
Sinful Angel Bab 150
Tya sebetulnya belum terlelap saat Viona mengintip ke kamarnya tadi. Hanya meringkuk resah lantaran didera rindu berat pada sang suami, padahal mereka baru berpisah beberapa jam saja.
Efek dari usia kehamilan yang bertambah membuatnya sering merasa kegerahan. Pendingin ruangan sudah diatur dan disesuaikan senyaman mungkin, tetapi ternyata tak begitu berpengaruh. Tya tetap saja kesulitan memajamkan mata. Selain karena tidak ada daksa gagah favoritnya yang memeluk, Tya juga terganggu keringat yang menyelinap subur dari pori-pori kulit.
Akhirnya Tya memutuskan untuk mandi daripada tersiksa keringat yang terasa lengket di sekujur tubuhnya. Jika dibiarkan dipastikan ia akan sulit tertidur. Bukan hanya itu, Tya juga takut kurang percaya diri saat Bisma pulang nanti. Mengingat suaminya itu pasti rutin memesrainya dan menghidu setiap inci kulitnya sebelum tidur meski tidak selalu berujung peleburan penyatuan dua raga.
Tya masih asyik menikmati guyuran air hangat membasuh kulit. Uapnya mengepul berembun di udara. Belum menyadari Bisma masuk ke kamar mandi. Telinga dipenuhi bunyi gemericik air sehingga suara pintu kamar mandi yang didorong kasar luput dari pendengarannya.
Jakun Bisma naik turun. Rasa lapar di perutnya sirna, berganti lapar di bagian lain. Tepatnya pada bagian di bawah perut saat kemolekan Tya yang kini perutnya tampak menyembul memenuhi ruang pandang. Terhidang laksana hidangan lezat yang pasrah untuk disantap.
Daksa indah Tya kian berisi imbas dari kehamilannya, semakin aduhai dan seksi membangkitkan sisi primitifnya begitu mudah.
Bisma tidak ingat lagi dengan lelah yang mendera setelah menguras otak dan tenaga seharian. Semuanya tak berjejak terusir oleh sajian indah di depan mata. Mencipta gairah dahaga yang menuntut ingin dituntaskan rasa hausnya.
Sepasang lengan kekar melingkar menyentuh perut dan memerangkap. Tya memekik nyaris menjerit lantaran terkejut. Akan tetapi, cincin yang melingkar di jari manis tangan yang melingkupi perutnya itu amat dikenalinya, serupa dengan yang dipakainya.
“Ish, Mas. Ngagetin!” rajuknya setengah hati. Antara kesal juga senang saat sosok yang dinanti-nanti akhirnya pulang juga. “Sejak kapan pulang?”
Bisma tersenyum lebar, menumpukan dagu di pundak Tya. Mencium leher Tya sekilas, bergabung di bawah guyuran air.
“Aku baru sampai dan saat naik ke sini seseorang menyambutku dengan godaan, padahal aku sangat lelah,” ujarnya yang kemudian mendaratkan kecupan mesra di pundak Tya.
“Ih, enak aja. Aku bukan lagi ngegodain, tapi akhir-akhir ini aku sering kegerahan dan beberapa saat lalu juga begitu. Aku banjir keringat, jadinya mandi saja daripada susah tidur.”
“Kalau mau menggoda juga enggak apa-apa. Aku suka kalau kamu godain aku,” ucap Bisma tepat di leher Tya membuat Tya tekikik kegelian karena Bisma menyusuri lehernya dengan hidung juga jambangnya.
“Ish, Papa nakal!” Tya mencubit lengan Bisma yang direspons Bisma dengan kekehan renyah. “Tapi, kenapa pulangnya malam banget? tadinya aku mau nelepon, tapi takut Mas lagi nyetir. Berbahaya kalau pakai ponsel sambil mengemudi. Aku susah tidur kalau Mas enggak ada di kasur yang sama denganku. Hampir sejam aku nungguin Mas pulang di halaman. Sampai mondar-mandir kayak setrikaan, kalau lantainya bisa ngomong kayaknya bakal protes sama aku karena terus bolak-balik diinjekin!” Tya menggembungkan pipi, masih merajuk.
Bisma merapatkan diri, mengecup pipi Tya gemas. Tya yang sedang merajuk tampak lucu di matanya.
“Sorry, Sayang. Tapi bukannya aku sudah bilang kalau hari ini bakal pulang terlambat?”
