Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 84



Sinful Angel Bab 84


Tya menyelesaikan ritual mandinya lebih cepat dari biasanya. Tak lupa mengambil air wudhu setelah memakai baju yang sama dengan sebelumnya terlebih dahulu. Tya sedikit berjengit ketika air dingin menyapa kulitnya tadi. Suhu air di sini lebih dingin dari air di kamar mandi rumah Bisma di Bandung. Pantas saja Bisma menggigil saat keluar dari kamar mandi.


Mukena dan sajadah sudah tersedia begitu Tya menyudahi kegiatan di kamar mandi. Di dalam kamar, seorang wanita bergamis coklat tua satu set dengan bergonya yang usianya di kisaran empat puluh tahunan, sedang menaruh selimut bersih ke atas kasur, masih terbungkus plastik dari tempat laundry. Tas berisi pakaiannya juga sudah berada di dalam kamar, sepertinya wanita itu juga yang membawanya masuk.


“Eh, Bu Bos. Maaf kalau saya lancang masuk. Beberapa menit yang lalu, Pak Bisma meminta saya menyiapkan mukena bersih, menyiapkan selimut bersih tambahan, juga membawa masuk tas berisi pakaian ganti Anda yang diturunkan dari bagasi. Saya istrinya mandor kebun teh milik Pak Bisma di sini.”


Tya agak kikuk, belum terbiasa dengan panggilan formal semacam itu. “Salam kenal Bu Mandor. Saya Tya,” sahut Tya sembari mengangguk sungkan.


“Panggil saja Teteh, Bu Bos. Silakan kalau mau solat. Mukenanya sudah disiapkan dan sajadahnya sudah digelar ke arah kiblat. Kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan panggil saya saja. Saya ada di halaman belakang, saya ditugaskan menemani Bu Bos sampai Pak Bisma kembali ke sini,” tuturnya menjelaskan.


“Lho, memangnya Mas Bisma pergi ke mana?” Tya yang semula berdiri mematung masih di area dekat pintu kamar mandi, memangkas jarak mendekat.


“Selesai solat asar tadi, Pak Bisma langsung berangkat pergi sama suami saya, sama mbak sekretaris dan Pak Hadi juga. Ada keperluan mendesak ke kantor desa. Mudah-mudahan yang kerja di sana belum pada pulang. Kata Pak Bisma tidak lama. Bu Bos cantik diminta menunggu di sini saja, istirahat saja katanya.”


“Terus, Mang Eko, maksudnya sopir yang tadi membawa saya ke sini di mana?” tanya Tya lebih lanjut.


“Pak sopirnya lagi ngopi hitam di depan. Biar tidak ngantuk katanya. Karena ba’da Asar sampai masuk waktu Magrib sebaiknya jangan tidur. Selain pamali seperti kata orang tua dulu-dulu, juga kurang baik buat kesehatan. Saya tinggal dulu ya, Bu Bos.”


Tya melirik jam di dinding begitu si istri mandor sudah keluar dari kamar. Jarum jam tertuju ke angka empat. Tya menaruh handuk bekas sembarang, segera mengganti pakaiannya dengan baju bersih dan gegas menunaikan solat Asar.


*****


Mobil Jeep yang dikemudikan mandor kebun kembali ke villa menjelang senja. Langit di ufuk Barat bersemburat warna jingga meski hanya tampak membias samar, terhalang mendung yang masih mendominasi langit.


Sementara itu, Tya sedang menghangatkan bubur kacang hijau di dapur villa, juga merebus wedang rempah jahe kering yang dibawanya guna menghangatkan badannya yang semakin terasa menggigil kala matahari mulai berpamitan ke peraduan angkasa.


“Poppy, Hadi. Sebaiknya kalian kembali ke Bandung besok siang saja. Selain masih ada beberapa berkas yang harus diurus dengan instansi di sini, pulang menjelang malam di cuaca begini kurang aman di perjalanan. Apalagi kalian sudah lelah seharian, terutama kamu, Poppy. Menginap saja di rumah mandor kebun, kamu juga sama, Hadi. Malam ini menginaplah di rumah mandor kebun. Karena aku ingin berdua saja dengan Istriku di sini.”


Poppy dan Hadi mengangguk patuh saat Bisma menyudahi kalimat. Memandangi punggung Bos mereka yang memasuki villa dengan langkah riang, berbeda dari biasanya.


