Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 121



Sinful Angel Bab 121


Sementara itu di rumah Farhana, Tya baru saja selesai dengan ibadah salat Isyanya. Di setiap dzikir selepas salatnya, derai air mata selalu menyertai. Ia memang sering bersedih setiap kali merindu pada Bisma. Tak dipungkiri rasanya berat tanpa Bisma di sisinya terlebih kondisinya sedang hamil sekarang.


Akan tetapi, Tya lebih banyak menangis bukan karena meratapi nasib, melainkan teringat akan noda dan dosanya di masa silam. Bersemoga jalan hijrahnya terasa terjal untuk dilalui, menjadi penyebab bergugurannya jejak dosa kelam di masa lalunya.


Ia meyakini satu hal, setelah jalan terjal berbatu lagi kelabu ini berhasil dilewati dengan tetap berpegang teguh pada keimanan dengan hanya mengharap petunjuk dan ridho Allah, jalan yang lebih terang akan menyambut dan membimbingnya di masa depan.


Tya keluar dari kamarnya saat Farhana mengetuk pintu kamar dan mengajaknya makan malam. Meski tak berselera, Tya tetap memaksakan mengisi perut, mengingat janinnya butuh nutrisi di dalam sana.


Selepas makan bersama, Tya mencuci piring dan membereskan meja dengan sigap meski Farhana melarang. Tya tak ingin hanya berpangku tangan saat menumpang di rumah orang. Walaupun sesungguhnya tubuhnya memang tidak begitu prima. Efek dari mengidam juga hati yang disiksa rindu tak tertahan pada sosok ayah dari bayi yang dikandungnya.


“Dek Tya, ini bahan-bahan wedang juga bahan jamu segar yang kamu titip beli ke saya. Kemasan botolnya saya beli dua lusin dulu, yang ukuran kecil. Bikin buat tester saja dulu, jangan langsung banyak.”


Farhana menyerahkan kantung belanja berisi rempah kering dan segar yang dipesan Tya. Juga satu kantung berisi botol plastik sesuai dengan yang diminta Tya.


Kemarin Farhana banyak berbicang dengan Tya, bertanya tentang keahlian yang dimiliki saat Tya ingin mencari kerja. Setelah berbincang, Farhana menyarankan Tya berjualan wedang dan jamu saja. Mengenai pemasarannya, bisa dimulai dengan dijual pada guru-guru di sekolah tempat Farhana mengajar.


“Terima kasih banyak, Ustadzah. Tapi, kenapa ini uangnya masih ada sisa seratus ribu di dalam tas belanja?” Tya menunjukkan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu pada Farhana.


“Rempah-rempah kering wedang dibeli pakai uang saya karena bahan-bahannya sekalian untuk memasak di dapur. Sedangkan bahan-bahan segar untuk jamu, saya dapat dari toko salah satu jamaah pengajian yang memiliki banyak kios di pasar. Saat saya mau membayar, dia menolak keras. Makanya uang dari kamu cuma berkurang buat beli kemasan botol. Simpan lagi saja sisa uangnya. Tidak baik menolak rezeki, pasti ini rezekinya dedek bayi,” jelas Farhana menerangkan dengan penuh penghiburan.


“Alhamdulillah. Makasih banyak, Ustadzah,” sahut Tya bersemangat, mengulas senyum sembari mengusap perutnya yang dibalas anggukan tulus dari Farhana. Menderaikan syukur dari hati juga lisan.


“Dek Tya, sebetulnya saya punya sesuatu yang ingin dibicarakan. Sebaikanya kita ngobrol sambil duduk.”


