Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 67



Sinful Angel Bab 67


Menu buffet hotel pagi ini mengusung tema tradisional. Beberapa peserta seminar beserta panitia sebagian masih terlihat di restoran, tengah makan makan pagi. Sebagiannya lagi tidak tampak, dari informasi panitia kebanyakan langsung pulang semalam selepas acara pesta penutupan usai.


Bisma bertegur sapa dan bertukar kata dengan beberapa peserta seminar yang menyapa ketika sedang mengambil hidangan. Tya yang banyak menjawab, lantaran Bisma sempat mengerjap bingung saat ditanya tentang alasan ketidakhadirannya di pesta penutupan seminar.


“Suami saya semalam kurang enak badan. Jadinya agak manja, minta ditemani terus. Untuk itulah saya pun tidak bisa mewakili hadir di pesta penutupan.”


Begitulah jawaban Tya pada setiap pertanyaan. Beberapa orang ada yang bereaksi normal dan mengucapkan kalimat semoga sehat selalu, sedangkan beberapa sisanya terutama para istri pengusaha mengkerling penuh arti ketika melihat beberapa tanda cinta di leher Tya, yang sedikit mengintip dari balik tunik putih berkerah shanghai yang dipakai Tya. Yang dibalas Tya dengan kerling penuh percaya diri dan hal itu menarik beberapa istri pengusaha berbisik meminta tips khusus sebelum pergi agar suami mereka juga panas di ranjang.


Duduk berhadapan, keduanya fokus pada isi piring masing-masing. Selain karena menunya menggugah selera, lahapnya mereka bersantap juga disebabkan karena lapar berat.


Tak dipungkiri Bisma dan Tya memang kelaparan, sebab mereka melewatkan makan malam yang semula rencananya akan menghadiri makan malam bersama di acara penutupan pesta malah berakhir dengan saling mengisi rasa lapar lainnya di medan berbeda. Bukan di atas piring, melainkan di atas ranjang.


Bisma meneguk air mineral, membasuh mulut dan kerongkongannya setelah isi piringnya mendarat sempurna di lambung. Sejak terbangun, dia banyak menghindari bertemu pandang dengan Tya maupun memandang cantiknya Tya secara langsung.


Saat menyandarkan punggung sembari menikmati tegukan airnya, kedua mata Bisma tanpa disuruh menatap wanita yang duduk di depannya yang masih mengunyah dan menelan isi piringnya dan seketika dia terkesiap ketika Tya menelan dan arah pandangnya turun ke leher Tya. Sontak Bisma tersedak saat mendapati beberapa jejak merah samar di bawah sapuan bedak tipis mengintip di leher Tya ketika Tya menelan makanannya.


“Eh, minumnya pelan-pelan, Mas. Kan jadi keselek." Tya menaruh sendok dan garpu. Bangkit dari kursinya, ia mencondongkan tubuh dan menepuk-nepuk punggung Bisma.


Tersedaknya memang membaik, tetapi kemudian dia membeliak dan spontan pipinya ikut memanas saat jejak di leher Tya semakin terlihat jelas dari jarak yang sangat dekat, bertebaran cukup banyak, sudah pasti leher Tya berakhir bercorak-corak demikian akibat ulah bibirnya tadi malam.


Tya kembali duduk. Mengambil lagi peralatan makannya hendak melanjutkan bersantap. Namun, Tya urung menyendok isi piringnya saat mendapati reaksi Bisma sedang melebarkan mata setengah memelotot padanya.


“Kenapa lihatin aku kayak gitu, Mas?” tanya Tya keheranan. “Ada yang aneh? Apa bajuku kurang cocok atau kurang sopan?”


Tya menilik dirinya sendiri dan mengerutkan kening. Tunik longgar berlengan pendek dengan model kerah shanghai yang dipakainya terlihat baik-baik saja di matanya, tidak ada yang salah.


“Ehm, ehm. A-aku bukan lihatin kamu,” sanggah Bisma cepat. Padahal kenyataannya tidak demikian.


Kenapa Mas Bisma yang dewasa dan bersahaja jadi imut banget sih kalau salting gini? Padahal semalam udah manggilnya sayang-sayangan aja, batin Tya terkikik geli.


Bisma bukan remaja puber bahkan pernah menikah sebelumnya. Pria dewasa nan jantan ini ternyata begitu lugu dan salah tingkah saat melihat hasil lukisan bibir panasnya sendiri yang tercetak bertebaran manja di kulit leher jenjang Tya. Menandakan betapa bergairahnya dia saat mengusak seprai tadi malam.


“Oh, gitu ya? Kirain ngelihatin aku,” ujar Tya dengan tatapan sangsi, menggoda ingin menjahili.


“Iya, aku bukan lagi lihatin kamu, tapi lihat itu.” Bisma mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk restoran, di mana kebetulan di sana kini muncul pasangan biang kerok penyebab sempoyongannya Bisma kemarin. Kelihatannya sedang adu argumen, terlihat dari mulut Prita yang komat-kamit bersungut- sungut.


Melihat kemunculan sosok Prita, entah kenapa kepala Tya mendadak mendidih saat mengingat ucapan dari mulut si pegawai hotel, yaitu keterangan tentang pernyataan Prita yang mengaku-ngaku sebagai istrinya Bisma.


Instingnya sebagai istri tanpa disadari lambat laun bertumbuh dan tertanam dalam dirinya. Riak-riak cemburu mulai mengganggu. Laksana ratu singa yang merasa terusik teritorial singgasananya di sisi sang raja.


Tya bangun dari kursinya. Berpindah ke sisi Bisma dan bergelayut di sana. “Mas, boleh suapin enggak?” pintanya manis dan manja.


Bisma yang masih dilingkupi rasa canggung nyaris sesak napas saat Tya malah merapatkan diri padanya, membuatnya panas dingin dari ujung kaki sampai kepala.


“A-apa?” imbuhnya tak paham.


Tya mendekatkan wajah dan berbisik ke telinga Bisma. Memang hanya bisikan, tetapi napas hangat Tya yang mengelusi sisi daun telinganya menciptakan sensasi lain. Meremangkan seluruh bulu-bulu di tubuh Bisma.


“Mas, bukankah kita harus berakting harmonis dan manis saat mantan istrimu muncul? Jadi, ayo suapi aku,” bisik Tya yang kemudian kembali bergelayut dan merebahkan kepala di bahu Bisma, sembari menyibak rambutnya, sengaja ingin memamerkan tanda cinta lainnya pada Prita.


Prita yang akhirnya menyadari kehadiran si mantan suami yang begitu romantis dengan istri barunya di dalam restoran. Seketika wajahnya menggelap masam, akibat melihat pemandangan yang membuatnya makin merasa kesal hingga ke ubun-ubun setelah dipaksa menelan kegagalan bertubi-tubi.


Bersambung.