“Hadi, Bu Tya dan Pak Bisma kayaknya memang sama-sama bucin akut ya? Bu Tya bahkan langsung meluncur ke sini dengan membawa obat seabrek dan nangis-nangis sepanjang perjalanan cuma gara-gara chat iseng dari bos kita,” kata Poppy yang terkikik geli sembari menggosok ujung hidungnya.


Hadi melirik si gadis manis berambut pendek sebahu yang masih terkikik di sampingnya.


“Ya, namanya juga pengantin baru. Lagi hangat-hangatnya ngebucin. Kelihatan manis kan? Mau coba cosplay pengantin enggak? Aku sih mau-mau saja jadi partner eksperimen,” celetuk Hadi yang memang mengandung maksud terselubung di dalamnya.


Poppy memelotot tajam. “Dih! Kurang kerjaan apa? Kepalaku udah puyeng ngurusin kerjaan, boro-boro sempat cosplay-cosplay. Partneran aja sana sama Mang Eko!” sebalnya, berderap meninggalkan Hadi menuju rumah mandor kebun yang letaknya tak terlalu jauh dari sana, berjarak beberapa ratus meter saja dari bangunan villa. Masih terlihat oleh mata.


"Sembarangan! Kamu kali yang mupeng!" serunya galak.


*****


“Tya … Tya … kamu di mana?” Bisma mencari-cari keberadaan Tya sebab di kamar istrinya itu tidak terlihat keberadaannya. “Tya, Sayang?” panggilnya lagi, lebih lantang bersama kaki yang mengayun ke area dapur.


“Aku di dapur, Mas,” sahut Tya saat mendengar suara yang memanggil.


Bisma mempercepat langkah. Benar saja Tya sedang berkutat di dapur, tengah menuang wedang ke dalam gelas. Bisma merangkul pinggang Tya dan mendaratkan kecupan sayang di pelipis Tya.


"Mana istri pak mandor?"


"Oh itu, barusan pamitan kembali ke rumahnya dulu, anaknya mau berangkat mengaji katanya."


“Terus, kenapa kamu malah di sini? Kenapa enggak istirahat? Perjalanan dari Bandung ke sini pasti bikin kamu capek kan?” cecar Bisma cemas, kemudian mengelusi lengan kanan Tya yang pernah cedera.


“Sama sekali enggak capek kok, Mas. Aku cuma angetin bubur kacang hijau yang kubawa sama bikin wedang rempah jahe, pakai jahe dan rempah kering yang kubeli di apotek. Di sini cuacanya dingin banget. Jadinya aku kepingin minum yang hangat-hangat.” Tya menunjuk panci kecil berisikan wedang yang masih mengepul, menguarkan aroma sedap.


“Kamu lagi kedinginan sekarang?” tanya Bisma.


“Iya, Mas. Di sini ternyata lebih dingin dari Puncak pusat kotanya. Mungkin karena datarannya lebih tinggi ya. Dari abis mandi dinginnya enggak berhenti.” Tya menggosok-gosok lengannya. Hawa dingin yang dirasakannya bukan bualan.


“Jadinya butuh yang hangat-hangat ya?” Bisma menaikkan alis seraya mengulum senyum. Mengeratkan rangkulan.


Tya mengganguk cepat. “Makanya aku bikin wedang ini. Tadinya aku memberli rempah ini buat seseorang yang katanya meriang,” ledek Tya dengan bibir mengerucut.


Tawa Bisma berderai renyah. “Karena sekarang kamu yang kedinginan, mau kubantu hangatkan enggak? Aku punya cara lain yang lebih ampuh menghangatkan badan dibanding wedang,” ujar Bisma dengan nada penuh arti.


Tya memicing sengit terbungkus gemas. Mencubit pinggang si pria yang merangkulnya mesra. “Mas jadi doyan modus terus deh sekarang. Ingat, bentar lagi Magrib!”


Bersambung.


Hai-hai para pembacaku tercinta. Makasih banyak sudah memberikan cinta dan sayangnya buat cerita Bisma dan Tya. Jangan lupa juga dukungan gift dan votenya ya, semoga kalian selalu sehat dan bahagia di manapun berada 🥰.


Thank you 💞