi, di mana agen yang sudah saya notice?” tanya Bisma menelisik. Mata jelinya dapat langsung mengenali, wanita berbaju hijau ketat dan berstiletto merah ini bukan yang ingin disewanya. “Dia bukan agen nomor tiga yang ingin saya sewa. Juga seingat saya namanya Cintya, bukan Lily.”


Bisma memindai si wanita yang dipanggil Lily. Wanita ini cantik, berkulit putih dan berbody semampai. Akan tetapi Bisma merasa tidak srek saja. Foto agen nomor tiga lebih menarik perhatiannya.


“Maaf, Bu Marsha. Saya tetap ingin agen nomor tiga saja untuk disewa. Bukankah Anda menjanjikan akan membawanya bertemu saya pagi ini? Kalau Anda ingkar, maka kompensasi perpindahan jadwal bertemu akan batal juga, termasuk dalam poin-poin yang Anda tulis dalam formulir yang saya isi. Saya ingin bertemu dia sekarang atau rencana saya menyewa dibatalkan saja,” tegas Bisma, tak suka bertele-tele.


Tebar senyum agen bernama Lily itu memudar. Sepertinya dongkol dengan perkataan Bisma. Sedangkan Marsha terlihat panik, takut pundi-pundi yang hampir didapat di depan mata kabur darinya.


“Ah, ba-aiklah, Pak. Kalau Anda bersikeras. Tapi maaf kalau tampilan Cintya di pertemuan deal ini kurang memuaskan. Dia agak teledor juga kurang profesional. Pagi ini datang terlambat dan belum sempat berdandan!” geramnya agak emosi sembari melirik tajam wanita yang memakai hoodie, yang duduk di meja seberang mereka.


Kesan pertama agen adalah kunci deal harga tinggi, sedangkan dengan wujud Tya sekarang sudah pasti tarif negosiasi terancam deal di bawah rate yang diinginkannya. Seperti yang sudah-sudah.


"Cintya! Kemari!" seru Marsha memerintah.


Wanita yang memakai jeans belel itu bangkit dari duduknya dan mendekat ke meja Bisma. Membuka topi hoodie yang menutupi kepala serta kacamata hitam yang dipakainya. Wajahnya benar tanpa make up dan rambutnya acak-acakan, mirip orang baru selesai mandi terburu-buru.


Tya membungkuk sopan dan menunduk kentara tak enak hati. "Perkenalkan, saya agen nomor tiga. Cintya Angela. Maaf, atas ketidakprofesionalan saya," tuturnya hati-hati seraya mengangkat pandangan. "Saya sarankan, Anda menyewa agen nomor satu saja, Pak."


Dalam satu garis lurus. Manik coklat susu Tya langsung bersirobok dengan Bisma yang ternyata sedang menatapnya lekat. Tya sedikit terhenyak menelan ludah, bola matanya bergulir tak menentu, meremas ujung sweater hoodie yang dipakainya. Sedangkan Bisma sebaliknya, dia tertegun dan entah kenapa ingin berlama-lama menyelami tatapan teduh Tya yang memancar tak biasa, membuat Tya agak gugup ditatap sedemikian rupa saat wujudnya tak karuan.


"Bagaimana, Pak Bisma? Masih ingin menyewa dia?" suara Marsha menginterupsi.


"Ya, saya tetap pilih agen nomor tiga untuk disewa," jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.


Bersambung.