
Sinful Angel Bab 72
“Hei, mukamu cerah banget. Pasti lagi happy.”
Vero mengomentari ekspresi Bisma yang terus mengembangkan senyum. Mereka sedang berada di kafe yang letaknya tak jauh dari kantor konstruksi milik Vero. Bisma janji bertemu dengan Vero untuk berbagi oleh-oleh yang diberikan pengusaha dari Malaysia sewaktu di Bali.
“Kayaknya kamu berbakat jadi paranormal, tebakanmu sangat tepat. Kenapa enggak mencoba buka tempat praktek? Pasti viral.” Bisma menyeringai jahil sembari menyobek kemasan gula rendah kalori yang dituangkannya ke dalam kopi hitam panas yang dipesannya.
“Paranormal matamu! Kamu nggak sadar apa? Coba ngaca sana. Dari riak-riak mukamu itu jelas kentara kalau suasana hatimu sedang gembira, Tuan. Coba spill apa penyebabnya, aku cuma takut kamu senyum-senyum sendiri tanpa sebab. Aku tahu senyum itu ibadah, tapi kalau enggak ada alasannya alamat berakhir di rumah sakit jiwa!”
“Oh ya? Memangnya terlihat jelas ya.” Bisma malah iseng mengambil sendok pengaduk gula lantas menggunakannya untuk bercermin. “Hmm, kenapa aku cuma melihat pahatan gantengku?” ujarnya narsis yang dihadiahi dengusan sebal Vero juga ekspresi mual-mual seolah hendak muntah.
“Amit-amit jabang bayi! Narsismu itu bikin aku mual-mual!” Vero mengetuk-ngetuk meja menggunakan kepalan jarinya. “Punya temen gini amat Ya Allah. Kamu kudu dirukiyah!”
Gelak tawa Bisma berderai hingga pundaknya ikut berguncang. Puas mengganggu temannya itu.
“Aku memang lagi senang. Seminar kemarin membuahkan hasil tak terduga. Agra Prime memiliki celah lebar juga potensi kesempatan untuk mengembangkan sayap lebih luas. Awalnya aku enggak menyangka respons para pengusaha di acara seminar akbar di Bali akan sepositif ini, sungguh berkah besar buatku.” Bisma menjelaskan alasan raut gembiranya dengan gamblang sekarang. Vero yang tadi sempat ngedumel langsung ikut terbawa aura gembira yang ditularkan Bisma.
“Syukurlah, syukurlah. Aku ikut senang.” Vero berkata setulus hati sembari menepuk-nepuk pundak Bisma. Dia sangat tahu seperti apa jatuh bangunnya perjuangan Bisma membangun lagi perusahaan dari bawah juga menata hatinya yang sempat hancur hingga berkeping-keping secara bersamaan.
“Makasih, Bro.”
Tepukan Vero di pundak Bisma terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang menarik tanda tanya. Yakni bercak kemerahan di ceruk leher Bisma tepat di belakang telinga agak ke bawah, sedikit terhalang kerah.
Vero yang duduk berhadapan dengan Bisma menegakkan punggung, lantas memicing menelisik pada lawan bicaranya. Bisma yang mendapat tatapan curiga Vero, mengernyitkan kedua alisnya tak paham.
“Ada apa? Kenapa kamu melihatku begitu?” tanya Bisma yang mendadak merasa menjadi pusat perhatian.
“Selain kabar baik yang tadi, yakin enggak ada tambahan lain yang membuatmu begitu sumringah?” desak Vero yang balik melontarkan tanya. “Sepertinya ditunjang hal lain yang bukan melulu terkait bisnis.”
“Maksudnya apa? Bicara yang jelas!” desak Bisma yang sedang tidak berminat menerka-nerka.
“Apakah seminar di Bali terasa lebih panas kali ini?”
“Hei, jangan mengelak. Sepertinya suhu Bali lebih gerah dari biasanya, buktinya kamu terserang biang keringat. Tuh lehermu bagian belakangmu ada bercak-bercak merahnya.”
Vero mengarahkan tatapannya tepat ke arah di mana tanda jejak panas tercetak seraya melipat bibir menahan tawa. Sedangkan Bisma refleks meraba lehernya sendiri, bangun dari kursinya dalam sekali sentak dan terbirit lari ke kamar mandi.
