Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 16



Sinful Angel bab 16


Bisma dan Tya tiba di tempat pesta terlambat tiga puluh menitan dari waktu yang tertera di dalam undangan. Bisma merupakan pribadi nyang sangat menghargai waktu. On time sudah menjadi kebiasaannya, kecuali hari ini.


Keterlambatannya terjadi sebab waktu tersita makeover lantaran partner yang disewanya datang dalam wujud mencengangkan. Bisma tidak mungkin membawa Tya yang penampilan awalnya terlihat seperti hendak pergi ke kelab. Harus memastikan bungkus luar wanita yang dibawanya minimal layak bersaing dengan si mantan istri. Saat mencapai area depan ballroom, benar saja pesta sedang berlangsung, terdengar dari pembawa acara yang mempersilakan tuan pesta untuk memberikan sambutan.


Bisma menghentikan langkahnya sekitar dua meter dari pintu masuk area pesta. Memeriksa pantulannya pada kaca kaca hitam di sisi kiri. Tya melakukan hal serupa, hanya saja ia malah terkagum-kagum dengan wujudnya sendiri. Baru menyadari dirinya memukau sebab sewaktu di hotel ia belum sempat melihat kaca dengan benar, diburu waktu.


“Ya ampun, kalau dandanannya semuanya super mahal dari ujung kepala sampai kaki begini, aku jadi mirip nona besar,” gumamnya pelan, cekikikan senang. “Sebelum pulang aku harus berfoto.”


“Tya, sudah siap?” tanya Bisma pada Tya yang sedang sibuk memerhatikan kaca.


“Siap, Pak!” sahutnya cepat.


“Jangan panggil saya, Pak. Bukankah di perjalanan tadi kita sudah briefing bersama? Ingat, malam ini kita adalah sepasang kekasih yang sudah bertunangan.” Bisma menekankan kata-katanya, mengingatkan kembali.


“Oh iya, maaf. Siap, Mas. Begitu sudah benar?” ujarnya bersemangat, tersenyum lebar. “Atau, haruskan saya memanggil Anda dengan sebutan ‘Sayang’ supaya sandiwara kita malam ini lebih cetar membahana?” usul Tya berapi-api. Tidak ada modus di dalamnya dan Bisma tahu itu. Tya hanya sedang berusaha menjadi professional dalam bidang yang baru digelutinya selama empat bulan ini.


Bisma nyaris menyemburkan tawa, Tya yang memberi usul sembari mengerjap antusias malah tampak lucu di matanya. “Ehm, boleh saja. Tergantung situasi dan kondisi, asal jangan terlalu berlebihan yang malah bisa menimbulkan kecurigaan. Ayo, kita masuk.”


Bisma memosisikan lengan kirinya memberi celah. Dengan sigap, Tya melingkarkan lengan kanannya di sana. Mereka melangkah masuk ke area pesta sembari bergandengan tangan. Memasang senyum merekah dengan dagu terangkat.


Di dalam sana, Radhika sedang memberi sambutan di podium sedangkan istrinya terlihat menebar senyum ramah menyapa para tamu. Prita memakai gaun hitam panjang menjutai tanpa lengan yang mencetak keindahan lekuk tubuhnya. Cenderung seksi. Gaunnya memang mahal dan merupakan salah satu karya dari perancang terkenal ibukota. Hanya saja nasib baju jadi tentu saja tidak bisa ekslusif hanya satu-satunya dan salah satu tamunya ada yang memakai baju serupa, hanya berbeda warna.


Prita sebenarnya tidak benar-benar menyapa para tamu. Sejak pesta dimulai, matanya menjelajah mencari-cari sosok Bisma. Ingin membuat Bisma semakin tak bisa melupakannya saat melihatnya berdandan cantik memakai gaun dengan warna kesukaan mantan suaminya itu.


