
Sinful Angel Bab 63
Sudah setengah jam Bisma di dalam sana, Tya mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Tak menjauh seinci pun dari sana. Beberapa kali menempelkan telinga khawatir Bisma memanggil dan telinganya tak mendengar. Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada panggilan satu kali pun.
Didera was-was. Tya memberanikan diri mengetuk. “Mas, masih berendam? Sebaiknya jangan lama-lama. Ini sudah larut. Aku sudah pesan minuman dingin seperti yang Mas minta,” kata Tya di depan pintu.
Beberapa detik berlalu, yang di dalam kamar mandi tak kunjung menjawab. Daripada disiksa cemas, Tya memutuskan nekat mendorong pintu, tak apalah disebut lancang pun, daripada Bisma celaka, pikirnya.
Tepat saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, pintu yang sejak tadi ditungguinya terbuka dari dalam. Bisma keluar terbalut jubah mandi, rambutnya masih basah meneteskan titi-titik air, sepertinya Bisma bukan hanya berendam, tetapi juga mengguyur diri. Raut wajah dan bias mata agak memerahnya masih sama, seperti tengah menahan siksaan.
Tya menyambar handuk tambahan yang terlipat di atas meja yang diantar bersamaan dengan minuman dingin. Mendekat kembali pada Bisma yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi. Mengusap dan menggosokkan handuk tersebut lembut sembari mengomel.
“Lagi kurang enak badan kenapa malah keramas, Mas? Walaupun keringatan, sebaiknya jangan diguyur air dingin malam-malam begini, bisa bikin kepala makin sakit dan malah makin berat.”
Tya menghentikan kegiatannya saat Bisma mundur satu langkah. Mendorong pelan tangan Tya yang tengah menghanduki rambutnya.
“Jangan dekat-dekat. Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat aku,” tegas Bisma mendesis berat, rahangnya pun tampak mengetat.
Tya yang sedang dipenuhi rasa peduli tulus, tiba-tiba merasa tersinggung dengan penolakan Bisma. “Kenapa? Aku cuma ingin membantu. Sebagai sesama manusia, tidak mungkin aku cuma menonton saat Mas tampak kesakitan dan jelas terlihat butuh bantuan.”
Bisma menelan ludah, menatap Tya dalam-dalam. “Bukan begitu, Tya. Aku tahu pribadimu sangat peduli saat melihat orang lain butuh bantuan. Tapi, kali ini sebaiknya jangan membantuku, berbahaya buat kamu,” jelas Bisma yang kemudian berjalan masih agak limbung menuju meja, meneguk segelas susu dingin yang sudah tersedia, berharap mampu meredakan gejolak siksa yang tengah menderanya hebat.
Tya mengekori dari belakang, meski kesal, tetapi ia tetap khawatir andai Bisma terjatuh. Bisma tampak memegangi sisi meja kuat-kuat seperti hendak meremukkannya. Cepat-cepat Tya memegang kepalan tangan Bisma, kekesalannya menguap lagi berganti cemas menghebat.
“Mas, cobalah terus terang, sebenarnya bagian mana yang sakit? Bagaimana kalau meminta bantuan hotel untuk memanggilkan dokter? Lebih cepat diobati lebih baik bukan? Belum lagi kita sedang berada jauh dari rumah, aku takut sakitmu makin parah. Kalau Mas mati di kamar ini bisa-bisa aku dituduh jadi pembunuh suaminya sendiri. Aku enggak mau masuk berita dan masuk penjara.” Tak peduli andai Bisma menolak lagi, Tya meraba pipi Bisma ingin mengecek suhunya, mengikis jarak, ingin mengamati lebih dekat.
Bisma hendak menepis tangan halus yang mendarat di pipi dan dahinya. Namun urung dilakukan saat melihat raut wajah Tya yang hanya berjarak dua jengkal saja seperti hendak menangis. Membuang napas berat, Bisma balas menatap Tya dengan mata sayu, terkekeh tipis saat mendengar ujung kalimat Tya.
“Rasa sakitku ini kurasa enggak berbahaya. Besok aku yakin sudah baikan. Jangan nangis. Aku enggak akan mati cuma karena hal ini,” jawab Bisma serak. Mengusap pipi Tya, dan cepat-cepat melepaskan tangannya lagi dari kehalusan kulit Tya, seolah tersengat listrik berbahaya yang harus dihindari.
Tya memiringkan kepala. Mengamati Bisma dengan saksama, menelaah gejala juga reaksi tubuh pria yang sedang terlihat terus gelisah dan mengerang tak nyaman ini. Ditambah lagi sorot sayu netra Bisma membuat Tya membolakan mata.
“Mas tahu apa penyebab yang membuat tubuhmu bereaksi tak baik-baik saja?” tanya Tya menelisik.
Bisma menyelami netra teduh yang sedang memaku pandang padanya. Sorot mata Tya menyiratkan bahwa wanita cantik di hadapannya ini mampu menebak apa yang sedang terjadi padanya. “Kurang lebih aku tahu, maka dari itu jangan dekat-dekat,” sahutnya.
“Tahu cara mengatasinya?”
“Aku tahu,” jawab Bisma singkat. “Tapi aku yakin dengan tidur pun bisa mereda.”
“Yakin bisa memejamkan mata dalam kondisi begini? Setahuku sangat sulit.”
Bisma menatap Tya lekat-lekat sembari menahan siksa yang mendera. Seluruh sarfanya tegang, menuntut dilemaskan. Mengangguk tipis meski tak yakin.
Terdiam sejenak, Tya balas menyelami netra Bisma. Tidak ada yang salah bukan kalau Tya ingin membantu Bisma sekarang? Lagipula seperti kata Vero, ia dan Bisma sudah menikah, meski siri tetap saja mereka adalah suami istri yang sah. Dirinya tidak sedang menjajakan diri pada hidung belang, tetapi pada pria yang berstatus suaminya.
Tiba-tiba saja tangan Tya terulur, membuka jepit yang menyangga tatanan rambutnya, membiarkannya tergerai. Lantas tanpa disuruh, Tya membuka kancing gaunnya di depan Bisma satu persatu.
“Tya, apa yang kamu lakukan!” geram Bisma, membeliak dengan sudut bibir berkedut. “Hentikan!”
Tak memedulikan bentakkan Bisma, Tya tetap membuka seluruh kancing dan membiarkan gaunnya luruh ke lantai. memampangkan raga moleknya yang hanya menyisakan panty dan bra warna hitam. Tya merapat pada Bisma yang berusaha mundur menjauh. Bisma masih berusaha menjauhkan tubuh Tya, kendati saat kulit halus Tya merapat padanya, kewarasannya mulai berhamburan.
Tya berjinjit, mengalungkan lengan ke leher Bisma dan berbisik. “Biarkan aku membantu meredakan siksaan sakit yang sedang kamu rasakan, Mas. Mas juga sudah banyak membantuku saat aku sakit, jadi biarkan aku membantumu sekarang.”
"Jangan nekat! Aku enggak yakin bisa berhenti kalau kamu malah begini, Cintya!"
"Kalau begitu, jangan berhenti." Tanpa aba-aba, Tya menyerbu Bisma dengan pagutan yang begitu lihai. Petahanan Bisma yang memang sudah tak kuasa mehanan diri, roboh seketika. Membalas pagutan Tya lebih buas efek dari zat afrodisiak yang menjalari nadi.
Bisma meraih tengkuk Tya, menanamkan bibirnya dalam-dalam, mendekap tubuh ramping Tya merapat kuat padanya dan mendorongnya hingga terlentang di atas peraduan, memerangkap di bawah kungkungan jantannya.
Bersambung.