*****
Hari ini Teh Erna bersiap pulang lebih awal. Tya sendiri yang memberi kelonggaran dan memperbolehkan Teh Erna pulang sore hari dari yang biasanya selepas Isya.
“Paper bag oleh-olehnya jangan sampai lupa dibawa pulang, semoga Teh Erna suka,” kata Tya yang baru selesai membasuh diri, mengenyahkan keringat selepas seharian padat bepergian. Lantaran selepas diantar Khalisa pulang, Tya langsung berangkat lagi diantar Mang Eko pergi kontrol terkait patah tulangnya ke rumah sakit. Beruntung pasiennya sedang tidak mengantre, sehingga keperluan di rumah sakit selesai lebih cepat.
“Bukan suka lagi, tapi suka banget, Neng.” Teh Erna hampir berjingkrak saking senangnya, memeluk jinjingan besar berisi oleh-oleh penuh sukacita. “Tapi beneran enggak apa-apa saya pulang lebih awal? Kalau Neng Tya capek, perabotan bekas makan malam nanti biarkan saja di westafel cuci piring, biar besok pagi saya yang cucikan.”
“Beneran enggak apa-apa kok, Teh. Cuci piring masalah gampang. Tanganku sudah kuat kalau cuma cuci perabotan yang ringan-ringan. Juga, aku ingin melayani makan malam Mas Bisma dengan tanganku sendiri, bagian dari tugasku sebagai seorang istri.” Setelah menghadiri kajian tadi siang, Tya mulai dihinggapi rasa ingin berperan sebagai istri sesungguhnya yang menunaikan kewajibannya dalam berumah tangga, tak mengapa meski Bisma tak memiliki pemikiran yang sama.
“Semoga kesehatan Neng Tya makin membaik. Biar bisa menunaikan kewajiban istri yang lainnya. Den Bisma pasti senang banget. Asal Neng Tya tahu, semenjak menikah dengan Neng Tya, Den Bisma jadi lebih sering senyum. Enggak kayak waktu menduda dulu, bawaannya muram terus,” cerocosnya, mode ember bocor Teh Erna kembali on.
Ojek daring yang dipesankan Tya untuk Tah Erna sudah datang. Setelah Teh Erna pulang, Tya gegas menuju dapur untuk menghangatkan rawon dan memasak menu tambahan lainnya yang tersedia di kulkas. Saking asyiknya, Tya bahkan tak mendengar saat Mang Eko membukakan pintu gerbang pertanda si tuan rumah sudah pulang.
Tya membuat bihun goreng dan udang goreng sebagai tambahan menu. Mengayunkan spatula dengan gembira sembari sesekali bersenandung, tak menyadari sosok tinggi tegap yang memasuki area dapur tengah tertegun menatap punggungnya.
Yakin kamu bersandiwara dengan Tya sampai sejauh ini hanya demi melampiaskan marah pada Prita? Coba tanya hatimu, yakin kamu enggak jatuh cinta dengan Tya? Dari ceritamu, kurasa sejak pertama kali melihat fotonya tanpa sadar kamu memang sudah terpikat hanya saja otakmu menyangkal sebab dipenuhi gunungan marah terhadap mantan istrimu. Dan aku sangat mengenalmu, Bisma. Meski dalam kondisi hampir kehilangan kewarasan pun, kamu tidak akan sudi menyentuh dan disentuh oleh wanita yang tidak kamu suka.
Kata-kata Vero berdengung memenuhi kepala Bisma sejak perjalanan pulang tadi. Berdengung berulang lagi dan lagi.
Jangan membuat Tya merasa hanya dimanfaatkan meski mungkin Tya enggak membahas lebih jauh tentang kejadian tak terencana di Bali. Wanita itu butuh kepastian, Bisma. Juga, dia itu istrimu sekarang, ingat istrimu, bukan hanya sekadar alat yang bisa seenaknya digunakan untuk pamer pada para pengkhianat, Tya juga manusia yang punya perasaan terlepas dari asal usulnya. Kamu pasti paham akan makna status yang terlanjur kamu sematkan padanya. Aku ingatkan lagi khawatir kamu lupa.
Seluruh kalimat panjang lebar Vero semakin intens berputar-putar saat sosok Tya memenuhi ruang pandangnya dan tak dipungkiri hati Bisma yang sedingin salju selalu menghangat ketika Tya berada di dekatnya.
“Tya, apakah aku memang sudah jatuh cinta lagi?” gumamnya pelan, bertanya pada udara.
Bersambung.