
Sinful Angel Bab 33
Siang harinya, Caca dan Tya memakai baju terbaik yang mereka punya. Berangkat dengan riang penuh sukacita. Di restoran ayam krispi yang iconnya berbentuk huruf M warna kuning, Tya memesan paket lengkap untuk dua orang berisi empat potong ayam goreng, burger, french fries, dan dua cup milo. Merogoh kocek agak dalam, ingin menggembirakan Caca yang memang terlihat lebih sehat hari ini.
“Minum buat kita Mbak pilih milo aja, jangan yang bersoda dulu.” Tya menaruh nampan di depan Caca yang sedang mengagumi interior restoran cepat saji itu.
“Terserah Mbak aja, aku suka semuanya. Di sini enak banget ya, bersih, sejuknya beda, padahal enggak ada kipas angin. Caca merasa keren bisa makan dan duduk di sini,” ujarnya polos, semringah.
Tya mengusap sayang rambut Caca yang hari ini ingin dikepang cantik. “Di sini sejuknya dari AC. Makanya beda. Oh iya, punya kamu milonya enggak pakai es, soalnya kamu baru sembuh.”
Caca menyentuh sisi cup minuman yang diberikan Tya. “Enggak pakai es juga udah dingin milonya, Mbak. Woah, ini pesan makanannya banyak banget!” pekik Caca gembira, bertepuk tangan kecil.
“Sesekali. Jadi Mbak pesan banyak. Yuk, sebelum makan berdo’a dulu. Jangan sampai lupa bersyukur.”
Caca mengangguk, mengangkat kedua tangan. Berdo’a bersama dengan senyum lebar yang tak henti menghiasi wajahnya.
“Ayo, dimakan.” Tya belum mengambil secuil pun makanan yang dibelinya, ingin Caca lebih dulu memilih dengan bebas.
“Aku mau makan ayamnya dulu, Mbak.” Caca mengambil sepotong paha ayam. Kentara amat gembira ketika mulai mengunyah. “Sedapnya, ini enak banget. Wangi. Mau makan rotinya juga deh. Rotinya masih anget, ada dagingnya, pasti enak.”
“Makannya pelan-pelan, takut keselek.” Tya terkekeh melihat Caca makan lahap sampai ujung bibirnya belepotan. Sudah lama selera makan Caca anjlok dan hari ini nafsu makan Caca naik sangat signifikan sejak pagi membuat Tya merasa senang, pertanda kondisi Caca benar-benar sudah membaik.
“Aku kelihatan cantik sekali ya di foto ini? Pasti karena sebelahan sama Mbak yang cantik banget.” Caca bercicit ceria, menggulirkan jari di layar ponsel Tya sebelum beranjak pergi.
Tya tertawa kecil. “Kita pergi sekarang yuk, kan mau beli baju yang kamu mau. Cuaca juga udah mendung, nanti keburu hujan,” ajak Tya yang melongokkan kepala keluar.
“Ayo, Mbak. Tapi, beli bajunya pingin di Toko Berkah.”
“Di mana itu?” Tya mengerutkan kening sebab tak tahu lokasinya.
"Dari sini harus naik angkutan lagi, aku tahu kok jalannya. Pernah lihat pas pulang mulung. Enaknya naik bajay, soalnya tokonya agak masuk ke gang, tapi gede kok gangnya, Mbak.”
“Oke, kita berangkat.”
Tya tidak tahu, Toko Berkah yang dimaksud Caca adalah toko kain yang juga menjual kafan. Bukan toko pakaian. Pesan tersirat ucapan selamat tinggal yang tak terbaca. Dan di perjalanan membeli baju itulah kecelakaan terjadi.
Pak Sarif dan istrinya datang lagi ke rumah sakit, di pukul setengah delapan malam. Mereka langsung menuju ruangan Tya, tergopoh-gopoh entah membawa kabar apa. Langkah mereka terlihat darurat, dan tak lama berselang terlihat Marsha bersama Jerry muncul di rumah sakit mengekori Pak Sarif dan istrinya.
Bersambung.