Tya menggigit pipi bagian dalamnya. Baru teringat tadi siang sebelum berangkat lagi ke kantor suaminya ini sudah mengatakan kemungkinan pulang terlambat. Hanya saja imbas dari rindu berat membuatnya terlupa dan berakhir merajuk seperti sekarang.
“Memangnya Mas bilang kayak gitu? Kok aku enggak ingat ya?” ujarnya membela diri, gengsi kalau harus mengakui bahwa dirinya memang lupa.
Bisma menelengkan kepala sembari mengingat-ingat. “Atau aku lupa ya?”
“Kayaknya iya tuh. Mas lupa bilang sama aku.” Tya menukas dengan ekspresi tanpa dosa. Kemudian Tya teringat sesuatu. “Eh, tapi baju Mas jadi basah kalau peluk aku kayak gini.”
Tya menoleh, dan benar saja ia mendapati suaminya ternyata sudah tak memakai kain penghalang juga, sama seperti dirinya. Entah sejak kapan suaminya itu melucuti baju, tahu-tahu sudah urian saja.
“Kapan Mas buka baju?”
“Saat masuk ke sini. Seharian ini aku berkeringat dan sekarang aku juga kegerahan, butuh mandi,” bisiknya sensual ke telinga Tya.
“Sudah makan?”
“Belum,” sahut Bisma singkat yang sekarang tak tertarik lagi untuk makan sebab hidangan yang lebih lezat tersaji ranum di depan mata.
“Tuh kan, enggak ingat makan!” omel Tya terbungkus khawatir. “Kalau gitu lepasin dulu peluknya, aku selesaikan mandiku dulu. Aku cuma tinggal membilas saja. Supaya Mas mandinya leluasa, biar bisa cepat-cepat mengisi perut.”
“Tapi aku pinginnya mandi bareng sama kamu,” desis Bisma berat. Berbisik setengah menggeram ke telinga Tya. Tak melepaskan pelukan.
Bisma juga melabuhkan kecupan-kecupan panas di sepanjang belakang telinga Tya yang tentu saja sukses meremangkan sekujur tubuh wanita hamil itu. Bisma hafal betul titik-titik sensitif Tya, karena memang di situlah salah satu letak kelemahan istrinya dan dipastikan Tya takkan mampu menolak sentuhan suaminya yang selalu memuja, memanjakannya.
“Ta-tapi… Mas pasti lapar kan karena belum makan malam? Enghh….”
Tya mengerang tanpa sengaja, raganya menggeliat tak tenang. Karena sekarang bukan hanya mulut Bisma yang merajalela di tengkuknya, kedua tangan suaminya itu juga bergerilya menjamah titik-titik sensitif lainnya. Belum lagi hormon kehamilan yang merecoki menjadikan Tya mudah tersulut libidonya.
“Aku memang lapar, tapi laparku inginnya makan kamu sebagai menu pembuka, Sayang,” desah Bisma serak. Deru napasnya kacau tegerus hasrat. Bukti gairah Bisma yang telah menegang sempurna juga dapat dirasakan Tya.
Tubuh keduanya sudah sepenuhnya memanas. Selalu pas bereaksi saat berpadu bersama. Seumpama magnet dan bijih besi, langsung lengket setiap kali bersentuhan.
“Bagaimana kalau kita saling memandikan?” usul Bisma yang masih berusaha menguasai diri meski tak mudah. Mengingat ini di kamar mandi, dia khawatir Tya terpeleset jika kurang hati-hati.
"Cuma saling memandikan?" desah Tya tersengal.
"Ya, tapi setelah mandi Papa ingin mengunjungi bayi kita. Bolehkah Mama?"
Tanpa basa-basi, Tya membalikkan tubuh menghadap Bisma. Mengambil sabun sebagai jawaban dan mereka saling memandikan daksa masing-masing, saling menyabuni dengan tatapan berkabut. Mereka benar-benar hanya mandi meski disela-sela membilas tubuh bibir mereka sesekali saling mencuri kecupan.
Setelahnya bisa ditebak. Bisma menggendong Tya sembari menautkan bibir saat keluar dari kamar mandi, saling memagut hingga berakhir di atas ranjang. Barulah di peraduan keduanya menuntaskan dahaga masing-masing. Melebur penuh gelora. Memupuk dan menyirami pohon cinta mereka agar semakin bertumbuh subur dan berbunga. Hingga keduanya kembali bersimbah keringat, saling memeluk dengan napas terengah saat pemenuhan dahaga usai.
“Aku cinta kamu, Cintya. Sangat.”
Bersambung.