“Ada apa Ustadzah? Saya paham keberadaan saya di sini pasti merepotkan. Tapi, saya juga tidak tahu harus pergi ke mana sekarang. Saya akan bersih-bersih dan mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari setelah membuat wedang dan jamu untuk berjualan, sebagai bayaran saya menumpang. Hanya itu yang saya bisa, tolong izinkan saya tinggal bersama Anda sampai saya benar-benar punya bekal mumpuni,” lirih Tya memohon. Dulu, ia tidak takut andai harus tidur di emperan. Namun sekarang lain cerita. Ada bayi dalam kandungannya. Tya takut terjadi hal buruk pada si buah hati jika dirinya terlunta-lunta di luar sana.


Farhana tertawa kecil. “Bukan itu. Mulai lusa sampai satu bulan ke depan, saya akan sangat sibuk dengan pekerjaan di sekolah maupun kegiatan mengisi kajian ilmu. Biasanya saya jarang tinggal di rumah ini di saat jadwal pekerjaan dan kegiatan sedang padat. Saya lebih sering tinggal di rumah yang disediakan yayasan untuk para guru yang tempat tinggalnya lumayan jauh dari sekolah. Semacam rumah dinas, lokasinya dekat dengan sekolah.”


“Maksudnya bagaimana, Ustadzah?” imbuh Tya tak paham.


“Begini, Dek Tya. Kalau kamu tinggal sendiri di sini, saya khawatir ada apa-apa. Jadi, saya ingin kamu ikut dengan saya tinggal di rumah dinas untuk sementara waktu. Tapi itupun kalau Dek Tya bersedia Tapi kalau ikut ke sana, rencana berjualan lebih mendukung mengingat lokasi sekolah sangat dekat. Selain dijual dalam kemasan untuk ditawarkan kepada para guru, Dek Tya juga bisa menjual wedang dan jamu dengan menyediakan layanan minum di tempat. Rumah dinasnya punya halaman cukup luas. Bisa dipakai untuk tempat berjualan.” Farhana menjelaskan maksudnya mengajak berbicara, yang disambut Tya semringah.


“Saya mau, Ustadzah.” tukasnya cepat tak perlu berpikir panjang. Ada bantuan peluang pun Tya sudah sangat bersyukur.


“Baiklah, kalau begini saya lega. Tapi, apakah Dek Tya benar tidak rindu pada suami dan ingin pulang? Maaf, bukan mengusir, hanya ingin bertanya. Karena saya melihat ada baju laki-laki di kamarmu, pasti itu baju suami Dek Tya kan? Yakinkah bisa bertahan jauh darinya selamanya?”


Pertanyaan Farhana membuat Tya menunduk lesu. Gurat sendu serta merta menghiasi paras cantiknya dalam sekejap. Mendung, laksana awan kelabu sebelum hujan.


“Dulu, saya bisa dengan percaya diri menjawab bahwa saya mampu hidup sendiri. Tapi sekarang, kalau boleh jujur saya tak yakin,” ucap Tya serak. Memilin jari jemarinya yang terjalin.


“Kalau tak yakin, bukankah itu semacam sinyal alami agar kita mengurungkan niat?” tukas Farhana balik bertanya.


“Tapi saya sudah memilih. Dan saya sadar di setiap pilihan selalu beriringan dengan konsekuensinya. Walaupun saat memutuskan pergi, saya tersiksa karena terus teringat dengan Mas Bisma. Bahkan tadi malam, saya bermimpi melihat Mas Bisma terbaring sakit,” sambung Tya tercekat, suaranya bergetar. lantas menyusut sudut mata yang berair.


“Sebaiknya Dek Tya memikirkan lagi keputusan ini matang-matang. Hanya saran. Jangan lupa terus bermunajatlah pada Allah, minta petunjuk, tanya hatimu. Belum terlambat untuk kembali. Pikirkan sekali lagi. Dan cobalah telaah, apakah keputusan ini adil untuk janin yang dikandung? Dia pasti butuh ayahnya, butuh kasih sayang kalian berdua. Begitu juga Dek Tya yang pasti sangat membutuhkan dukungan suami terlebih di saat sedang hamil.”


Bersambung.