Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 34



Sinful Angel Bab 34


Perawat baru keluar dari ruang rawat inap VIP yang ditempati Tya. Pak Sarif dan istrinya meminta izin pada perawat untuk menjenguk dan sipersilakan asalkan tidak terlalu lama. Di dalam sana, Tya tidak sedang tidur, tetapi terlihat melamun.


“Mbak Tya.” Pak Sarif menyapa pelan, berdiri di sisi ranjang bersisian dengan istrinya, memecah lamunan Tya.


“Eh, kapan datang Pak?” tanya Tya begitu menyadari kedatangan tamu.


“Baru saja, Mbak.”


“Maaf, di pemakaman tadi saya belum sempat mengucapkan terima kasih. Oh iya, berapa kekurangan dana pemakaman Caca, Pak? Berapa hutang saya pada pengepul rongsok?”


“Tidak apa-apa, Mbak Tya. Kami sangat paham kalau Mbak sedang berduka. Kami tidak jadi meminjam kekurangan pada pengepul atas nama Mbak. Biaya pengajian buat tujuh hari ke depan pun sudah terpenuhi, sudah kami berikan pada pengelola mushola terdekat untuk mendo’akan mendiang Caca. Para penggali dan anak-anak pemulung yang hadir di pemakaman kami berikan uang jajan, semoga keberkahannya tersampaikan pada Caca dan semoga berlimpah untuk Mbak Tya juga. Kami tidak menyangka, Caca rezekinya bagus,” terang Pak Sarif menjelaskan pada Tya.


“Lho, uangnya kan cuma sedikit. Mana cukup?” Tya bertanya dengan sorot mata jelas tak mengerti sebab jumlah rupiah yang diberikannya rasa-rasanya tidak mungkin cukup memenuhi semua itu.


“Mana ada sedikit, Mbak Tya. Banyak banget malah. Calon suami Mbak Tya yang kasih. Yang ganteng dan bajunya rapi itu lho, Mbak. Yang punya tahi lalat di pelipis kanan.” Istrinya Pak sarif ikut bersuara.


“Hah? Calon suami?” Tya makin tak mengerti, mengerjap seperti orang bodoh.


Melihat sekeliling, Tya baru menyadari ruang perawatannya ini tak biasa. Benar kata Pak Sarif, ini adalah ruang perawatan yang masuk kategori mewah dan pasti tidak murah. Kepalanya mulai mencerna meski agak linglung saat kata ‘calon suami’ terlontar dari dua tamunya ini bersama ciri-ciri Bisma yang jelas disebutkan sebagai orang yang bersangkutan.


“Tadinya kami ke sini mau kasih sisanya, masih ada tiga juta. Tapi pas kami ke kontrakan Mbak Tya buat menyimpan barang-barang Caca yang diserahkan pihak rumah sakit, ada ibu-ibu pakai baju hebring ditemani laki-laki kayak preman yang datang tiba-tiba. Ngangkut barang-barang baru di kontrakan sama maksa ngambil sisa uang di tangan saya. Katanya kompensasi karena Mbak enggak bisa bekerja sesuai perjanjian.” Pak Sarif menyambung kata.


Kalimat Pak Sarif bertepatan dengan pintu perawatan Tya yang didorong dari luar. Marsha yang datang ditemani Jerry. Masuk tanpa permisi maupun mengucap salam.


“Nah, itu ibu-ibunya, Mbak Tya,” bisik istri Pak Sarif yang sedikit ketakutan melihat tampang judes Marsha.


Bisma sedang meneguk kopi sembari cari angin malam di area kantin rumah sakit. Meninggalkan Tya ketika perawat dan dokter masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Tya dan mengganti beberapa perban serta mengecek luka luar lainnya. Berhubung sudah pasti baju Tya akan banyak dibuka, Bisma memilih keluar, khawatir matanya kurang ajar meskipun tak sengaja. Juga guna memberi ruang dan waktu serta ruang pada dokter bersama perawat melaksanakan tugasnya.


“Kenapa pikiranku agak-agak mesum di situasi begini? Hei, ini enggak benar!” gerutunya mengomeli diri sendiri. Menyugar rambutnya setengah menjambaknya.


Penunjuk waktu di pergelangan tangan menunjuk ke angka delapan. Sudah satu jam berlalu sejak dia meninggalkan Tya, merasa sudah cukup lama memberi waktu pada dokter dan perawat, Bisma memutuskan bergegas kembali ke ruang perawatan Tya.


Bersambung.