Prita tak pernah puas ingin menyiksa dan mengolok-olok rasa cinta Bisma padanya yang begitu besar, sehingga dulu pun begitu mudah dikecoh saat dirinya menyarankan agak memaksa agar separuh aset-aset penting dipindah nama atas istri terselubung maksud lain, mengatakan pada Bisma bahwa permintaannya itu karena dia menginginkan bukti nyata bahwa Bisma benar mencintainya dan semua itu langsung diiyakan tanpa menaruh curiga saking sayangnya Bisma pada Prita.


Prita berhenti berkeliling saat melihat keberadaan wanita mungil berwajah manis yang memakai gaun lilac. Dia adalah Rona, istri dari Vero yang merupakan temannya semasa SMA.


“Rona, kamu bilang Bisma bakal datang. Dia itu kan orangnya on time gila. Pesta sudah berjalan setengah jam tapi dia masih belum kelihatan. Kamu enggak omdo kan?” cecarnya berbisik pada Rona yang sedang meneguk segelas jus jeruk.


“Eh, yang bener? Mau gabung di sini?” Prita terlonjak antusias, berseloroh mendesak pada Rona.


“Iya, beneran. Tuh, itu orangnya.”


Prita berdiri, menolehkan kepala mengikuti arah jari dan arah pandang Rona. Memasang senyum terbaiknya. Pongah penuh percaya diri seperti biasa. Namun, saat sosok Vero semakin mendekat, senyum penuh kesombongan Prita surut saat melihat Bisma ternyata tidak datang sendiri. Tadi, sosok yang digandeng Bisma terhalang postur Vero yang juga tinggi. Dan saat Vero berjalan lebih cepat di depan, kini terlihat terpampang jelas bahwa Bisma menggandeng mesra seorang wanita yang harus diakuinya berparas jelita.


“Nah, akhirnya yang dicari-cari sudah datang. Ini nyonya pesta dari tadi nanyain terus Bapak Bisma. Kepingin silaturahmi kayaknya,” celetuk Rona asal bunyi saja.


“Hai, gimana kabarmu, Prita?” tanya Bisma dengan wajah cerah. Begitu pula wanita cantik yang digandeng Bisma, mengembangkan senyum bersahaja.


“Ah, tentu saja kabarku baik,” jawab Prita tidak begitu ramah, kesal sebab wanita yang digandeng Bisma terlihat begitu serasi berdampingan dengan mantan suaminya, terutama dari baju mereka. Bahkan riasan dan gaun pun jelas-jelas mengalahkan pesonanya.


“Selamat atas anniversary pernikahannya, Nyonya Radhika,” kata Tya sembari tersenyum manis.


“Thank you. Sebetulnya acara hari ini bukan hanya untuk merayakan anniversary, tapi sekaligus pesta untuk merayakan kehamilanku. Aku sedang hamil, sudah dua bulan lebih. Anugerah indah yang tidak kudapat dari pernikahan pertamaku dulu.”


Secara tidak langsung, Prita memang sengaja mengusik sisi sentimentil Bisma melalui kalimatnya yang menyinggung perihal keturunan. Ingin mengganggu kedamaian mantan suaminya yang sempat minder perihal kesuburan sebab selama menikah tiga tahun lamanya Prita tak kunjung hamil. Terlebih lagi Prita panas hati saat melihat Bisma yang sejak berpisah dengannya tak pernah terdengar dekat dengan wanita manapun, kini malah membawa pasangan yang begitu cantik ke pestanya.


Bisma mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Mengendalikan diri untuk tidak terprovokasi.


“Wah, selamat, ini kabar gembira,” kata Bisma tetap tenang meski hatinya teriris nyeri. “Aku senang bisa ikut hadir di acara perayaan anugerah kebahagiaanmu dengan Dhika. Oh iya, aku juga ingin berbagi kabar bahagia.”


“Kabar bahagia apa?” tukas Prita cepat dengan perasaan was-was.


Bisma melirik Tya sekilas dengan tatapan penuh cinta, sungguh sandiwara yang sempurna. “Prita, perkenalkan, ini Cintya, Istriku.”


Bersambung.